Menguji Nyali Tiga Bapak Bangsa di Kabin Pesawat Kargo Militer

Tepat di hari Sukarno dan Hatta menjejakkan kaki di Singapura, bom atom dijatuhkan di kota Nagasaki Jepang
Minggu, 09 Agustus 2026 04:41 WIB Jurnalis - Ali Imron

Coba bayangkan Anda berada di posisi mereka. Tanggal 9 Agustus 1945. Menjelang pukul 05.00 WIB, saat azan Subuh masih sayup-sayup terdengar, Anda melangkah naik ke lambung sebuah pesawat pengebom Jepang bermesin ganda yang sudah berbau avtur campur keringat.

Di dalam kabin bersuhu dingin dan minim penerangan itu, Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat tidak terbang sendirian. Bersama dengan rombongan ikut puladr. Suharto (dokter pribadi Sukarno), Letnan Kolonel Nomura, dan penerjemah Kapten Miyoshi, berangkat menuju Saigon, Vietnam.Penerbangan rahasia menuju Syonan-to (Singapura) ini adalah sebuah operasi berisiko tinggi yang dikawal ketat oleh Gunseikanbu. Karena pesawat kargo militer tersebut tidak memiliki fasilitas kursi yang mengikat kuat, guncangan itu membuat barang-barang bawaan berhamburan.

Para penumpang terhempas ke sana-kemari di dalam kabin yang pengap. Sebagai tamu VVIP Kekaisaran Jepang, pergerakan ketiga tokoh utama PPKI ini dijaga oleh Kolonel Nomura, seorang perwira tinggi yang menjadi perwakilan resmi Pemerintah Militer Jepang di Jawa. Di sisinya, duduk Letnan Kolonel Miyoshi, seorang perwira intelijen yang fasih berbahasa Indonesia dan bertindak sebagai penerjemah utama rombongan.

Tak hanya mereka berdua, di dalam lambung besi pesawat tua itu turut berdesakan sekitar 20 perwira dan prajurit pengawal Jepang yang bersenjata lengkap. Di ruang kokpit, pesawat dikendalikan oleh kru penerbang militer Angkatan Darat Jepang yang wajahnya memancarkan kelelahan kronis dari perang yang berkepanjangan. Total, lebih dari dua lusin nyawa berdesakan di dalam pedawat kargo militer yang using.

Beban pesawat itu sudah melampaui kapasitas idealnya. Di luar sana, cuaca sedang mengamuk. Badai dan kabut tebal perlahan membalut pesawat saat mereka melintasi Laut China Selatan, mencipta turbulensi yang membuat besi-besi tua lambung pesawat berderak, seolah siap rontok kapan saja.

Baca juga :