Ikuti Kami

Dari Dalat ke Rengasdengklok: Sebuah Rantai Peristiwa yang Tak Terhindarkan

Kalau dulu saya berkata, sebelum jagung berbuah Indonesia akan merdeka, sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka sebelum jagung

Dari Dalat ke Rengasdengklok: Sebuah Rantai Peristiwa yang Tak Terhindarkan
Golongan pemuda mendesak Sukarno agar segera memproklamasikan kemerdekaan pasca Jepang kalah perang

Babak 1 Janji di Dalat yang Menjadi Bumerang
12 Agustus 1945. Di sebuah kota perbukitan bernama Dalat, Vietnam Selatan, tiga tokoh bangsa Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat duduk berhadapan dengan Marsekal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara. Pertemuan ini adalah puncak dari perjalanan panjang yang dimulai sejak 9 Agustus, ketika ketiganya diterbangkan secara rahasia dari Jakarta menuju Saigon, kemudian ke Dalat.

Terauchi, yang saat itu sadar bahwa kekaisarannya sedang berada di ambang kehancuran bom atom telah meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki menyampaikan kabar yang selama ini dinanti: Pemerintah Jepang di Tokyo telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.Namun, kemerdekaan itu akan diberikan secara bertahap dan disarankan untuk diumumkan pada 24 Agustus 1945.

Ketika Soekarno bertanya kapan PPKI boleh mulai bekerja, Terauchi menjawab dengan kata-kata yang kelak menjadi legenda: "Terserah kepada tuan-tuan."

Pada permukaan, ini adalah kemenangan diplomasi. Namun di balik kata-kata Terauchi itu tersimpan bom waktu yang akan meledak dalam hitungan hari. Janji kemerdekaan dari Jepang yang oleh Soekarno dan Hatta dianggap sebagai mandat sah untuk bertindak melalui PPKI justru akan menjadi pemicu utama konflik dengan golongan muda yang menolak keras kemerdekaan sebagai "hadiah" dari penjajah.

Pulang dengan Kabar yang Berbeda
14 Agustus 1945. Pesawat pembom tua yang mengangkut rombongan Soekarno-Hatta mendarat di Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta. Di hadapan ribuan orang yang menyambut, Soekarno berpidato dengan penuh keyakinan:

"Kalau dulu saya berkata, sebelum jagung berbuah Indonesia akan merdeka, sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga."

Namun di balik sorak-sorai itu, sebuah kesenjangan informasi yang fatal telah terjadi.

Pada hari yang sama 14 Agustus 1945 Kaisar Hirohito secara resmi mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.Berita ini menyebar cepat ke Indonesia, khususnya melalui para pemuda yang bekerja di Kantor Berita Jepang (Domei) dan mendengarkan siaran radio BBC.

Sutan Sjahrir, yang telah memantau perkembangan politik global melalui siaran radio luar negeri secara rahasia, sudah mengetahui kekalahan Jepang sejak 10 Agustus 1945. Ketika Soekarno dan Hatta tiba di Jakarta, Sjahrir segera mendatangi Hatta dan membawa kabar yang mengguncang: Jepang telah kalah.

Benturan Dua Logika
Sjahrir mendesak Hatta agar proklamasi kemerdekaan jangan dilakukan oleh PPKI. Alasannya: Indonesia merdeka yang lahir melalui badan bentukan Jepang akan dicap oleh Sekutu sebagai "Indonesia buatan Jepang".Sebaiknya, Soekarno sendiri yang menyatakannya sebagai pemimpin rakyat, atas nama rakyat, melalui corong radio.

Hatta kemudian mengajak Sjahrir menemui Soekarno di Pegangsaan Timur 56. Namun di sinilah benturan dua logika terjadi.

Soekarno menolak usul Sjahrir. Sebagai Ketua PPKI badan yang baru saja disahkan oleh Terauchi di Dalat ia merasa tidak bisa bertindak sendiri dengan melewati badan yang ia pimpin. Baginya, proklamasi harus melalui prosedur yang sah dan terorganisasi. Ia ingin mendapat konfirmasi terlebih dahulu dari otoritas Jepang tentang kebenaran berita kekalahan tersebut.

Di sisi lain, golongan muda yang dipimpin oleh Chairul Saleh, Wikana, Sukarni, dan lainnya telah mengetahui bahwa Jepang benar-benar kalah.Mereka tidak mau menunggu. Mereka tidak mau kemerdekaan sebagai "hadiah". Mereka menginginkan kemerdekaan yang diambil, bukan diberikan.

