Ikuti Kami

Di Balik Layar Sumpah Pemuda Persiapan yang Tak Terlihat

Sumpah Pemuda adalah buah dari persiapan panjang, perdebatan sengit, dan kerja keras yang tak kenal lelah.

Di Balik Layar Sumpah Pemuda Persiapan yang Tak Terlihat
Sumpah Pemuda adalah buah dari persiapan panjang, perdebatan sengit, dan kerja keras yang tak kenal lelah.

Bayangkan sebuah rumah indekos di Jalan Kramat Raya 106, Weltevreden, Batavia, pada suatu malam di bulan Agustus 1928. Di ruang makan yang sederhana, sekelompok pemuda duduk melingkar. Ada Soegondo Djojopoespito dari PPPI, Mohammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond, Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks Bond, dan beberapa lainnya. Mereka tidak sedang berbicara tentang kuliah atau pekerjaan. Mereka sedang merancang sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah kongres yang akan mengubah sejarah bangsa.

Malam itu bukanlah malam pertama mereka berkumpul. Sejak berbulan-bulan sebelumnya, para pemuda ini telah menggelar pertemuan demi pertemuan, menyusun strategi, membagi tugas, dan mengumpulkan dana. Sumpah Pemuda yang kita kenang setiap 28 Oktober bukanlah hasil dari sebuah malam yang ajaib. Ia adalah buah dari persiapan panjang, perdebatan sengit, dan kerja keras yang tak kenal lelah.

Kisah persiapan ini dimulai jauh sebelum tahun 1928. Pada tahun 1925, M. Tabrani berhasil mengadakan Konferensi Organisasi Pemuda Nasional Pertama di Jakarta, yang memutuskan untuk menggelar Kongres Pemuda Pertama pada 30 April–2 Mei 1926. Kongres itu, meskipun berhasil mempertemukan berbagai organisasi pemuda, belum menghasilkan keputusan konkret tentang persatuan. Namun, kegagalan itu tidak memadamkan semangat. Justru, ia menjadi pelajaran berharga.

Sebagai kelanjutannya, pada 20 Februari 1927, diadakan pertemuan lagi, tetapi pertemuan ini belum mencapai hasil yang final. Kegagalan demi kegagalan mulai menumpuk. Namun, para pemuda ini tidak menyerah. Mereka memahami bahwa persatuan tidak bisa dibangun dalam sehari. Ia membutuhkan proses, kesabaran, dan komitmen.

Pertemuan 3 Mei 1928: Inisiasi PPPI
Titik balik terjadi pada 3 Mei 1928. Atas inisiatif Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI)—sebuah organisasi yang beranggotakan pelajar dari seluruh Hindia Belanda—diadakan pertemuan di Clubgebouw, Jalan Kramat Raya. Pertemuan ini menjadi awal dari penyusunan rencana pelaksanaan Kongres Pemuda Kedua.

Dalam pertemuan itu, para pemuda membahas hal-hal yang sangat mendasar: pembentukan panitia, susunan acara kongres, waktu, tempat, dan biaya. Mereka tidak hanya berbicara tentang cita-cita besar. Mereka berbicara tentang hal-hal praktis yang menentukan apakah cita-cita itu bisa terwujud atau tidak. Berapa biaya yang dibutuhkan? Di mana kongres akan digelar? Siapa yang akan menjadi ketua? Bagaimana acara akan disusun?

Pertemuan 3 Mei 1928 adalah fondasi pertama dari Kongres Pemuda Kedua. Namun, fondasi itu belum cukup. Masih dibutuhkan pertemuan-pertemuan lanjutan untuk mematangkan rencana.

Pertemuan 12 Agustus 1928: Panitia Terbentuk
Pertemuan paling krusial terjadi pada 12 Agustus 1928. Dalam pertemuan ini, para pemuda dari berbagai organisasi kembali berkumpul. Perwakilan semua organisasi pemuda hadir, dan mereka memutuskan untuk mengadakan kongres pada bulan Oktober 1928.

