11 Agustus 1945, Bung Karno: Kemerdekaan Indonesia Harus Kita Rebut dan Tancapkan Sendiri di Atas Tanah Air Kita

Bung Karno menggambarkan atmosfer batin dan pengamatan tajamnya pada tanggal 11 Agustus 1945 tersebut dengan sangat mendalam.
Selasa, 11 Agustus 2026 06:01 WIB Jurnalis - Syahrul Arsyad

Jakarta, Gesuri.id - Di Dalat, ketika aku menatap mata perwira-perwira tertinggi tentara Jepang pada tanggal 11 Agustus itu, aku tidak lagi melihat kebangkitalan atau kesombongan imperialis. Wajah-wajah mereka lesu, letih, dan terpukul. Di balik janji-janji manis mereka tentang kemerdekaan, aku membaca kenyataan yang tak terelakkan: Dai Nippon telah kalah. Pada saat itulah keyakinanku kian membatu bahwa sejarah telah mengetuk pintu kita. Kemerdekaan Indonesia tidak lagi digantungkan pada kemauan Tokyo atau janji seorang marsekal, melainkan harus kita rebut dan tancapkan sendiri di atas tanah air kita.

Bung Karno, dalam otobiografinya yang dicatat oleh Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Bung Karno menggambarkan atmosfer batin dan pengamatan tajamnya pada tanggal 11 Agustus 1945 tersebut dengan sangat mendalam.

Memang, pada 11 Agustus 1945 menjadi momentum vital ketika Bung Karno secara langsung merasakan dan menyaksikan tanda-tanda keruntuhan Kekaisaran Jepang di markas besar mereka di Dalat, Vietnam.

Pada hari itu, Bung Karno bersama Mohammad Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat mengadakan serangkaian pembicaraan intensif dengan Marsekal Hisaichi Terauchi.

Baca juga :