Malam itu, 15 Agustus 1945, udara Jakarta terasa lebih pekat dari biasanya. Jarum jam menunjuk sekitar pukul 22.00 WIB. Di sebuah rumah bernomor 56 di Jalan Pegangsaan Timur, kediaman Ir. Soekarno, masa depan bangsa Indonesia sedang dipertaruhkan. Kabar bahwa Kekaisaran Jepang telah bertekuk lutut tanpa syarat kepada Sekutu menyebar bak api di padang ilalang di kalangan pemuda bawah tanah. Bagi mereka, kekosongan kekuasaan (vacuum of power) ini adalah gerbang emas yang tak boleh ditutup lagi.
Di ruang tamu itu, bertemulah dua arus besar sejarah yang saling berbenturan. Di satu sisi, golongan tua yang diwakili oleh Soekarno dan Mohammad Hatta, berdiri teguh pada perhitungan kalkulatif yang cermat. Mereka memegang janji kemerdekaan lewat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan tidak ingin memancing pertumpahan darah yang sia-sia.
Di sisi lain, golongan muda yang dimotori oleh Chairul Saleh, Sukarni, dan Wikana, datang membawa darah yang mendidih. Bagi para pemuda, kemerdekaan haruslah direbut murni oleh tangan rakyat malam itu juga, bukan lahir sebagai "hadiah" dari tangan Jepang yang telah kalah.
Dialog malam itu bukanlah diskusi kenegaraan yang tertib, melainkan sebuah pertarungan emosi.
"Sekarang Bung, sekarang! Malam ini juga kita kobarkan revolusi!" desak Chairul Saleh, matanya menyala meyakinkan Bung Karno bahwa ribuan pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang.
Sukarni tak kalah berapi-api menyambung, "Kita harus segera merebut kekuasaan! Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami!".
Ujung Pisau Ultimatum
Soekarno tetap pada pendiriannya. Sebagai pemimpin, ia tahu bahwa memantik revolusi buta melawan bala tentara Jepang—yang diinstruksikan oleh Sekutu untuk menjaga status quo—sama saja dengan mengirim rakyat ke ladang pembantaian.
Merasa desakannya membentur tembok, Wikana melangkah maju. Dengan nada meninggi, ia melontarkan sebuah ancaman yang akan terpatri selamanya dalam buku sejarah:
"Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari."
Ruangan mendadak hening. Namun, keheningan itu hanya berlangsung sepersekian detik sebelum badai sesungguhnya pecah. Soekarno, yang biasanya mampu mengendalikan massa dengan retorikanya, kali ini kehilangan kesabarannya. Ancaman dari pemuda sebangsanya sendiri merobek harga dirinya.
Darahnya mendidih. Soekarno beranjak dari kursinya, melangkah cepat menghampiri Wikana. Ia mengangkat wajahnya, menunjuk ke arah lehernya sendiri, dan membentak dengan suara lantang yang menggetarkan seisi ruangan:
"Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!"
Wikana terperanjat. Nyalinya seketika ciut menerima ledakan amarah Soekarno. "Maksud kami bukan membunuh Bung, melainkan kami mau memperingatkan," jawab Wikana dengan nada ciut.
Realitas Dingin Hatta dan Tangis Tertahan Soekarno
Di tengah ketegangan yang memuncak, Mohammad Hatta yang sejak tadi mengamati, akhirnya memecah kebuntuan dengan nada bicaranya yang sedingin es. "Jepang adalah masa silam," kata Hatta memperingatkan. "Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini."
Hatta kemudian memberikan pukulan telak kepada para pemuda, "Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri? Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu?"
Setelah napasnya kembali teratur dan amarahnya perlahan surut, Soekarno kembali duduk. Kali ini, suaranya tak lagi menggelegar. Dengan nada lirih yang menyiratkan kedalaman beban kepemimpinannya, Soekarno membongkar alasan terkuatnya menolak desakan pemuda.
"Kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara Jepang!" ucap Soekarno. "Coba, apa yang bisa kau perlihatkan kepada saya? Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu? Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak? Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah
diproklamasikan?".
Dalam kelirihannya, tergambar tanggung jawab yang teramat berat. Soekarno bukanlah pengecut yang takut pada peluru; ia adalah seorang bapak bangsa yang gemetar membayangkan darah perempuan dan anak-anak tumpah sia-sia di jalanan Jakarta hanya karena arogansi satu malam. "Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri," pungkasnya tenang.
Malam itu, tidak ada titik temu. Perdebatan diakhiri dengan jalan buntu. Para pemuda yang dipenuhi kekecewaan akhirnya undur diri menembus kelamnya malam Jakarta. Namun, perdebatan di ruang tamu itu barulah babak pertama. Kekecewaan para tokoh pemuda yang mendesak Proklamasi tersebut menjadi pemicu dari sebuah skenario yang lebih nekat. Kurang dari dua belas jam kemudian, sejarah bergeser dari Pegangsaan Timur menuju sebuah kota kecil di sebelah timur Jakarta, Rengasdengklok.

















































































