Tahun 1945. Kekaisaran Jepang sedang terhuyung di ujung tanduk. Bom atom telah meluluhlantakkan Hiroshima pada 6 Agustus dan Nagasaki pada 9 Agustus. Namun di Indonesia sebuah negeri jajahan yang telah diduduki selama tiga setengah tahun, berita tentang keruntuhan sang penjajah masih menjadi rahasia yang dijaga mati-matian.
Jepang berupaya keras memperlambat penyebaran berita kekalahan mereka ke seluruh wilayah Asia yang masih mereka kuasai.Mereka tak ingin panik melanda pasukan dan wilayah jajahan sebelum strategi penyerahan diri kepada Sekutu benar-benar matang. Namun, mereka tidak memperhitungkan satu hal: celah terkecil dalam sistem komunikasi mereka.
Di tengah hiruk-pikuk perang yang memecah belah dunia, para pegawai Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) di Bandungyang bekerja di bawah pengawasan ketat Jepangmenemukan sebuah kelemahan fatal. Pesawat-pesawat penerima di Bandung tidak disegel.
Celah di DayeuhkolotKetika Telegram Tokyo Menyelinap
Di Dayeuhkolot, Bandung, berdiri Kantor Pusat PTT. Jepang, yang waspada terhadap gerakan bawah tanah, telah mengambil langkah-langkah pengamanan. Mereka memerintahkan pembuatan tanggul pengaman di sekeliling gedung.Kios telepon umum diubah menjadi tempat mikrofon yang dihubungkan dengan pengeras suara, dengan dalih untuk menyiarkan propaganda Jepang kapan saja diperlukan. Namun di balik itu semua, tujuan sebenarnya adalah mengisolasi para pegawai dan perangkat komunikasi agar tak ada informasi yang bocor.
Namun, para operator telepon dan telegraf PTT dapat mengetahui berita penyerahan itu. Jepang mungkin mengira mereka telah menutup semua celah. Mereka salah.