Ikuti Kami

Menguji Nyali Tiga Bapak Bangsa di Kabin Pesawat Kargo Militer

Tepat di hari Sukarno dan Hatta menjejakkan kaki di Singapura, bom atom dijatuhkan di kota Nagasaki Jepang

Menguji Nyali Tiga Bapak Bangsa di Kabin Pesawat Kargo Militer
Sukarno dan Hatta bertolak ke Dalat Vietnam dengan pesawat militer bekas

Coba bayangkan Anda berada di posisi mereka. Tanggal 9 Agustus 1945. Menjelang pukul 05.00 WIB, saat azan Subuh masih sayup-sayup terdengar, Anda melangkah naik ke lambung sebuah pesawat pengebom Jepang bermesin ganda yang sudah berbau avtur campur keringat.

Di dalam kabin bersuhu dingin dan minim penerangan itu, Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat tidak terbang sendirian. Bersama dengan rombongan ikut pula dr. Suharto (dokter pribadi Sukarno), Letnan Kolonel Nomura, dan penerjemah Kapten Miyoshi, berangkat menuju Saigon, Vietnam. Penerbangan rahasia menuju Syonan-to (Singapura) ini adalah sebuah operasi berisiko tinggi yang dikawal ketat oleh Gunseikanbu. Karena pesawat kargo militer tersebut tidak memiliki fasilitas kursi yang mengikat kuat, guncangan itu membuat barang-barang bawaan berhamburan. 

Para penumpang terhempas ke sana-kemari di dalam kabin yang pengap. Sebagai "tamu VVIP" Kekaisaran Jepang, pergerakan ketiga tokoh utama PPKI ini dijaga oleh Kolonel Nomura, seorang perwira tinggi yang menjadi perwakilan resmi Pemerintah Militer Jepang di Jawa. Di sisinya, duduk Letnan Kolonel Miyoshi, seorang perwira intelijen yang fasih berbahasa Indonesia dan bertindak sebagai penerjemah utama rombongan.

Tak hanya mereka berdua, di dalam lambung besi pesawat tua itu turut berdesakan sekitar 20 perwira dan prajurit pengawal Jepang yang bersenjata lengkap. Di ruang kokpit, pesawat dikendalikan oleh kru penerbang militer Angkatan Darat Jepang yang wajahnya memancarkan kelelahan kronis dari perang yang berkepanjangan. Total, lebih dari dua lusin nyawa berdesakan di dalam pedawat kargo militer yang using. 

Beban pesawat itu sudah melampaui kapasitas idealnya. Di luar sana, cuaca sedang mengamuk. Badai dan kabut tebal perlahan membalut pesawat saat mereka melintasi Laut China Selatan, mencipta turbulensi yang membuat besi-besi tua lambung pesawat berderak, seolah siap rontok kapan saja.

Dan yang lebih mengerikan, di balik awan tebal itu, pesawat tempur Sekutu bisa saja sedang membidikkan senapan mesin kaliber 50 milimeter tepat ke tangki bahan bakar di sayap pesawat yang sarat penumpang ini. Pada awalnya, pertemuan akan diadakan di Saigon, yang merupakan markas besar Jenderal Terauchi. Namun, karena saat itu Saigon sedang banjir, akhirnya pertemuan diadakan di Dalat.

Bau Kiamat yang Mengendap di Singapura
Ketika mereka transit di Syonan-to (nama Jepang untuk Singapura) pada 9 Agustus, suasana di sana tidak terasa seperti pangkalan militer yang sedang menang perang. Udara terasa pengap oleh kepanikan yang ditahan-tahan.

Tepat di hari Sukarno dan Hatta menjejakkan kaki di Singapura, pada pukul 11.02 waktu setempat, ribuan kilometer di utara sana langit Kota Nagasaki mendadak berubah menjadi neraka putih. Bom atom plutonium bermandi nama sandi "Fat Man" dijatuhkan dari perut pesawat B-29 Bockscar milik Amerika Serikat.

