Jakarta, Gesuri.id Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima, mengajak masyarakat, khususnya warga Kota Solo, untuk kembali memaknai keberadaan Monumen Pers Nasional sebagai ruang ingatan kolektif bangsa yang menyimpan sejarah perjuangan, kesadaran, dan suara perlawanan.
Menurutnya, di tengah dinamika Kota Surakarta yang terus bergerak, bangunan bersejarah itu menjadi penanda penting perjalanan pers dan demokrasi Indonesia.
Kawan-kawan dan sedulur-sedulurku sekalian khususnya di kota Solo, di tengah riuh kota Surakarta yang tak pernah benar-benar tidur, berdirah sebuah bangunan yang diamnya justru menyimpan suara. Ia bukan sekedar monumen, ia adalah ingatan yang masih bernafas. Tempat di mana kata, suara, siaran, dan perlawanan pernah bersinyawa. Menulis sejarah bangsa dengan tinta kesadaran. Inilah Monumen Pers Nasional. Rumah bagi suara-suara yang tak mau padam, kata Aria Bima, dikutip pada Jumat (2/1/2026).
Ia menuturkan, gedung Monumen Pers Nasional memiliki nilai historis yang kuat sejak masa awal pendiriannya. Bangunan yang terletak di Jalan Gajah Mada Nomor 59 tersebut awalnya dikenal dengan nama Sosietit Mangkunagara.
Gedung tua di Jalan Gajah Mada nomor 59 ini dahulu dikenal sebagai Sosietit Mangkunagara. Dibangun atas perakasa Mangkunagoro VII pada tahun 1918 dan dirancang oleh Mas Abu Kassan Admodirono, arsitek bumi putra pertama dari Semarang yang berani berdiri sejajar dengan arsitek-arsitek Eropa pada masa kolonial. Dua tahun kemudian bangunan ini rampung, menjadi tempat meleburnya gagasan, musik, dan cita-cita kemajuan, lanjutnya.