Menolak Bahasa Belanda, Menolak Melayu: Keberanian Tabrani Menemukan "Indonesia"

​Bagi Tabrani, penamaan bukan sekadar urusan tata bahasa atau teknis komunikasi semata.
Kamis, 15 Oktober 2026 17:00 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - ​Di tengah himpitan rezim kolonial Hindia Belanda yang serba membatasi, muncul anak-anak muda dengan nyali intelektual yang luar biasa. Tahun 1926 menjadi saksi tatkala sejarah bangsa ini berbelok ke arah yang jauh lebih progresif.

Di tengah ketiadaan kepastian masa depan berbangsa, Mohammad Tabrani melangkah ke depan dan memimpin Kongres Pemuda I di Batavia.

​Lahir di Pamekasan, Madura, pada 1904, Tabrani bukanlah pemuda biasa yang sekadar ikut arus zaman. Sebagai wartawan muda yang tajam dan berani, ia memahami betul kekuatan narasi serta identitas. Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, ia sudah memikul tanggung jawab besar sebagai Ketua Kongres Pemuda I sebuah forum pergerakan yang mempertemukan berbagai organisasi pemuda kedaerahan.

​Kongres Pemuda I menjadi ajang krusial untuk merajut konsolidasi gagasan antar-etnis di Nusantara. Namun, perselisihan gagasan paling tajam justru meletus saat membahas bahasa persatuan yang akan menjadi perekat identitas nasional. Di sinilah keberanian intelektual Tabrani diuji di hadapan para senior dan pemikir besar sezamannya.

​Saat itu, tokoh kawakan seperti Mohammad Yamin mengusulkan agar Bahasa Melayu ditetapkan sebagai bahasa persatuan. Yamin berargumen berbasis sejarah, literatur, serta kepraktisan lingual yang sudah mengakar di kepulauan Nusantara. Secara logis, pilihan Yamin sangat masuk akal dan didukung oleh mayoritas peserta kongres.

Baca juga :