Jakarta pada minggu pertama Agustus 1945 adalah kota yang dibungkam. Di permukaan, kehidupan berjalan di bawah kendali Gunseikanbu (Pemerintah Militer Jepang). Kereta-kereta listrik (trem) masih melintas di kawasan Glodok, dan para pedagang di Pasar Senen masih bertransaksi menggunakan uang pendudukan yang makin tidak berharga.
Namun di balik rutinitas itu, sebuah berita propaganda Jepang yang sengaja disembunyikan.
Pada tanggal 6 Agustus 1945, di ufuk timur, bom atom Little Boy telah menguapkan kota Hiroshima beserta puluhan ribu nyawanya. Tiga hari kemudian, tanggal 9 Agustus, Nagasaki menyusul hancur lebur. Kekaisaran Jepang lumpuh total. Mesin perangnya mati.
Anehnya, jika Anda membaca koran-koran propaganda yang beredar di Batavia (Jakarta) seperti Asia Raya atau mendengarkan siaran radio resmi pemerintah antara tanggal 6 hingga 14 Agustus, Anda tidak akan menemukan satu pun kata tentang kiamat nuklir tersebut. Rakyat Indonesia dipaksa hidup di dalam gelembung realitas palsu yang diciptakan oleh para arsitek informasi fasis.
Bagaimana kebohongan sebesar ini bisa dipelihara, bahkan ketika Kekaisaran Jepang tinggal menunggu waktu untuk runtuh? Jawabannya terletak pada mesin public relations militer yang beroperasi secara despotik: Kantor Berita Domei.