Srikandi di Balik Ikrar: Perempuan yang Mengguncang Kongres Pemuda

Tujuh ratus orang memadati ruangan, tetapi hanya 82 nama yang tercatat sebagai peserta resmi.
Kamis, 15 Oktober 2026 06:49 WIB Jurnalis - Ali Imron

Malam itu, 28 Oktober 1928, di Gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Batavia, sejarah sedang ditulis. Tujuh ratus orang memadati ruangan, tetapi hanya 82 nama yang tercatat sebagai peserta resmi. Di antara nama-nama itu, enam di antaranya adalah perempuan: Dien Pantouw, Emma Poeradiredja, Johanna Masdani Tumbuan, Nona Tumbel, Poernomowoelan, dan Siti Soendari. Mereka adalah minoritas di ruangan yang didominasi laki-laki, tetapi kehadiran mereka bukanlah kebetulan. Mereka datang dengan gagasan, keberanian, dan tekad untuk membuktikan bahwa perjuangan bangsa bukanlah milik satu jenis kelamin saja.

Sejarawan Universitas Padjajaran, Agung Nugroho, pernah berkata bahwa peran perempuan belum terlalu menonjol pada saat itu, dan itulah mengapa peristiwa tersebut cenderung disebut Sumpah Pemuda bukan Sumpah Pemudi. Namun, pernyataan ini tidak boleh disalahartikan sebagai ketiadaan kontribusi. Justru, di tengah sistem rapat umum yang memungkinkan setiap orang untuk berpidato, tiga dari enam perempuan itu naik ke mimbar dan menyuarakan gagasan-gagasan yang mengguncang batas-batas zamannya.

Poernomowoelan: Guru yang Membuka Kongres
Nona Poernomowoelan adalah pembicara pertama yang naik ke mimbar Kongres Pemuda II. Sebagai seorang guru yang aktif dalam Jong Java Bond dan perwakilan dari pemuda Taman Siswa, ia membuka prasarannya dengan sebuah pernyataan yang sederhana namun mendalam: usaha mencerdaskan bangsa harus disertai dengan usaha menciptakan suasana tertib dan disiplin dalam pendidikan.

Bagi Poernomowoelan, pendidikan bukanlah sekadar transfer pengetahuan. Ia berbicara tentang tucht en ordetata tertib dan keteraturansebagai dua faktor kunci dalam membentuk karakter bangsa. Ia juga menekankan bahwa anak-anak harus dididik untuk merdeka, yaitu diberi pengertian, bukan dipaksa atau diperintah. Dalam surat kabar Persatoean Indonesia tanggal 1 November 1928, gagasan Poernomowoelan tentang internaatsejenis asrama di mana anak-anak muda bisa bergaul, belajar, dan bekerja bersama setiap haritercatat sebagai usulan untuk membentuk persatuan bangsa.

Gagasan ini bukanlah sekadar teori pendidikan. Poernomowoelan melihat sekolah sebagai laboratorium persatuan, tempat anak-anak dari berbagai latar belakang bertemu dan belajar hidup bersama. Ia memahami bahwa persatuan tidak lahir dari dokumen semata, melainkan dari interaksi sehari-hari yang membentuk karakter dan loyalitas pada tanah air.

Baca juga :