Ikuti Kami

Menolak Bahasa Belanda, Menolak Melayu: Keberanian Tabrani Menemukan "Indonesia"

​Bagi Tabrani, penamaan bukan sekadar urusan tata bahasa atau teknis komunikasi semata.

Menolak Bahasa Belanda, Menolak Melayu: Keberanian Tabrani Menemukan

Jakarta, Gesuri.id - ​Di tengah himpitan rezim kolonial Hindia Belanda yang serba membatasi, muncul anak-anak muda dengan nyali intelektual yang luar biasa. Tahun 1926 menjadi saksi tatkala sejarah bangsa ini berbelok ke arah yang jauh lebih progresif. 

Di tengah ketiadaan kepastian masa depan berbangsa, Mohammad Tabrani melangkah ke depan dan memimpin Kongres Pemuda I di Batavia.

​Lahir di Pamekasan, Madura, pada 1904, Tabrani bukanlah pemuda biasa yang sekadar ikut arus zaman. Sebagai wartawan muda yang tajam dan berani, ia memahami betul kekuatan narasi serta identitas. Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, ia sudah memikul tanggung jawab besar sebagai Ketua Kongres Pemuda I sebuah forum pergerakan yang mempertemukan berbagai organisasi pemuda kedaerahan.

​Kongres Pemuda I menjadi ajang krusial untuk merajut konsolidasi gagasan antar-etnis di Nusantara. Namun, perselisihan gagasan paling tajam justru meletus saat membahas bahasa persatuan yang akan menjadi perekat identitas nasional. Di sinilah keberanian intelektual Tabrani diuji di hadapan para senior dan pemikir besar sezamannya.

​Saat itu, tokoh kawakan seperti Mohammad Yamin mengusulkan agar Bahasa Melayu ditetapkan sebagai bahasa persatuan. Yamin berargumen berbasis sejarah, literatur, serta kepraktisan lingual yang sudah mengakar di kepulauan Nusantara. Secara logis, pilihan Yamin sangat masuk akal dan didukung oleh mayoritas peserta kongres.

​Namun, Tabrani menolak tunduk begitu saja pada kepraktisan yang ditawarkan Yamin. Dengan pemikiran yang melompati zamannya, ia menolak usulan nama Bahasa Melayu. Tabrani berpendirian teguh bahwa jika nusa ini dinamakan Indonesia dan bangsanya dinamakan bangsa Indonesia, maka bahasanya harus secara eksplisit dinamakan Bahasa Indonesia.

​Bagi Tabrani, penamaan bukan sekadar urusan tata bahasa atau teknis komunikasi semata. Penamaan adalah klaim politik, perlawanan terhadap hegemoni kolonial, dan fondasi identitas nasional yang mandiri. 

Menggunakan istilah "Bahasa Indonesia" adalah tindakan radikal untuk memutus rantai inferioritas di bawah bayang-bayang penjajahan.
​Perdebatan sengit pun tak terelakkan di panggung kongres. Tabrani berdiri kokoh memegang prinsipnya, meski harus berhadapan dengan argumen-argumen cerdas Yamin. 

Keteguhan sikap Tabrani berhasil menahan penetapan Bahasa Melayu, sehingga keputusan final mengenai bahasa persatuan ditunda hingga Kongres Pemuda II pada 1928.

​Sejarah akhirnya membuktikan ketajaman visi dan intuisi politik Tabrani. Pada 28 Oktober 1928, Ikrar Sumpah Pemuda secara resmi mengumandangkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Visi berani yang ia pertahankan dua tahun sebelumnya kini menjadi pilar utama pemersatu ribuan pulau dan suku di Nusantara.

​Rekam jejak Mohammad Tabrani menegaskan satu hal penting: gagasan besar tidak lahir dari sikap ikut-ikutan atau kompromi yang dangkal. Keberaniannya menyuarakan ide yang tidak populer pada masanya mendobrak sekat-sekat kedaerahan dan menghadirkan identitas baru yang melampaui zaman.

​Langkah berani Tabrani memberikan cermin mendalam bagi Generasi Z masa kini. Di tengah era digital yang penuh dengan distraksi dan riuh rendah media sosial, keberanian untuk mengartikulasikan gagasan progresif secara substantif menjadi hal yang makin langka sekaligus sangat dibutuhkan.

​Gen Z memiliki ruang publik yang jauh lebih luas dan demokratis dibandingkan zaman kolonial. Namun, kebebasan ini sering kali terbuang sia-sia jika anak muda hanya menjadi penonton pasif atau sekadar mengikuti tren tanpa daya kritis. Keberanian Tabrani mengajarkan bahwa suara anak muda memiliki daya ubah yang nyata jika ditopang oleh argumentasi yang kokoh.

​Sudah saatnya generasi muda hari ini mengambil peran aktif dalam panggung sosial dan politik bangsa. Menyuarakan keadilan, mengawal kebenaran, serta menawarkan solusi progresif adalah bentuk kelanjutan dari semangat Tabrani. Keberanian berfikir independen dan bertindak untuk kepentingan bersama adalah warisan terbesar yang harus terus dihidupkan.

Sumber

Buku & Catatan Sejarah:
​Tabrani, M. (1979). Otobiografi M. Tabrani: Anak Nakal Jadi Pemimpin. Jakarta: Inti Idayu Press. (Sumber primer yang mencatat langsung kesaksian dan dinamika perdebatan antara Tabrani dan Mohammad Yamin mengenai istilah "Bahasa Indonesia").

​MusMuseum Sumpah Pemuda / Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Buku Panduan Sejarah Sumpah Pemuda dan Biografi Tokoh-Tokoh Sumpah Pemuda. (Mencatat peran M. Tabrani sebagai Ketua Panitia Kongres Pemuda I tahun 1926).


Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote