Ikuti Kami

Malam Sahur di Rumah Maeda, Ketika Proklamasi Lahir di Bulan Suci Ramadhan

Penentuan tanggal 17 Agustus bukanlah kebetulan. Soekarno memiliki pertimbangan mendalam yang melampaui kalkulasi politik

Malam Sahur di Rumah Maeda, Ketika Proklamasi Lahir di Bulan Suci Ramadhan
Pengetikan naskah proklamasi bertepatan dengan malam sahur di bulan Ramadan

Pukul 02.00 dini hari. Jakarta masih gelap, tetapi rumah di Jalan Meiji Dori Nomor 1 terasa berbeda. Lampu-lampu di dalamnya menyala terang, menandakan bahwa sesuatu yang sangat penting sedang terjadi. Rumah itu bukan milik tokoh pergerakan, melainkan kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.

Di ruang makan lantai dasar, tiga orang duduk di sekeliling meja. Di luar ruangan itu, puluhan orang lainnya anggota PPKI dan para pemuda menunggu di serambi muka rumah. Namun di dalam ruang makan yang sunyi itu, hanya ada tiga orang yang memegang nasib bangsa di ujung pena: Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo.

Malam itu adalah malam ke-8 Ramadhan 1364 Hijriah. Rombongan para pendiri bangsa yang sejak pagi hari terjebak ketegangan di Rengasdengklok terpisah dari keluarga, belum makan seharian kini duduk di meja makan rumah seorang perwira Jepang, meracik kata-kata yang kelak menjadi nyawa sebuah bangsa. Di luar, para umat Islam tengah bersiap menyambut sahur di hari ke-9 puasa mereka. Namun bagi tiga orang ini, tidak ada waktu untuk istirahat. Sejarah tidak bisa menunggu.

Mengapa 17 Agustus? Pertimbangan Spiritual Sang Proklamator
Penentuan tanggal 17 Agustus bukanlah kebetulan. Soekarno memiliki pertimbangan mendalam yang melampaui kalkulasi politik.

Bagi Soekarno, angka 17 adalah angka yang suci. Dalam keyakinan Islam, Al-Qur'an diturunkan pada 17 Ramadhan sebuah malam yang penuh berkah. Jumlah rakaat dalam salat lima waktu juga berjumlah 17 rakaat. Pertimbangan ini semakin menguatkan keyakinan Soekarno bahwa tanggal 17 adalah waktu yang baik untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Tidak hanya itu, 17 Agustus 1945 bertepatan dengan hari Jumat sayyidul ayyam atau penghulu segala hari, yang dalam tradisi Islam dianggap sebagai hari utama yang penuh berkah. Dalam kalender Jawa, hari itu juga bertepatan dengan Jumat Legi sebuah hari yang dipercaya membawa makna kebaikan, kesucian, dan kebahagiaan.

Sebelum proklamasi, pada awal bulan Ramadhan 1945, Soekarno bahkan mengirim utusan untuk menemui Kiai Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Utusan itu diberi mandat untuk menanyakan hasil istikharah pemilihan waktu terbaik dari para ulama. Dari hasil istikharah, dipilihlah hari Jumat, 9 Ramadhan 1364 H, yang bertepatan dengan 17 Agustus 1945. Dua keutamaan waktu bertemu: hari Jumat (sayyidul ayyam) dan bulan Ramadhan (sayyidus syuhur), bulan paling utama dari bulan-bulan lain.

Sahur di Rumah Maeda, Roti, Telur, dan Ikan Sarden
Perumusan naskah proklamasi berlangsung hingga dini hari. Setelah berjam-jam bekerja meracik kata, mencoret, dan menyempurnakan naskah akhirnya selesai sekitar pukul 03.00 dini hari.

Saat itulah, dari luar rumah Maeda, terdengar suara yang menandakan waktu sahur bagi umat Islam yang akan berpuasa.

Mohammad Hatta kemudian menceritakan momen itu dalam autobiografinya:

"Sahur.... sahur!" terdengar suara dari luar rumah Maeda yang menunjukkan waktu untuk sahur bagi umat Islam yang akan berpuasa. Waktu itu bulan puasa. Sebelum pulang, aku masih dapat makan sahur di rumah Admiral Maeda. Karena tidak ada nasi, yang kumakan ialah roti, telur, dan ikan sarden, tetapi cukup mengenyangkan.

Satsuki Mishina, asisten rumah tangga Maeda dan satu-satunya perempuan di rumah tersebut, menyiapkan makanan itu. Roti, telur, dan ikan sarden menu sahur sederhana di tengah malam yang mencekam.

