Batavia, awal Agustus 1945. Kota ini berbau pesing, karung goni, dan ketakutan. Di pinggir jalan, rakyat jelata yang kekurangan gizi tampak mengantre jatah beras yang tak kunjung tiba. Poster-poster propaganda Hakko Ichiu (Delapan Penjuru Dunia di Bawah Satu Atap) milik balatentara Dai Nippon mulai mengelupas dari dinding-dinding kusam gedung pemerintahan.
Bagi orang awam, Batavia hanyalah kota yang kelelahan akibat perang. Namun bagi para intelijen Kempeitai dan tokoh pergerakan, kota ini adalah sebuah tong mesiu yang sumbunya sudah menyala.
Di sebuah ruangan tertutup pada 3 Agustus 1945, tong mesiu itu sedang berusaha dijinakkan.
Bung Karno tidak sedang tersenyum hari itu. Ketegangan tergambar jelas di rahangnya yang mengeras. Sidang BPUPKI memang telah usai membawa kemenangan politis berupa draf Undang-Undang Dasar. Namun, Soekarno tahu, draf kertas tidak kebal terhadap peluru senapan Arisaka milik tentara Jepang.
"Anak-anak muda di luar sana sudah kehilangan kesabaran," desah Soekarno, memecah kesunyian di antara tokoh-tokoh pergerakan yang hadir. Matanya menyapu ruangan. "Mereka mendengar dari radio gelap bahwa Jepang bulan-bulanan Sekutu. Mereka mau merebut senjata. Mereka mau revolusi berdarah. Hari ini juga."
Inilah inti dari konsolidasi 3 Agustus yang jarang dicatat tebal dalam buku sejarah: Rapat ini adalah manajemen krisis tingkat tinggi.
Di mata Soekarno dan Hatta, semangat membara kelompok pemuda radikal seperti Sukarni, Wikana, dan jaringan bawah tanah Sutan Sjahrir adalah pedang bermata dua. Jika para pemuda nekat menyerbu markas militer Jepang tanpa struktur komando dan tanpa negara yang sudah terbentuk sah, yang terjadi bukanlah proklamasi kemerdekaan, melainkan bunuh diri massal.
Tentara Angkatan Darat ke-16 Jepang di Jawa mungkin sedang terdesak di front Pasifik, namun di Batavia, mereka masih memiliki puluhan ribu serdadu bersenjata lengkap yang siap membantai siapa saja yang dianggap memberontak.
Papan Catur Mohammad Hatta
"Kita tidak boleh membiarkan darah rakyat tumpah sia-sia hanya demi heroisme sesaat," Mohammad Hatta menimpali dengan nada dinginnya yang khas. "Jepang sedang mencari alasan untuk mempertahankan status quo demi Sekutu. Kalau kita membuat kerusuhan, mereka akan menumpas kita dengan dalih menjaga ketertiban umum."
Hatta menyodorkan rasionalitas yang kejam namun menyelamatkan nyawa. Strategi mereka hari itu adalah "meminjam tangan" Jepang untuk kelancaran transisi. Mereka sepakat bahwa panitia transisi (yang kelak menjadi PPKI) harus segera dibentuk, seolah-olah itu adalah hadiah dari Jepang.
Padahal, dalam benak para bapak bangsa hari itu, panitia tersebut adalah "kuda Troya".
Begitu panitia ini terbentuk secara legal di mata Jepang, panitia inilah yang diam-diam akan mengoordinasikan peralihan loyalitas para bupati, camat (Sondang/Cudanco), dan perwira PETA (Pembela Tanah Air) di seluruh Jawa dan Sumatera, tanpa mencurigakan pihak Kempeitai.
"Biar sejarah kelak mencatat saya sebagai kolaborator fasis," Soekarno berkata pelan, nada suaranya memendam beban sejarah yang luar biasa berat. "Tugas saya sekarang adalah memayungi republik yang masih bayi ini. Biar saya yang tersenyum di depan Jenderal Terauchi, asalkan di belakangnya, saudara-saudara menyiapkan mesin birokrasi kita."
Detak Jam yang Memburu
Rapat konsolidasi itu berlangsung dengan pengawasan tak kasat mata. Mereka sadar bahwa tembok-tembok di Batavia "memiliki telinga". Setiap kata yang diucapkan harus ditimbang, setiap langkah harus dikalkulasi. Tokoh-tokoh dari berbagai faksi saling meyakinkan bahwa menunda letusan senjata bukan berarti pengecut, melainkan taktik perang yang paling rasional.
Mereka memetakan kekuatan. Siapa yang bisa mengontrol pegawai telegraf? Siapa yang bisa menenangkan barisan pelopor di kampung-kampung? Bagaimana cara memastikan para pangreh praja (pegawai negeri) pribumi siap membelot begitu kekuasaan berpindah?
Pada senja tanggal 3 Agustus itu, Soekarno dan Hatta tidak hanya sedang merancang sebuah negara. Mereka sedang meredam sebuah perang saudara, menyelamatkan ribuan nyawa pemuda dari berondongan senapan mesin, dan bermain sulap di depan mata penjajah yang beringas.
Tiga hari kemudian, langit Hiroshima terbakar oleh bom atom "Little Boy", membuktikan bahwa hitung-hitungan politis Soekarno dan Hatta pada 3 Agustus itu sepenuhnya benar: Kekuasaan Jepang pada akhirnya runtuh dengan sendirinya, dan berkat kerangka transisi yang mereka siapkan diam-diam di awal Agustus, Indonesia tidak hancur lebur bersamanya.

















































