Dalam pertemuan ini pula, dibentuk panitia kongres dengan susunan yang mencerminkan keseimbangan dan keadilan di antara semua organisasi yang terlibat. Keputusan itu diambil secara musyawarah, sehingga tersusun merata dan adil, mengakomodasi semua daerah, golongan, dan organisasi.

Susunan panitia Kongres Pemuda Kedua adalah sebagai berikut:

Ketua: Sugondo Djojopuspito (PPPI)

Wakil Ketua: R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)

Sekretaris: Muhammad Yamin (Jong Sumatranen Bond)

Bendahara: Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond)

Pembantu I: Johan Mohammad Cai (Jong Islamieten Bond)

Pembantu II: R. Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia)

Pembantu III: R.C.L. Sendoek (Jong Celebes)

Pembantu IV: Johannes Leimena (Jong Ambon)

Pembantu V: Mohammad Rochjani Su’ud (Pemoeda Kaoem Betawi)

Susunan ini bukanlah sekadar daftar nama. Ia adalah pernyataan politik yang cerdas. Setiap organisasi—baik yang berbasis kedaerahan, agama, maupun kebangsaan—mendapatkan kursi di panitia. Tidak ada organisasi yang rangkap jabatan. Ini adalah cara para pemuda itu untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa dikesampingkan. Dalam sebuah kongres di mana setiap organisasi memiliki ego dan kepentingannya sendiri, keputusan untuk membagi jabatan secara adil adalah tindakan kenegarawanan yang luar biasa.

Persiapan Teknis: Waktu, Tempat, dan Biaya
Setelah panitia terbentuk, pekerjaan berikutnya adalah persiapan teknis. Panitia menyepakati waktu, tempat, dan anggaran untuk pelaksanaan kongres.

Waktu yang disepakati adalah 27–28 Oktober 1928, selama satu hari dua malam. Tempat-nya bukan satu gedung, melainkan tiga gedung berbeda: Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Oost Java Bioscoop, dan Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106. Keputusan untuk menggunakan tiga gedung ini diambil atas inisiatif PPPI, yang ingin memastikan bahwa kongres dapat berlangsung dengan lancar tanpa menimbulkan kecurigaan berlebihan dari pemerintah kolonial.

Biaya yang dibutuhkan diperkirakan mencapai f 250,- (dua ratus lima puluh gulden). Jumlah ini akan digunakan untuk sewa tempat, sosialisasi, dan akomodasi. Namun, ada satu hal yang membuat persiapan ini begitu istimewa: biaya tersebut tidak ditanggung oleh satu pihak saja, melainkan oleh sekitar tujuh organisasi peserta. Setiap organisasi yang ikut serta diharuskan membayar f 35,- (tiga puluh lima gulden). Sumbangan sukarela dari pihak lain juga diterima, asal tidak mengikat.

Keputusan untuk menanggung biaya secara swadaya adalah cerminan semangat mandiri dan gotong royong yang kuat di kalangan generasi muda kala itu. Mereka tidak ingin bergantung pada belas kasihan siapa pun. Mereka ingin membuktikan bahwa persatuan bisa dibangun dengan kekuatan sendiri.

Persiapan yang Tak Terlihat: R. Soeharto dan Suasana di Kramat 106
Di balik nama-nama besar seperti Soegondo dan Yamin, ada banyak pemuda yang bekerja tanpa banyak dikenal. Salah satunya adalah R. Soeharto—yang kemudian menjadi dokter pribadi Presiden Soekarno. Dalam kesaksiannya, ia menggambarkan suasana menjelang rapat ketiga Kongres Pemuda Kedua:

"Pada tanggal 28 Oktober 1928 di pagi hari di gedung Indonesische Clubgebouw sebelum kongres pemuda kedua babak ketiga dimulai, seperti biasanya para pemuda yang aktif dalam kegiatan di gedung itu berkumpul di ruang makan untuk menikmati sarapan pagi. Tapi tak seperti biasanya, tak ada diskusi serius atau canda dari para penghuni Indonesische Clubgebouw di jalan Kramat Raya 106 Jakarta. Adenan Kapau Gani mahasiswa dari Minang kehilangan obrolan segarnya... Pada minggu pagi itu, suasananya menjadi lain. Hampir semua pemuda yang ada di gedung itu tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka serius memikirkan kegiatan kongres yang akan digelar di tempat tersebut."

