Ikuti Kami

IHSG Anjlok Jadi Sentilan Bagi OJK

Menurut Elvi, gejolak pasar saham tidak boleh semata-mata dipandang sebagai dinamika investasi yang biasa terjadi.

IHSG Anjlok Jadi Sentilan Bagi OJK
Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (16/10/2026).

Jakarta, Gesuri.id - Konsultan Keuangan dan Perbanas Institute Elvi Diana menegaskan bahwa anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (16/10/2026) harus menjadi sentilan bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperketat pengawasan terhadap seluruh aktivitas pasar modal Indonesia.

Menurut Elvi, gejolak pasar saham tidak boleh semata-mata dipandang sebagai dinamika investasi yang biasa terjadi. Peristiwa tersebut harus menjadi momentum bagi OJK untuk mengevaluasi efektivitas pengawasan, memperkuat integritas pasar, serta memastikan seluruh aktivitas perdagangan saham berlangsung secara adil, transparan, dan kredibel.

“Anjloknya IHSG ini harus menjadi sentilan keras bagi OJK. OJK tidak boleh hanya menjadi penonton ketika pasar modal mengalami gejolak. Pengawasan harus diperkuat agar seluruh aktivitas perdagangan saham berjalan secara adil, transparan, dan kredibel,” tegas Elvi Diana, Sabtu (17/10/2026) 

Ia menilai, kepercayaan investor merupakan salah satu fondasi utama bagi keberlangsungan pasar modal. Ketika kepercayaan tersebut terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh investor, tetapi juga dapat memengaruhi reputasi pasar keuangan Indonesia di mata komunitas investasi internasional.

Karena itu, Elvi meminta OJK memastikan bahwa setiap pelaku pasar tunduk pada aturan yang berlaku. Pengawasan terhadap potensi manipulasi pasar, transaksi yang tidak wajar, serta praktik perdagangan yang merugikan investor harus dilakukan secara konsisten dan tanpa pandang bulu.

“Pasar modal yang sehat bukan hanya diukur dari naik turunnya indeks saham. Yang jauh lebih penting adalah apakah mekanisme perdagangan berlangsung secara fair, informasi tersedia secara transparan, dan investor mendapatkan perlindungan yang memadai,” ujarnya.

Elvi juga menyoroti keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Menurutnya,  hal itu merupakan peringatan serius bagi Indonesia untuk membenahi tata kelola pasar modal dan memperkuat kepercayaan investor global.

“Ini tentu memalukan bagi Indonesia. Kita seharusnya membangun pasar modal yang semakin dipercaya dunia, bukan justru menghadapi persoalan yang dapat menurunkan persepsi investor internasional terhadap kualitas pasar kita,” kata Elvi.

Ia menegaskan, reputasi pasar modal Indonesia tidak cukup dijaga melalui pernyataan optimistis atau berbagai program untuk menarik investasi. Diperlukan langkah konkret dalam memperbaiki transparansi, kualitas keterbukaan informasi, kepastian penegakan aturan, dan perlindungan terhadap investor.

Elvi menambahkan bahwa OJK perlu berkoordinasi secara efektif dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) serta lembaga terkait lainnya untuk memastikan pembenahan dilakukan secara menyeluruh. Evaluasi terhadap mekanisme perdagangan, pengawasan terhadap perilaku pelaku pasar, dan peningkatan kualitas tata kelola harus menjadi agenda prioritas.

“Jangan sampai investor kehilangan kepercayaan karena merasa pasar tidak memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh pelaku. OJK harus memastikan bahwa aturan ditegakkan secara konsisten dan tidak ada pihak yang mendapatkan keistimewaan,” tandasnya.

Quote