Di dapur rumah Maeda, hidangan lain juga disiapkan: nasi goreng. Sejak meninggalkan Rengasdengklok, para tokoh itu belum sempat makan. Kini, di waktu sahur, mereka akhirnya bisa menyantap makanan.

Hatta, Soekarno, Achmad Soebardjo, dan Sayuti Melik yang masih menyelesaikan pengetikan naskah proklamasi menyantap makan sahur bersama. Suasana santap sahur itu masih terasa seperti rapat; mereka tetap berdiskusi, salah satunya menentukan lokasi pembacaan proklamasi keesokan harinya.

Fajar 17 Agustus Di Antara Puasa dan Proklamasi
Setelah sahur, para tokoh bangsa itu berpamitan pulang. Hatta baru tidur setelah salat Subuh dan bangun sekitar pukul 08.30.

Sementara itu, Soekarno terbaring sakit. Ia terkena serangan malaria tertiana. Pada pagi hari 17 Agustus, sekitar pukul 08.00 kurang dua jam dari proklamasi Soekarno masih tertidur di rumahnya. Dokter pribadinya, dr. Soeharto, membangunkannya.

Meskipun saat itu bulan Ramadhan, Soekarno tidak berpuasa pada hari proklamasi. Bukan karena ia tidak ingin, melainkan karena sakit ia sedang terserang demam tinggi akibat malaria.

Sementara itu, sebagian besar rakyat Indonesia yang hadir di Pegangsaan Timur 56 pada pagi itu sedang menjalankan ibadah puasa. Mereka berdiri di bawah terik matahari, menengadahkan tangan ke langit, berdoa untuk keberkahan negeri ini.

Pada pukul 10.00, 17 Agustus 1945 hari Jumat, 9 Ramadhan 1364 Hijriah Soekarno membacakan teks proklamasi. Di serambi rumahnya, di tengah bulan suci, ia menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Makna Spiritual Kemerdekaan di Bulan yang Penuh Berkah
Proklamasi yang terjadi pada 9 Ramadhan 1364 H bukanlah kebetulan. Ia adalah hasil dari pertimbangan spiritual yang mendalam, yang melibatkan para ulama dan pemuka agama.

Ada beberapa lapis makna spiritual dari proklamasi di bulan Ramadhan:

Pertama, Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an petunjuk bagi umat manusia. Kemerdekaan, dalam pandangan para pendiri bangsa, adalah "petunjuk" baru bagi bangsa Indonesia untuk keluar dari kegelapan penjajahan menuju cahaya kemerdekaan.

Kedua, pada 9 Ramadhan, umat Islam berada di puncak ibadah puasa menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Dalam kondisi fisik yang paling rentan itulah, para pendiri bangsa dan rakyat yang hadir menunjukkan keteguhan iman dan perjuangan yang luar biasa.

Ketiga, hari Jumat adalah hari yang penuh berkah. Doa orang yang berpuasa di hari Jumat terlebih di bulan Ramadhan dipercaya akan dikabulkan. Pada hari itulah, di hadapan ribuan orang yang berpuasa, Soekarno membacakan teks proklamasi.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebutkan bahwa ada berkah Jumat dalam pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, yang juga bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.

Ketika Iman dan Perjuangan Bertemu
Setelah pembacaan teks proklamasi, Soekarno mengaku tidak ada upacara mengangkat gelas untuk merayakannya. Tidak ada pesta. Tidak ada perayaan mewah. Yang ada hanyalah sebuah pernyataan tegas: Indonesia merdeka.

Hari itu, hari kesembilan puasa Ramadhan. Para pendiri bangsa dan rakyat yang hadir mungkin kelelahan, mungkin lapar dan haus. Namun mereka telah menyaksikan lahirnya sebuah bangsa di bulan yang penuh berkah, di hari yang paling utama.

Sejarawan Bondan Kanumoyoso mencatat bahwa proklamasi terjadi "di bulan puasa juga tanpa biaya". Tidak ada kemewahan. Tidak ada gedung megah. Hanya sebuah teras rumah, bendera jahitan tangan Fatmawati, dan sebuah naskah yang dirumuskan di meja makan seorang perwira Jepang yang bersimpati, di tengah malam sahur.

17 Agustus 1945 bukan hanya hari kemerdekaan. Ia adalah hari di mana iman dan perjuangan bertemu sebuah pengingat bahwa kemerdekaan tidak hanya diraih dengan kekuatan fisik, tetapi juga dengan keyakinan spiritual yang mendalam.

Di ruang makan rumah Maeda, di atas kertas blocknote putih, di tengah sahur dengan roti dan ikan sarden, lahirlah sebuah bangsa. Dan di bulan Ramadhan, di hari Jumat yang penuh berkah, bangsa itu menyatakan kemerdekaannya kepada dunia.

Quote