Kesaksian ini adalah jendela ke dalam persiapan yang tak terlihat. Di balik pidato-pidato yang menggelegar dan ikrar yang mengguncang, ada malam-malam panjang tanpa tidur, perdebatan yang melelahkan, dan kecemasan tentang apakah semua ini akan berhasil. Para pemuda itu bukanlah pahlawan tanpa rasa takut. Mereka adalah manusia biasa yang berani menghadapi ketidakpastian.

Sosialisasi dan Penggalangan Dana
Panitia tidak hanya bekerja di ruang rapat. Untuk memastikan kongres berjalan sukses, mereka membentuk tim di beberapa tempat yang bertugas bekerja sama untuk keperluan kongres dan mengumpulkan dana. Mereka juga meminta perkumpulan pemuda lainnya untuk bekerja sama atau mendukung kongres pemuda kedua.

Sosialisasi ini penting bukan hanya untuk mengumpulkan dana, tetapi juga untuk membangun legitimasi. Kongres Pemuda Kedua bukanlah kongresnya PPPI atau Jong Java atau Jong Sumatranen Bond. Ia adalah kongres semua pemuda Indonesia. Oleh karena itu, dukungan dari sebanyak mungkin organisasi—bahkan yang tidak hadir sebagai peserta—menjadi kunci keberhasilan.

Di antara semua tokoh yang terlibat dalam persiapan, satu nama berdiri paling menonjol: Soegondo Djojopoespito. Ketika jabatan ketua panitia ditawarkan kepada Abdoellah Sigit, ia menolaknya karena khawatir akan risiko tindakan dari Pemerintah Kolonial. Namun, Soegondo dengan berani menyanggupi dan memimpin Kongres Pemuda II, meskipun ia sadar bahwa ia berisiko dipecat dari Sekolah Tinggi Hukum (RHS).

Keberanian Soegondo bukanlah keberanian yang mencari panggung. Ia adalah keberanian yang tenang. Sebagai ketua, ia harus memastikan bahwa kongres berjalan lancar, bahwa semua organisasi merasa terwakili, dan bahwa tidak ada provokasi yang bisa dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial untuk membubarkan acara. Ia adalah pemimpin yang mengatur dari belakang, bukan yang menonjolkan diri di depan.

Epilog: Persiapan yang Menempa Persatuan
Pada malam 28 Oktober 1928, ketika Soegondo Djojopoespito membacakan keputusan kongres dan Raden Soerjadi memimpin pengucapan ikrar, semua persiapan itu berbuah. Sumpah Pemuda yang lahir malam itu bukanlah hasil dari sebuah keajaiban. Ia adalah hasil dari lima bulan persiapan intensif, dari pertemuan demi pertemuan, dari perdebatan tentang siapa yang akan duduk di kursi ketua, dari hitung-hitungan biaya sebesar f 250, dari kerja sama tujuh organisasi yang masing-masing menyumbang f 35.

Para pemuda itu tidak hanya bermimpi tentang persatuan. Mereka bekerja untuk mewujudkannya. Mereka menyusun panitia, menentukan waktu, memilih tempat, mengumpulkan dana, dan mensosialisasikan kongres. Mereka melakukan hal-hal kecil yang membosankan—rapat, negosiasi, kompromi—karena mereka tahu bahwa hal-hal kecil itulah yang membuat mimpi besar menjadi kenyataan.

Sumpah Pemuda adalah puncak gunung es. Di bawahnya, ada persiapan panjang yang tak terlihat oleh sejarah populer. Namun, tanpa persiapan itu, tidak akan ada ikrar yang mengguncang dunia. Para pemuda itu membuktikan bahwa persatuan bukanlah hasil dari pidato, melainkan hasil dari kerja keras, kompromi, dan keberanian untuk mengambil risiko.

Quote