ADA masa ketika menjadi pemuda Ambon di Batavia berarti hidup jauh dari tanah kelahiran. Di tengah kota kolonial itu, anak-anak muda Maluku mencari ruang untuk saling mengenal, menjaga persaudaraan, sekaligus mempertahankan identitas yang mereka bawa dari kampung halaman.
Dari kebutuhan itulah Jong Ambon tumbuh. Organisasi ini dibentuk para pelajar dan mahasiswa asal Maluku, yang sebagian besar berkaitan dengan lingkungan STOVIA. L. Tamaela dan J. Kayadu termasuk tokoh yang menggagas perkumpulan tersebut, dengan Kayadu kemudian menjadi salah satu pemimpin awalnya.
Pada mulanya, Jong Ambon bahkan lebih dekat dengan olahraga, terutama sepak bola. Anak-anak muda Ambon berkumpul, bertanding, membangun persaudaraan, dan menemukan rasa memiliki di tengah kehidupan Batavia yang jauh dari kampung halaman.
Tetapi zaman bergerak.
Di luar lapangan, pergerakan nasional semakin ramai. Pendidikan, kebangsaan, dan masa depan tanah air mulai menjadi bahan pembicaraan. Sebagian pemuda Jong Ambon kemudian merasa bahwa perkumpulan mereka tidak cukup hanya menjadi ruang olahraga.