Daya ledak sebesar 21 kiloton TNT meluluhlantakkan lembah Nagasaki dalam sekejap mata. Diperkirakan antara 39.000 hingga 80.000 jiwa tewas (sebagian besar adalah warga sipil yang menguap seketika akibat panas ekstrem), belum termasuk puluhan ribu lainnya yang kelak gugur secara perlahan akibat radiasi nuklir.

Meskipun berita kiamat kecil itu disensor habis-habisan oleh pemerintah di Tokyo, bau kehancurannya perlahan merembes ke telinga para perwira tinggi di markas militer se-Asia Tenggara, termasuk Singapura.

Para opsir Jepang yang mengawal Sukarno hari itu, berwajah kuyu. Ada ketegangan psikologis yang pekat. Balatentara Kaisar yang tadinya congkak dan tak terkalahkan, tiba-tiba terlihat seperti raksasa yang kehabisan napas.

Insiden di Padang Rumput Saigon
Perjalanan dilanjutkan dari Singapura menuju Saigon menembus cuaca buruk. Guncangan hebat membuat rombongan kecil ini tak bisa lagi memikirkan politik; mereka hanya bisa pasrah pada hukum gravitasi.

Pilot Jepang tampaknya sama tertekannya dengan penumpang di belakang. Saking buruknya cuaca atau mungkin saking gugupnya sang pilot, pendaratan di Saigon nyaris berakhir dengan bencana. Pesawat itu menghantam tanah dengan sangat keras, bukan di aspal mulus, melainkan di lapangan terbuka.

Begitu kasarnya pendaratan itu, Sukarno melukiskannya dengan komedi satir yang getir: "Kami mendarat dengan keras di suatu lapangan terbuka dan hampir saja menubruk seekor kerbau. Barang-barang berserakan. Kami terhempas dan benjol-benjol. Pikiran kami sangat terguncang karenanya."

Bayangkan adegan itu. Tiga orang calon pendiri bangsa, yang beberapa hari lagi akan melahirkan negara terbesar di Asia Tenggara, tersungkur di dalam kabin pesawat kargo, nyaris mati gara-gara seekor kerbau di padang rumput Vietnam.

Bagi dr. Radjiman yang sudah berusia 66 tahun, benturan itu pasti sangat menyiksa. Ia bisa saja mengeluh, menuntut kompensasi atau pelayanan lebih baik dari militer Jepang. Namun sang dokter sepuh itu hanya merapikan kembali pakaiannya, duduk tegak, dan menenangkan kedua yuniornya. .

Sukarno tetap elegan
Di Saigon, sebelum melanjutkan perjalanan pamungkas ke Dalat pada 12 Agustus, Sukarno menunjukkan kepiawaiannya bermanuver. Sebagai seorang komunikator ulung, ia tahu betul ia sedang berhadapan dengan macan yang terluka.

Jika Sukarno menunjukkan raut wajah bahwa ia tahu Jepang sudah kalah, para jenderal fasis itu mungkin akan merasa terancam, membatalkan janji kemerdekaan, atau lebih buruk lagi: menawan mereka di Vietnam. Maka, Sukarno memasang "wajah" koperatif. Ia tersenyum kepada Kolonel Nomura, berbincang sewajarnya melalui Letkol Miyosi sang penerjemah, seolah-olah posisi Jepang masih kuat dan PPKI hanyalah anak manis yang patuh menunggu hadiah.

Sandiwara elegan di Saigon ini menyelamatkan misi mereka. Jepang merasa dihormati, sehingga Marsekal Terauchi pada akhirnya meloloskan janji kemerdekaan atas seluruh batas wilayah Hindia Belanda.

Perhentian di Singapura dan Saigon ini sering kali luput dari buku sejarah, tertutup oleh gemerlapnya proklamasi seminggu kemudian. Padahal, di atas tanah basah Saigon dan pengapnya Singapura itulah, nyali, integritas, dan kemampuan berakting para bapak bangsa kita diuji sampai batas terakhirnya. Mereka membuktikan bahwa kemerdekaan tidak selalu direbut dengan kokang senapan, tapi kadang lewat kesabaran menahan sakit dan kelihaian membaca mata musuh yang sedang sekarat.



 

Quote