Ikuti Kami

Srikandi di Balik Ikrar, Perempuan yang Mengguncang Kongres Pemuda

Di antara 82 peserta Sumpah Pemuda, terselip enam nama perempuan di dalamnya

Srikandi di Balik Ikrar, Perempuan yang Mengguncang Kongres Pemuda
Perempuan Indonesia adalah bagian dari

Malam itu, 28 Oktober 1928, di Gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Batavia, sejarah sedang ditulis. Tujuh ratus orang memadati ruangan, tetapi hanya 82 nama yang tercatat sebagai peserta resmi. Di antara nama-nama itu, enam di antaranya adalah perempuan: Dien Pantouw, Emma Poeradiredja, Johanna Masdani Tumbuan, Nona Tumbel, Poernomowoelan, dan Siti Soendari. Mereka adalah minoritas di ruangan yang didominasi laki-laki, tetapi kehadiran mereka bukanlah kebetulan. Mereka datang dengan gagasan, keberanian, dan tekad untuk membuktikan bahwa perjuangan bangsa bukanlah milik satu jenis kelamin saja.

Sejarawan Universitas Padjajaran, Agung Nugroho, pernah berkata bahwa peran perempuan "belum terlalu menonjol" pada saat itu, dan itulah mengapa peristiwa tersebut cenderung disebut "Sumpah Pemuda" bukan "Sumpah Pemudi". Namun, pernyataan ini tidak boleh disalahartikan sebagai ketiadaan kontribusi. Justru, di tengah sistem rapat umum yang memungkinkan setiap orang untuk berpidato, tiga dari enam perempuan itu naik ke mimbar dan menyuarakan gagasan-gagasan yang mengguncang batas-batas zamannya.

Poernomowoelan: Guru yang Membuka Kongres
Nona Poernomowoelan adalah pembicara pertama yang naik ke mimbar Kongres Pemuda II. Sebagai seorang guru yang aktif dalam Jong Java Bond dan perwakilan dari pemuda Taman Siswa, ia membuka prasarannya dengan sebuah pernyataan yang sederhana namun mendalam: usaha mencerdaskan bangsa harus disertai dengan usaha menciptakan suasana tertib dan disiplin dalam pendidikan.

Bagi Poernomowoelan, pendidikan bukanlah sekadar transfer pengetahuan. Ia berbicara tentang "tucht en orde"—tata tertib dan keteraturan—sebagai dua faktor kunci dalam membentuk karakter bangsa. Ia juga menekankan bahwa anak-anak harus dididik untuk merdeka, yaitu diberi pengertian, bukan dipaksa atau diperintah. Dalam surat kabar Persatoean Indonesia tanggal 1 November 1928, gagasan Poernomowoelan tentang "internaat"—sejenis asrama di mana anak-anak muda bisa bergaul, belajar, dan bekerja bersama setiap hari—tercatat sebagai usulan untuk membentuk persatuan bangsa.

Gagasan ini bukanlah sekadar teori pendidikan. Poernomowoelan melihat sekolah sebagai laboratorium persatuan, tempat anak-anak dari berbagai latar belakang bertemu dan belajar hidup bersama. Ia memahami bahwa persatuan tidak lahir dari dokumen semata, melainkan dari interaksi sehari-hari yang membentuk karakter dan loyalitas pada tanah air.

Siti Soendari: Cinta Tanah Air untuk Perempuan
Siti Soendari, adik bungsu dari dr. Soetomo, adalah perempuan yang telah lama menyuarakan gagasan-gagasan progresif jauh sebelum Kongres Pemuda II. Pada tahun 1912, ia menerbitkan majalah Wanito Sworo—sebuah majalah berbahasa dan beraksara Jawa yang menjadi corong bagi gagasan pendidikan perempuan dan kesetaraan gender. Dalam tulisan-tulisannya, Soendari secara konsisten mengangkat isu pendidikan perempuan dan ketimpangan gender, bahkan secara tegas mengkritik praktik poligami yang tidak adil terhadap perempuan.

Di Kongres Pemuda II, Siti Soendari berpidato pada sidang pertama, Sabtu 27 Oktober 1928. Ia berbicara dalam bahasa Belanda, dan Muhammad Yamin—yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Kongres—menerjemahkan pidatonya. Dalam pidatonya, Siti menekankan bahwa rasa cinta tanah air terutama pada wanita harus ditanamkan sejak kecil dan bukan untuk pria saja. Ia juga menyatakan bahwa pendidikan politik dan pendidikan umum harus diberikan tidak hanya kepada laki-laki, melainkan juga kepada perempuan, agar perempuan dapat turut serta dalam memuliakan negara.

Gagasan Siti Soendari ini bukanlah sekadar retorika. Ia adalah perempuan yang berhasil meraih gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) dari Universitas Leiden, Belanda, pada tahun 1934—sebuah prestasi yang luar biasa langka bagi perempuan pada masa itu. Setelah kemerdekaan, ia pernah menjabat sebagai direktur bank, membuktikan bahwa perempuan tidak hanya layak berbicara tentang cinta tanah air, tetapi juga mampu memimpin di dunia profesional.

