Ikuti Kami

Tiga Tokoh Menguak Takdir Ketidakpastian

Ketakutan, kalkulasi, dan pengorbanan yang berbaur di udara dingin malam itu adalah rahim tempat mentalitas sebuah negara merdeka ditempa

Tiga Tokoh Menguak Takdir Ketidakpastian
Sukarno dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan Indonesia

Di dalam perut pesawat militer bermesin ganda itu, kata-kata kehilangan maknanya. Deru baling-baling terlalu memekakkan telinga, memaksa tiga penumpangnya tenggelam dalam keheningan masing-masing.

Di ketinggian ribuan kaki di atas permukaan Laut China Selatan, lampu kabin dipadamkan total. Gelap yang pekat ini bukan tanpa alasan; langit Asia Tenggara pada malam itu adalah ladang pembantaian. Radar dan pesawat pemburu Sekutu berpatroli tanpa henti, mencari sisa-sisa armada Kekaisaran Jepang yang bisa dihancurkan.

Malam itu, 8 Agustus 1945, menjelang pergantian hari. Angin kemarau Jakarta yang membawa bau avtur dan ketegangan tertinggal di landasan pacu Lapangan Terbang Kemayoran. Di dalam lambung besi yang dingin tersebut, tidak ada kursi penumpang yang empuk. Hanya ada sabuk pengaman militer dan udara malam yang menusuk tulang.

Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat tidak sedang melawat sebagai tamu kehormatan kenegaraan. Mereka sedang menembus malam sebagai tawanan dari takdir sejarah, terbang menuju Dalat, Vietnam, memenuhi panggilan mendadak Saiko Shikikan Marsekal Terauchi.

Sang Singa Podium yang Terbungkam

Bagi Sukarno, kegelapan dan kebisingan kabin malam itu adalah sebuah siksaan psikologis yang ganjil. Ia adalah sang orator, manusia yang kekuatan utamanya terletak pada pita suara dan kemampuannya menyihir massa. Namun di dalam pesawat ini, senjata utamanya dilucuti oleh raungan mesin pesawat pengebom Jepang. Ia terpaksa diam.

Di dalam diamnya, pikiran Sukarno berpacu melawan waktu. Keputusannya menyanggupi panggilan Terauchi dua hari setelah bom atom meluluhlantakkan Hiroshima adalah sebuah pertaruhan nyawa dan reputasi. 

Sukarno tahu persis apa yang ia tinggalkan di Jakarta, bara api. Di sudut-sudut Asrama Menteng 31, para pemuda radikal sedang mengasah kemarahan. Bagi darah muda yang mendidih, kepergian Sukarno ke markas Jepang adalah bentuk ketundukan yang memalukan. Sukarno duduk di dalam pesawat itu dengan beban psikologis yang menghimpit dada. Ia terjepit di antara moncong bayonet Jepang yang belum menyerah dan amarah generasinya sendiri yang menuntut revolusi malam itu juga.

Dalam pekatnya kabin, Sukarno harus menata hatinya: Penerbangan ini harus menghasilkan sesuatu yang absolut. Jika tidak, kepulangannya ke Jakarta hanya akan disambut oleh pertumpahan darah saudara.

Benteng Logika di Tengah Krisis
Jika Sukarno adalah api yang sedang tertahan, Mohammad Hatta yang duduk tak jauh darinya adalah sebongkah es yang tak tergoyahkan. Guncangan pesawat yang menerjang turbulensi udara tak membuat pikiran rasionalnya goyah.

Hatta tidak membiarkan dirinya ditelan oleh ketakutan akan ditembak jatuh oleh Sekutu. Sebagai seorang ekonom, diplomat, dan ahli tata negara, otaknya bekerja layaknya papan catur. Ia sedang mengkalkulasi skenario terburuk dan terbaik yang akan terjadi di meja perundingan Dalat nanti.

Hatta menyadari bahwa Jepang sedang memegang kartu yang hancur, namun masih berpura-pura kuat. Ia memetakan argumen, tidak boleh ada kemerdekaan yang dicicil. 

Di benak Hatta, pertemuan dengan Terauchi nanti bukanlah sekadar seremonial menerima mandat, melainkan arena untuk mengunci hukum teritorial. Ia sedang menyiapkan kalimat-kalimat presisi untuk memastikan bahwa ketika palu diketuk, seluruh wilayah dari Sumatra hingga Maluku dan Papua sah diakui sebagai satu kesatuan Republik, bukan negara-negara kecil yang dipecah belah oleh faksi militer Jepang.

Dalam kebisingan yang memekakkan telinga itu, Hatta adalah benteng pertahanan logika bagi delegasi ini.

Ziarah Terakhir Sang Sesepuh
Di antara ketegangan dua arsitek muda republik tersebut, duduklah sosok yang usianya telah menginjak 66 tahun: dr. Radjiman Wedyodiningrat. Bagi seorang pria sepuh, terbang diam-diam dini hari buta menggunakan pesawat militer tanpa pemanas ruangan adalah sebuah penderitaan fisik yang luar biasa. Tulang-tulangnya harus menahan guncangan keras dan hawa dingin yang menggigit. Ia bisa saja menolak misi ini dengan alasan kesehatan. Namun, mantan Ketua BPUPKI ini memilih untuk ikut naik ke atas pesawat.

Secara psikologis, kehadiran Radjiman di dalam kabin itu berfungsi sebagai sauh spiritual. Ketika Sukarno dibebani oleh ekspektasi massa dan Hatta sibuk merajut rasionalitas politik, Radjiman hadir menyuntikkan kebijaksanaan historis. Wajahnya yang tenang di tengah gulita kabin memberikan semacam garansi batin bagi Sukarno dan Hatta bahwa apa yang mereka lakukan saat ini—meski penuh kompromi dan sangat berbahaya—adalah langkah yang benar.

Bagi sang sesepuh, perjalanan melintasi Singapura menuju dataran tinggi Vietnam ini adalah ziarah pungkasan dari perjuangan panjangnya melihat lahirnya sebuah bangsa merdeka. Ia tidak peduli jika pesawat ini jatuh; ia hanya peduli bahwa tugasnya mengawal embrio republik telah paripurna.

Sunyi yang Melahirkan Bangsa
Pesawat terus membelah keheningan di atas Laut China Selatan, meninggalkan Pulau Jawa yang semakin jauh di belakang. Tiga pria dengan tiga pergolakan batin yang berbeda itu disatukan oleh satu ketidakpastian. Mereka tidak saling bicara, namun mereka berbagi ketegangan yang sama. Tidak ada yang tahu apakah di ujung landasan pacu di Vietnam nanti mereka akan disambut dengan naskah kemerdekaan, atau justru dijebloskan ke dalam kamp tawanan.

Namun, dalam kebisuan di kabin pesawat militer Jepang pada 8 Agustus 1945 itu, sejarah sesungguhnya sedang ditulis. Ketakutan, kalkulasi, dan pengorbanan yang berbaur di udara dingin malam itu adalah rahim tempat mentalitas sebuah negara merdeka sedang ditempa, berpacu dengan takdir sebelum fajar menyingsing di ufuk timur.

Quote