Jakarta, Gesuri.id - Hampir setahun tinggal di Kota Magelang mengajarkan saya satu hal yang tak selalu tertangkap oleh angka-angka pembangunan: kota sesungguhnya dibaca bukan hanya dari kantor pemerintahan, baliho kegiatan, atau panggung perayaan, melainkan dari trotoar yang kita injak, pohon yang menaungi jalan, sungai yang diam-diam menyimpan kabar, dan hujan yang turun membawa kecemasan sekaligus harapan.
Karena itu, ketika Kota Magelang memasuki usia ke-1120 tahun pada 11 April, saya merasa hari jadi ini layak dirayakan bukan dengan pujian berlebihan, melainkan dengan cara yang lebih jujur: menanyakan kembali, kota seperti apa yang sedang kita rawat bersama.
Tema Hari Jadi Kota Magelang 2026, “Satu Langkah, Satu Harmoni, Menuju Kota Magelang Peduli dan Asri,” menarik karena tidak memilih bahasa yang gegap gempita. Ia tidak bicara tentang lompatan, ledakan, atau ambisi yang berisik. Ia memilih kata “langkah”. Kata yang tenang, tetapi matang; kata yang mengajarkan bahwa kota yang baik dibangun bukan dengan hasrat berlari meninggalkan warganya, melainkan dengan kesetiaan melangkah bersama mereka.
Bagi saya, pilihan kata itu tepat. Magelang tidak memerlukan cara-cara bising untuk membuktikan dirinya. Kota ini memiliki kekuatan dalam skala yang manusiawi: masih bisa dibaca dengan berjalan kaki, masih bisa dirasakan suasananya, bukan sekadar dilewati.
Dalam hampir setahun tinggal di sini, kesan itu terasa berkali-kali. Magelang bukan kota yang memukau dengan gebyar berlebihan, melainkan kota yang pelan-pelan menyusup lewat rasa teduhnya. Tetapi justru karena itulah, Magelang tidak boleh salah mengelola masa depan. Kota yang teduh bisa kehilangan jiwanya bila pembangunan hanya sibuk mengejar tampilan, sementara watak dan lingkungannya dibiarkan terkikis.
Di titik ini, saya melihat ada arah yang patut diapresiasi dari pemerintahan Wali Kota Damar Prasetyono dan Wakil Wali Kota dr. Sri Harso. Dalam refleksi satu tahun kepemimpinan mereka, Damar menegaskan bahwa ia lebih banyak turun ke lapangan untuk menangkap persoalan warga, terutama penataan visual kota dan pengelolaan sampah.
Ia juga menempatkan visi Magelang sebagai kota perdagangan dan jasa yang harmonis, humanis, nyaman, dan berkelanjutan, yang diterjemahkan ke dalam enam misi pembangunan, empat program klaster, dan 19 program unggulan. Ini penting, sebab kota yang sehat tidak lahir dari pidato tentang kemajuan, melainkan dari keberanian membereskan hal-hal mendasar yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan hidup warga.
Salah satu langkah yang menarik adalah Prodamai. Program ini tidak menempatkan warga sekadar sebagai penerima hasil pembangunan, tetapi sebagai subjek yang ikut mengidentifikasi masalah, merumuskan kebutuhan, melaksanakan, bahkan mengawasi jalannya pembangunan. Alokasi paling banyak Rp50 juta per RT per tahun dapat dipakai untuk sarana-prasarana lingkungan, drainase, taman, kesiapsiagaan bencana, hingga pengendalian lingkungan hidup. Dalam bahasa yang lebih sederhana, pembangunan tidak lagi sepenuhnya turun dari atas, tetapi mulai ditanam dari RT, gang, saluran air, dan ruang hidup sehari-hari.
Begitu pula dengan urusan sampah. Dalam banyak kota, sampah kerap diperlakukan sebagai soal pinggiran, padahal ia adalah cermin peradaban yang paling jujur. Pemerintah Kota Magelang pada awal 2026 menegaskan pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, dimulai dari rumah tangga, restoran, dan hotel.
Wali Kota juga menyebut tingkat pengelolaan sampah kota telah mencapai sekitar 95 persen. Angka itu patut diapresiasi, tetapi yang lebih penting ialah cara pandangnya bahwa kota yang asri bukan kota yang pandai menyembunyikan sampah, melainkan kota yang mau menuntaskan persoalannya sejak dari sumber. Kota yang bersih bukan hasil menyapu petugas kebersihan semata, melainkan juga hasil pendidikan moral warganya.
