Jakarta, Gesuri.id - Konsultan dan Perencana Keuangan Elvi Diana merespons anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) usai dibentuknya PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Menurut Elvi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi pemerintah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap stabilitas pasar modal Indonesia.
Sebagaimana diketahui, IHSG pada penutupan perdagangan Rabu (20/5) melemah 0,82 persen ke level 6.318,50. Bahkan pada pukul 11.19 WIB, saat pidato Presiden Prabowo Subianto terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam pertama kali disampaikan, indeks saham sempat terjun lebih dari 2 persen.
Selanjutnya pada Kamis (21/5/2026), IHSG kembali ditutup melemah tajam di level 6.094 atau turun 233 poin (3,54 persen). Lalu pada pembukaan perdagangan Jumat (22/5), IHSG kembali dibuka turun pada posisi 6.043,60 atau melemah 0,84 persen.
“Pergerakan IHSG dalam dua hari terakhir memperlihatkan bahwa pasar sangat sensitif terhadap kebijakan ekonomi pemerintah, terutama kebijakan yang menyangkut tata kelola sumber daya alam dan arsitektur baru pengelolaan ekspor nasional,” ujar Elvi dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).
Menurut Elvi, pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai badan yang mengelola ekspor komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, hingga fero alloy, memunculkan berbagai respons dari pelaku pasar. Investor, kata dia, cenderung menunggu kepastian mengenai mekanisme bisnis, transparansi tata kelola, hingga dampaknya terhadap iklim investasi dan persaingan usaha.
“Elastisitas pasar modal terhadap kebijakan negara memang sangat tinggi. Dalam teori behavioral finance, pasar tidak hanya bereaksi terhadap data ekonomi aktual, tetapi juga terhadap persepsi, ekspektasi, dan ketidakpastian kebijakan,” jelasnya.
Elvi menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi yang memadai setiap kali meluncurkan kebijakan ekonomi strategis, agar gejolak di pasar modal dapat diminimalisasi. Ia menegaskan, komunikasi publik yang jelas dan konsisten menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor.
“Pemerintah harus memastikan bahwa setiap kebijakan baru memiliki roadmap yang transparan, penjelasan yang komprehensif, serta jaminan kepastian hukum. Tanpa itu, pasar akan mudah bereaksi negatif karena investor membaca adanya risiko tambahan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa stabilitas IHSG bukan hanya berkaitan dengan perdagangan saham semata, tetapi turut memengaruhi kepercayaan dunia usaha, arus investasi, hingga kondisi ekonomi nasional secara umum.
Mengacu pada teori ekspektasi rasional dalam ekonomi, Elvi menjelaskan bahwa pelaku pasar akan selalu mencoba memprediksi dampak kebijakan pemerintah terhadap keuntungan dan risiko di masa depan. Karena itu, menurut dia, setiap kebijakan ekonomi besar harus disertai strategi komunikasi dan mitigasi pasar yang kuat.
“Pemerintah perlu membangun kepercayaan pasar melalui transparansi dan konsistensi kebijakan. Ketika pasar merasa ada kepastian dan arah yang jelas, volatilitas bisa ditekan,” tuturnya.
Elvi berharap pemerintah bersama otoritas pasar modal dan lembaga keuangan dapat memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas pasar di tengah berbagai kebijakan strategis nasional.
“Tujuan pembangunan ekonomi tentu baik, tetapi stabilitas pasar juga harus dijaga. Investor membutuhkan kepastian, sedangkan pasar membutuhkan kepercayaan,” pungkasnya.

















































































