Karhutla dan Malaysia: Dilema Modal di Balik Asap

Oleh: Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.
Sabtu, 17 Oktober 2026 18:03 WIB Jurnalis - Syahrul Arsyad

Jakarta, Gesuri.id - Setiap musim kemarau panjang, langit di Kuala Lumpur, Selangor, dan Johor berubah kelabu. Sekolah diliburkan, warga memakai masker, dan indeks pencemaran udara melonjak ke level tidak sehat. Di ruang sidang parlemen Malaysia, saat pembahasan anggaran negara, seorang anggota dewan dari daerah Muar, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman menyebut kabut asap sebagai isu lingkungan yang lama diabaikan.

Ia menyoroti dampaknya pada pendidikan anak-anak dari keluarga miskin, yang tak punya laptop atau internet memadai untuk belajar daring ketika sekolah tutup.Ia lalu mengusulkan tiga langkah: nota protes diplomatik bersama ASEAN, tekanan finansial lewat bank-bank besar Malaysia dan Singapura, serta boikot konsumen. Ada satu kalimat Syed Saddiq yang tak boleh kita abaikan: jangan ragu menindak perusahaan Malaysia sendiri bila terlibat.

Sebagai orang Indonesia, tentu saja, tersinggung dengan pernyataan Syed Saddiq yang memprovokasi ASEAN agar mengucilkan negeri kita gegara Karhutla. Meski demikian, kita patut merenung, salahkah ucapan Syed Saddiq di atas? Bayangkan bila kita berada di posisi dia, wakil rakyat Malaysia yang harus memadamkan amarah konstituennya akibat Karhutla mungkin kita pun berbuat seperti itu.

Terlepas dari rasa ketersinggungan tadi, bila kita bereaksi secara defensif untuk membela diri, Karhutla tak akan dengan sendirinya padam. Karena itu, lebih jujur dan lebih berguna bila kita mempertanyakan pernyataan Syed Saddiq: siapa sebenarnya yang membakar, dan siapa yang membiayai?

*Api di Tanah Kita, Tanggung Jawab Kita*

Baca juga :