Karena itu, Hari Jadi Kota Magelang ke-1120 tidak cukup dibaca sebagai perayaan capaian. Ia juga harus dibaca sebagai peringatan ekologis. Tinggal di kota ini membuat saya sadar bahwa Magelang adalah kota yang indah, tetapi sekaligus rentan. Ringkasan Eksekutif DIKPLHD Kota Magelang 2025 menggambarkan topografi kota ini menyerupai “punggung sapi”. Bagian barat dan timur lebih rendah daripada bagian tengah, dengan Sungai Progo di sisi barat, Sungai Elo di sisi timur, serta jaringan irigasi yang membelah kawasan kota. Dokumen yang sama mencatat perubahan tata guna lahan dapat memicu tanah atau talud longsor, peningkatan suhu, penurunan keanekaragaman hayati, dan terbentuknya kawasan kumuh. Bahkan, indeks kualitas air 2024 turun menjadi 58,33 dari 66,67 pada 2023.
Kerentanan itu bukan ilusi. BPBD Kota Magelang menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi sejak 1 Desember 2025 sampai 1 Maret 2026 karena potensi banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Sementara Stasiun Klimatologi Jawa Tengah memprakirakan puncak musim hujan 2025/2026 untuk Kota Magelang terjadi pada Februari 2026, dengan kecenderungan curah hujan tinggi di awal tahun. Dalam konteks seperti itu, merawat lingkungan di Magelang bukan pilihan tambahan, melainkan syarat keselamatan.
Karena itu, tema “peduli dan asri” tidak boleh berhenti sebagai slogan semata. Ia mesti naik derajat menjadi etika pembangunan. Peduli berarti drainase tidak dianggap pekerjaan musiman. Peduli berarti sempadan sungai dihormati. Peduli berarti pohon tidak dilihat sebagai ornamen, tetapi sebagai penyangga hidup. Peduli berarti sampah tidak dibiarkan menjadi beban. Dan asri, dalam pengertian yang lebih dalam, bukan hanya hijau yang enak difoto, melainkan kota yang nyaman dihuni, sehat dihirup, aman untuk anak-anak, ramah untuk lansia, dan tidak kejam kepada mereka yang berjalan kaki.
Dalam kerangka itulah, relevan mengingat garis pesan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, tentang pentingnya merawat pertiwi dan melestarikan lingkungan. Pada awal 2026, semangat itu kembali digaungkan melalui gerakan Merawat Pertiwi, penghijauan, dan ajakan menjaga alam sebagai tanggung jawab moral kepada generasi mendatang. Saya membaca pesan itu bukan semata sebagai semboyan politik, melainkan sebagai pengingat yang kontekstual bagi Kota Magelang. Kota yang ingin terus hidup tidak boleh memusuhi tanah, air, dan pohon-pohonnya sendiri.
Maka, ketika hampir setahun menjadi bagian dari Kota Magelang, saya sampai pada keyakinan sederhana bahwa kota ini tidak membutuhkan pujian yang melenakan. Kota Magelang membutuhkan kesetiaan yang sunyi: menyapu halaman yang sama setiap pagi, menjaga sungai agar tidak dipenuhi sampah, menanam pohon, merawat talud, membenahi drainase, dan menahan diri untuk tidak memperlakukan kota sebagai benda mati. Sebab kota, sesungguhnya, adalah “makhluk hidup” yang bernapas lewat kebiasaan warganya.
Barangkali, itulah makna terdalam Hari Jadi Kota Magelang ke-1120. Bukan sekadar merayakan umur panjang, tetapi merayakan kesediaan untuk terus belajar menjadi rumah yang baik. Rumah yang tidak hanya rapi di permukaan, tetapi juga terjaga nuraninya. Rumah yang tahu bahwa satu langkah yang sungguh-sungguh merawat selalu lebih berharga daripada seribu slogan yang hanya lewat di pengeras suara.
Dan bila Kota Magelang ingin tetap dicintai, maka ia harus terus dirawat dari yang paling dekat. Dari langkah, dari lingkungan, dan dari hati yang tidak tega melukai buminya sendiri.
Dirgahayu Kota Magelang.

















































































