Mengelabui Samurai, Strategi 3 Agustus Menghindari Pertumpahan Darah

Pada senja tanggal 3 Agustus itu, Soekarno dan Hatta tidak hanya sedang merancang sebuah negara. Mereka sedang meredam sebuah perang saudara
Senin, 03 Agustus 2026 05:08 WIB Jurnalis - Ananda Okctaviani

Batavia, awal Agustus 1945. Kota ini berbau pesing, karung goni, dan ketakutan. Di pinggir jalan, rakyat jelata yang kekurangan gizi tampak mengantre jatah beras yang tak kunjung tiba. Poster-poster propaganda Hakko Ichiu (Delapan Penjuru Dunia di Bawah Satu Atap) milik balatentara Dai Nippon mulai mengelupas dari dinding-dinding kusam gedung pemerintahan.

Bagi orang awam, Batavia hanyalah kota yang kelelahan akibat perang. Namun bagi para intelijen Kempeitai dan tokoh pergerakan, kota ini adalah sebuah tong mesiu yang sumbunya sudah menyala.

Di sebuah ruangan tertutup pada 3 Agustus 1945, tong mesiu itu sedang berusaha dijinakkan.

Bung Karno tidak sedang tersenyum hari itu. Ketegangan tergambar jelas di rahangnya yang mengeras. Sidang BPUPKI memang telah usai membawa kemenangan politis berupa draf Undang-Undang Dasar. Namun, Soekarno tahu, draf kertas tidak kebal terhadap peluru senapan Arisaka milik tentara Jepang.

Anak-anak muda di luar sana sudah kehilangan kesabaran, desah Soekarno, memecah kesunyian di antara tokoh-tokoh pergerakan yang hadir. Matanya menyapu ruangan. Mereka mendengar dari radio gelap bahwa Jepang bulan-bulanan Sekutu. Mereka mau merebut senjata. Mereka mau revolusi berdarah. Hari ini juga.

Baca juga :