Merawat Magelang dari Langkah yang Paling Dekat

Oleh: Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jawa Tengah VI, Wibowo Prasetyo.
Sabtu, 11 April 2026 05:36 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Hampir setahun tinggal di Kota Magelang mengajarkan saya satu hal yang tak selalu tertangkap oleh angka-angka pembangunan: kota sesungguhnya dibaca bukan hanya dari kantor pemerintahan, baliho kegiatan, atau panggung perayaan, melainkan dari trotoar yang kita injak, pohon yang menaungi jalan, sungai yang diam-diam menyimpan kabar, dan hujan yang turun membawa kecemasan sekaligus harapan.

Karena itu, ketika Kota Magelang memasuki usia ke-1120 tahun pada 11 April, saya merasa hari jadi ini layak dirayakan bukan dengan pujian berlebihan, melainkan dengan cara yang lebih jujur: menanyakan kembali, kota seperti apa yang sedang kita rawat bersama.

Tema Hari Jadi Kota Magelang 2026, Satu Langkah, Satu Harmoni, Menuju Kota Magelang Peduli dan Asri, menarik karena tidak memilih bahasa yang gegap gempita. Ia tidak bicara tentang lompatan, ledakan, atau ambisi yang berisik. Ia memilih kata langkah. Kata yang tenang, tetapi matang; kata yang mengajarkan bahwa kota yang baik dibangun bukan dengan hasrat berlari meninggalkan warganya, melainkan dengan kesetiaan melangkah bersama mereka.

Bagi saya, pilihan kata itu tepat. Magelang tidak memerlukan cara-cara bising untuk membuktikan dirinya. Kota ini memiliki kekuatan dalam skala yang manusiawi: masih bisa dibaca dengan berjalan kaki, masih bisa dirasakan suasananya, bukan sekadar dilewati.

Dalam hampir setahun tinggal di sini, kesan itu terasa berkali-kali. Magelang bukan kota yang memukau dengan gebyar berlebihan, melainkan kota yang pelan-pelan menyusup lewat rasa teduhnya. Tetapi justru karena itulah, Magelang tidak boleh salah mengelola masa depan. Kota yang teduh bisa kehilangan jiwanya bila pembangunan hanya sibuk mengejar tampilan, sementara watak dan lingkungannya dibiarkan terkikis.

Baca juga :