16 Agustus 1945, pukul 03.00 dini hari. Jakarta masih gelap. Rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 dalam keadaan heningatau setidaknya itulah yang diharapkan. Namun keheningan itu pecah ketika sekelompok pemuda muncul dari balik kegelapan.
Mereka adalah golongan mudaSukarni, Wikana, Chaerul Saleh, dan kawan-kawan. Malam sebelumnya, mereka telah mengadakan rapat di belakang Laboratorium Bakteriologi Eijkmann Institute di Pegangsaan 17. Keputusan bulat telah diambil: Soekarno dan Hatta harus dijauhkan dari pengaruh Jepang, dan proklamasi harus segera dilakukan.
Dalam buku Bung KarnoPenyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno menceritakan kepada Cindy Adams bagaimana para pemuda datang sambil mengancam. Sukarni tampil paling depan, disusul Wikana, dengan membawa kelewang telanjangsebuah pemandangan yang menunjukkan betapa gentingnya situasi malam itu.
Mobil yang dikemudikan oleh Iding telah menunggu. Dengan dikawal anggota PETA (Pembela Tanah Air), mereka membawa Soekarno, Hatta, Fatmawati, dan putra mereka yang masih bayi, Guntur. Perjalanan menuju Rengasdengklok, sebuah desa di Karawang, Jawa Barat, dimulai.
Para sejarawan menilai istilah penculikan tidak sepenuhnya tepat. Peristiwa ini lebih tepat dipahami sebagai upaya golongan muda mengamankan Soekarno-Hatta dari pengaruh Jepang agar proklamasi kemerdekaan dapat segera dilaksanakan tanpa campur tangan pihak pendudukan. Tujuan para pemuda bukan untuk menyakiti, melainkan memberi ruang agar keputusan tentang proklamasi benar-benar lahir atas kehendak bangsa Indonesia sendiri.