Jakarta, Gesuri.id Safari politik yang dilakukan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), ke sejumlah daerah termasuk yang terbaru di Nusa Tenggara Timur (NTT) menuai kritik pedas dari internal PDI Perjuangan.
Kunjungan tersebut dinilai tidak membawa manfaat nyata bagi masyarakat lokal, melainkan sebatas manuver politik demi mendongkrak elektabilitas partai.
Ketua DPP PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira, menilai safari politik tersebut memperlihatkan gejala post power syndrome atau kecenderungan tidak siap kehilangan panggung kekuasaan.
Baca:Mengenal SosokGanjarPranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Nampak gejala post power syndrome pada figur ini. Kalau dulu sebagai presiden biasa dikerumuni dan dielu-elukan massa, saat ini Jokowi harus mendatangi kerumunan Car Free Day (CFD) hingga membuat kerumunan berkedok acara budayameski menabrak tradisihanya demi kembali dikerumuni dan dielu-elukan, ujar Andreas.