Jakarta, Gesuri.id - Kader PDI Perjuangan, Novita Gulo, menyoroti persoalan tata kelola dan transparansi pasar modal di tengah kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (16/10/2026).
Ia menilai, kepercayaan investor tidak hanya ditentukan oleh regulasi, tetapi juga oleh transparansi proses perizinan, transaksi saham, dan pembiayaan perbankan yang melibatkan perusahaan besar.
Pasar tidak ambruk karena MSCI. Pasar ambruk karena akal-akalan di sekitar kekuasaan. Kepercayaan tidak bisa dibeli dengan intervensi. Bersihkan dulu wajahnya, baru bicara soal cermin, demikian kritik Novita dalam pernyataannya mengenai gejolak pasar modal Indonesia yang di kutip dari Akun Istagram Moncong Putih Selasa (20/10/2026).
Novita menyoroti dinamika saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), terutama terkait penerbitan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tiga anak usaha perusahaan tersebut yang berdekatan waktunya dengan rencana pembelian saham oleh PT Jhonlin Baratama milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Menurut Novita, rangkaian peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai transparansi dan kesetaraan akses informasi di pasar modal. Ia menilai, investor perlu memperoleh kepastian bahwa proses perizinan dan transaksi saham berjalan secara transparan serta sesuai ketentuan.