Malam di Menteng 31 Ketika Kesabaran Habis
15 Agustus 1945, malam. Sekitar pukul 20.00, para pemuda berkumpul di belakang Laboratorium Bakteriologi Eijkmann Institute di Pegangsaan 17 markas yang kelak dikenal sebagai Menteng 31. Rapat yang dipimpin Chairul Saleh ini menghasilkan keputusan bulat. Pertama, mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Kedua, kemerdekaan tidak diproklamasikan melalui PPKI. Ketiga, mengutus Wikana, Darwis, dan Subadio untuk menemui Soekarno-Hatta. Keempat, membagi tugas kepada pemuda di seluruh Jakarta untuk merebut kekuasaan dari Jepang. 

Wikana, Darwis, dan Subadio segera mendatangi kediaman Soekarno di Pegangsaan Timur 56. Namun, Soekarno kembali menolak. Ia beralasan bahwa para anggota PPKI akan melaksanakan sidang keesokan harinya.

Penolakan ini menjadi titik akhir kesabaran golongan muda. Mereka kembali menggelar rapat di Asrama Baperpi di Jalan Cikini 71 dan mengambil keputusan dramatis: membawa Soekarno dan Hatta ke luar Jakarta.

Fajar di Rengasdengklok
16 Agustus 1945, pukul 04.00 dini hari. Di bawah komando Sukarni, Wikana, dan Chairul Saleh, sekelompok pemuda didukung oleh Shodanco Singgih dari PETA mendatangi kediaman Soekarno dan Hatta.

Dengan menggunakan mobil yang dikemudikan Iding, Soekarno, Hatta, Fatmawati, dan Guntur putra Soekarno yang masih bayi dibawa ke sebuah rumah milik Djiauw Kie Siong di Kampung Bojong, Rengasdengklok, Karawang.

Tujuan para pemuda sederhana namun tegas: menjauhkan Soekarno dan Hatta dari pengaruh Jepang, dan memaksa mereka memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan Jepang.

Di Balik Penculikan Ketika Janji Dalat Dibatalkan
Ironi besar terjadi pada hari yang sama, 16 Agustus 1945. Saat Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok, Mayor Jenderal Otoshi Nishimura kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang menerima perintah dari Tokyo: Jepang harus menjaga status quo dan tidak dapat memberi izin untuk mempersiapkan proklamasi kemerdekaan sebagaimana yang telah dijanjikan Terauchi di Dalat.

Janji Dalat yang menjadi dasar bagi Soekarno untuk bersikukuh pada PPKI secara resmi dibatalkan oleh Tokyo.

Ketika Soekarno dan Hatta mengetahui hal ini, mereka menyesali keputusan Jepang dan menyindir Nishimura: apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu?Mereka meminta agar Nishimura tidak menghalangi kerja PPKI dengan cara pura-pura tidak tahu.

Namun batas sudah terlampaui. Rengasdengklok telah terjadi. Sejarah tidak bisa diputar balik.

Di Rengasdengklok, terjadi negosiasi alot antara golongan tua dan muda. Soekarno dan Hatta tetap bergeming pada pendiriannya: proklamasi harus melalui PPKI.

Namun Ahmad Soebardjo yang mengetahui bahwa Soekarno-Hatta telah "diculik" segera bertindak sebagai penengah.Ia datang ke Rengasdengklok dan memberikan jaminan dengan taruhan nyawa: proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan esok hari, 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB.

Dengan jaminan itu, para pemuda akhirnya bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta. Mereka kembali ke Jakarta pada malam 16 Agustus 1945.

Epilog: Rantai yang Tak Terhindarkan
Perjalanan dari Dalat ke Rengasdengklok adalah sebuah rantai peristiwa yang tak terhindarkan.

Dalat memberi janji-janji kemerdekaan pada 24 Agustus melalui PPKI. Namun janji itu menjadi bumerang ketika berita kekalahan Jepang mengubah seluruh peta politik. Soekarno dan Hatta, yang masih berpijak pada prosedur Dalat, tidak bisa menerima kenyataan bahwa Jepang telah kalah. Sementara golongan muda, yang telah mengetahui kebenaran lebih dulu, tidak bisa menerima penundaan.

Rengasdengklok adalah klimaks dari ketegangan yang sudah berlangsung sejak 14 Agustus 1945.Ini adalah titik di mana prosedur bertabrakan dengan realitas, di mana kesabaran habis, dan di mana sejarah memilih jalannya sendiri.

Tanpa Dalat, mungkin tidak akan ada PPKI dan mungkin tidak akan ada perdebatan tentang prosedur. Tanpa kekalahan Jepang pada 14 Agustus, mungkin tidak akan ada desakan dari golongan muda. Tanpa Rengasdengklok, mungkin proklamasi baru terjadi pada 24 Agustus atau bahkan tidak pernah terjadi.

Namun sejarah berkata lain. Dalat, kekalahan Jepang, dan Rengasdengklok adalah mata rantai yang tak terpisahkan sebuah rangkaian peristiwa yang, meskipun penuh dengan ketegangan dan perbedaan, akhirnya mengantar Indonesia pada Proklamasi 17 Agustus 1945.

Quote