Emma Poeradiredja: Dari Pembicaraan ke Perbuatan
Emma Poeradiredja adalah Ketua Cabang Bandung Jong Islamieten Bond yang aktif dalam berbagai organisasi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia telah hadir pada Kongres Pemuda I pada tahun 1926 sebagai wakil dari Jong Islamieten Bond, dan kemudian kembali hadir pada Kongres Pemuda II.

Di Kongres Pemuda II, Emma berpidato dengan pesan yang tajam: perempuan harus ikut andil dalam pergerakan, tidak hanya terlibat dalam pembicaraan, tetapi harus disertai dengan perbuatan. Ia menganjurkan kepada para wanita agar tidak hanya beretorika, tetapi harus terlibat aktif dalam pergerakan dengan perbuatan nyata.

Gagasan Emma bukanlah sekadar kata-kata. Pada April 1930, ia mendirikan organisasi Pasundan Istri (PASI) dan terpilih sebagai ketua umum. Organisasi ini bergerak di bidang pendidikan perempuan, pemberdayaan, dan pelestarian seni budaya daerah. Emma juga tercatat sebagai perempuan pertama yang duduk di Dewan Kota Bandung. Perjalanan hidupnya adalah bukti bahwa apa yang ia serukan di mimbar kongres—perbuatan nyata, bukan sekadar retorika—benar-benar ia jalankan.

Suwarni Pringgodigdo: Suara yang Tak Kenal Kompromi
Meskipun namanya tidak selalu muncul dalam daftar enam peserta yang tercatat, Suwarni Pringgodigdo adalah salah satu perempuan yang hadir dan aktif dalam Kongres Pemuda II. Ia adalah pendiri gerakan Istri Sedar, sebuah organisasi perempuan yang oleh sejarawan Susan Blackburn disebut sebagai "satu-satunya organisasi perempuan yang berani menerobos batasan gerak politik perempuan" pada masanya.

Suwarni sudah menunjukkan keberaniannya jauh sebelum kongres. Pada Kongres Pemuda Indonesia tahun 1927 di Bandung yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir, ia berdebat dengan Soekarno mengenai gaya pidato Bung Karno yang senang menggabungkan bahasa Belanda dengan bahasa Indonesia. Ia juga lantang menuntut perubahan, termasuk soal hak dan kemerdekaan perempuan di dalam pernikahan, dan menentang praktik poligami. Dalam Kongres Pemuda II, Suwarni menyampaikan pidato tentang "Kaum Buruh Perempuan Indonesia", membahas pekerjaan di luar rumah bagi sebagian golongan.

Pada Kongres Istri Sedar tahun 1932, Suwarni menyampaikan bahwa kaum perempuan Indonesia harus terjun dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional. Ia menggunakan kata-kata Sukarno, "perempuan Marhaen", untuk menyebut para anggota Istri Sedar. Baginya, kemerdekaan perempuan dan kemerdekaan bangsa adalah satu dan sama—tidak ada yang bisa dicapai tanpa yang lain. Setelah Indonesia merdeka, Suwarni menjadi anggota DPR pada tahun 1950–1955.

Johanna Masdani Tumbuan: Pembaca Ikrar
Johanna Masdani Tumbuan adalah perempuan asal Sulawesi Utara yang saat itu berusia 18 tahun. Ia merupakan perwakilan dari Jong Minahasa yang hadir dalam Kongres Pemuda II. Menurut beberapa sumber, Johanna adalah salah satu dari 10 orang yang membacakan naskah Sumpah Pemuda pada malam penutup 28 Oktober 1928. Ia kemudian aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan menerima berbagai penghargaan, termasuk Bintang Mahaputera Utama pada tahun 1998.

Johanna juga disebut sebagai pelopor penting dengan mengusulkan pembentukan Kongres Perempuan yang kemudian digelar pada Desember 1928. Kehadirannya di kongres—sebagai perempuan muda dari daerah yang jauh dari pusat kekuasaan Jawa—menegaskan bahwa persatuan Indonesia melampaui batas geografis dan gender.

Dolly Salim: Suara yang Menggema
Theodora Athia Salim, atau yang lebih dikenal sebagai Dolly Salim, adalah putri dari tokoh besar Agus Salim. Saat Kongres Pemuda II berlangsung, ia baru berusia 15 tahun. Dolly adalah pelantun pertama lagu "Indonesia Raya" pada Kongres Pemuda II, setelah W.R. Supratman membawakannya secara instrumental dengan biola.

Karena Kongres dijaga oleh polisi Belanda yang melarang penggunaan kata "merdeka", Dolly menyanyikan lagu tersebut dengan sedikit perubahan lirik, yaitu mengganti kata "merdeka" menjadi "mulia". Setelah Dolly menyanyikan lagu itu, tepuk tangan menggemuruh memenuhi gedung bersejarah itu. Sejak itu, namanya disebut-sebut sebagai penyanyi pertama lagu Indonesia Raya, dan pembukaan ataupun penutupan setiap kongres selalu menyanyikan lagu ini.

Saridjah Niung (Ibu Soed): Biola yang Mengiringi Sejarah
Saridjah Niung, yang lebih dikenal sebagai Ibu Soed, adalah seorang pemusik dan guru musik yang turut hadir dalam Kongres Pemuda II. Ia berperan penting dengan memainkan biola kedua, bersama W.R. Supratman, untuk memperdengarkan lagu Indonesia Raya dalam kongres tersebut.

Dalam buku Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi, Ibu Soed mengenang: "Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Hari untuk mengucapkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Dalam pertemuan-pertemuan Indonesia Muda, sudah biasalah kami menyanyikan lagu Indonesia Raya dan saya mengiringinya dengan gesekan biola. Akan tetapi, pada hari Sumpah Pemuda ini, untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya diperdengarkan kepada umum. Saya mengiringinya dengan biola, hanya instrumental saja karena lagunya tak boleh dinyanyikan. Tak dapat saya gambarkan perasaan bahagia, haru, dan bangga dalam diri saya. Berdiri menggesek biola, memainkan lagu Indonesia Raya."

Ibu Soed juga ikut menggalang dana untuk perhelatan Kongres Pemuda. Setelah kongres, ia aktif dalam Jong Indonesia atau Indonesia Muda, dan mulai menciptakan lagu-lagu yang lebih bernuansa perjuangan, seperti Tanah Airku dan Berkibarlah Benderaku.

Setelah Kongres: Kongres Perempuan Indonesia I
Kongres Pemuda II bukanlah akhir dari perjalanan. Justru, semangat Sumpah Pemuda menginspirasi lahirnya Kongres Perempuan Indonesia I pada 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta—hanya dua bulan setelah ikrar pemuda. Kongres ini diprakarsai oleh Ny. Sukonto (Wanita Utomo), Nyi Hadjar Dewantara (Wanita Taman Siswa), dan Nn. Sujatin Kartowijono (Putri Indonesia).

Sujatin Kartowijono sendiri adalah contoh menarik. Meskipun ia tidak hadir dalam Kongres Pemuda II karena berada di Yogyakarta, ia mengikuti jalannya sidang dari pemberitaan media massa dan kabar dari rekan-rekannya. Keberhasilan Sumpah Pemuda dalam menyatukan semangat nasionalisme para pemuda melahirkan gagasan dari Sujatin dan rekan-rekannya untuk menyelenggarakan kongres perempuan. Saat Kongres Perempuan I dilaksanakan, Sujatin masih berusia 21 tahun dan berprofesi sebagai guru muda. Ia menjadi pemimpin kongres dan berhasil membentuk PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia).

Sejarawan Amurwani Dwi Lestariningsih menegaskan bahwa Kongres Pemuda II menginspirasi para perempuan untuk membuat kongres perempuan karena kongres pemuda pada waktu itu fokusnya untuk membahas pergerakan pemuda dan tidak banyak membahas topik perempuan. Jadi, meskipun perempuan hadir di Kongres Pemuda II, ruang untuk membahas isu-isu spesifik perempuan masih terbatas. Namun, keterbatasan itu justru mendorong mereka untuk menciptakan ruang sendiri.

Epilog: Suara yang Tak Pernah Padam
Malam itu, 28 Oktober 1928, hanya enam perempuan yang tercatat hadir. Tiga di antaranya berpidato. Satu di antaranya menyanyikan lagu kebangsaan untuk pertama kalinya. Satu di antaranya memainkan biola yang mengiringi sejarah. Mereka semua adalah bagian dari sebuah momen yang mengubah sejarah Indonesia.

Namun, cerita tentang perempuan dalam Sumpah Pemuda bukanlah cerita tentang jumlah. Ia adalah cerita tentang keberanian untuk hadir di ruang yang tidak dirancang untuk mereka. Ia adalah cerita tentang gagasan-gagasan yang melampaui zamannya—tentang pendidikan yang demokratis, tentang cinta tanah air yang tidak mengenal gender, tentang perbuatan nyata yang menyertai kata-kata, dan tentang kemerdekaan yang tidak bisa dicapai setengah-setengah.

Siti Soendari, Emma Poeradiredja, Poernomowoelan, Suwarni Pringgodigdo, Johanna Masdani Tumbuan, Dien Pantouw, Nona Tumbel, Dolly Salim, Saridjah Niung, dan Sujatin Kartowijono—nama-nama ini mungkin tidak sepopuler Mohammad Yamin atau Soekarno. Tetapi mereka adalah bagian tak terpisahkan dari ikrar yang mengguncang sejarah. Mereka adalah bukti bahwa "putra dan putri Indonesia" dalam Sumpah Pemuda bukanlah frasa kosong. Perempuan Indonesia adalah bagian dari "satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa" itu—dan perjuangan mereka untuk diakui sebagai bagian setara dari bangsa ini baru saja dimulai.

Quote