Ikuti Kami

Dari Jong Ambon ke Indonesia: Ketika Identitas Daerah Menjadi Jalan Menuju Persatuan

Sumpah Pemuda tidak tepat dipahami hanya sebagai sebuah upacara ikrar.

Dari Jong Ambon ke Indonesia: Ketika Identitas Daerah Menjadi Jalan Menuju Persatuan
Jong Ambo - Foto: Istimewa

ADA masa ketika menjadi pemuda Ambon di Batavia berarti hidup jauh dari tanah kelahiran. Di tengah kota kolonial itu, anak-anak muda Maluku mencari ruang untuk saling mengenal, menjaga persaudaraan, sekaligus mempertahankan identitas yang mereka bawa dari kampung halaman.

Dari kebutuhan itulah Jong Ambon tumbuh. Organisasi ini dibentuk para pelajar dan mahasiswa asal Maluku, yang sebagian besar berkaitan dengan lingkungan STOVIA. L. Tamaela dan J. Kayadu termasuk tokoh yang menggagas perkumpulan tersebut, dengan Kayadu kemudian menjadi salah satu pemimpin awalnya.

Pada mulanya, Jong Ambon bahkan lebih dekat dengan olahraga, terutama sepak bola. Anak-anak muda Ambon berkumpul, bertanding, membangun persaudaraan, dan menemukan rasa memiliki di tengah kehidupan Batavia yang jauh dari kampung halaman.

Tetapi zaman bergerak.

Di luar lapangan, pergerakan nasional semakin ramai. Pendidikan, kebangsaan, dan masa depan tanah air mulai menjadi bahan pembicaraan. Sebagian pemuda Jong Ambon kemudian merasa bahwa perkumpulan mereka tidak cukup hanya menjadi ruang olahraga.

Muncul perdebatan: apakah pemuda cukup berkumpul karena kesamaan asal daerah, atau harus mengambil bagian dalam persoalan bangsa yang lebih luas?

Perdebatan itu melahirkan Vereeniging Ambonsche Studenten (VAS). Kelompok ini memberi perhatian lebih besar pada pendidikan dan pergerakan pemuda. Di sinilah Jong Ambon mulai mengalami transformasi: dari menjaga persaudaraan sesama anak Maluku menuju keterlibatan dalam gagasan persatuan Indonesia.

Salah satu tokohnya adalah Johannes Leimena.

Leimena adalah mahasiswa kedokteran STOVIA. Ia memilih bergabung dengan VAS, bahkan aktif mengajak pelajar Ambon lainnya untuk masuk organisasi. Ia tidak hanya melihat organisasi sebagai tempat berkumpul, tetapi sebagai ruang pendidikan dan pengabdian.

Leimena kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju Kongres Pemuda. Pada Kongres Pemuda I 1926, Jong Ambon diwakili antara lain oleh Toule Salahuwey. Sementara dalam Kongres Pemuda II 1928, Leimena duduk sebagai Pembantu IV dalam kepanitiaan bersama tokoh-tokoh muda dari berbagai organisasi daerah.

Susunan panitia itu sendiri seperti potret kecil Indonesia.

Sugondo Djojopuspito dari PPPI menjadi ketua. Djoko Marsaid dari Jong Java menjadi wakil ketua. Mohammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond menjadi sekretaris. Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks Bond menjadi bendahara. Dari Jong Celebes ada R.C.L. Senduk, sedangkan dari Jong Ambon hadir Johannes Leimena.

Mereka datang membawa nama organisasi yang berbeda. Namun, mereka duduk dalam satu meja.

Di situlah letak keberanian generasi tersebut. Mereka tidak harus menghapus identitas Ambon, Jawa, Sumatera, Batak, atau Celebes untuk menjadi Indonesia.

Mereka justru belajar bahwa identitas daerah dapat menjadi pintu menuju identitas kebangsaan.

Dalam perjalanan yang lebih luas, tokoh Maluku lain juga memainkan peranan penting. Johannes Latuharhary, misalnya, tumbuh dalam arus pergerakan Maluku dan kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh yang memperjuangkan kepentingan masyarakat Maluku dalam kerangka Indonesia. Ia pernah terlibat dalam Sarekat Ambon dan kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan politik Indonesia.

Ada pula Alexander Jacob Patty yang lebih dahulu membangun Sarekat Ambon. Pergerakan tokoh-tokoh ini menunjukkan bahwa kesadaran kebangsaan di kalangan pemuda Maluku tidak muncul secara tiba-tiba pada 28 Oktober 1928. Ia tumbuh melalui organisasi, pendidikan, perdebatan, dan pengalaman menghadapi kolonialisme.

Karena itu, Sumpah Pemuda tidak tepat dipahami hanya sebagai sebuah upacara ikrar.

Ia adalah hasil dari proses panjang ketika organisasi-organisasi kedaerahan mulai menyadari batas-batas identitas masing-masing.

Jong Ambon memiliki kepentingan untuk menjaga persaudaraan anak Maluku. Jong Java memiliki identitas Jawa. Jong Sumatranen Bond membawa semangat Sumatera. Organisasi lainnya pun membawa identitas masing-masing.

Tetapi mereka menemukan satu persoalan bersama: penjajahan dan masa depan tanah air.

Dari sana, kepentingan yang semula terpisah mulai bertemu.

Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 menjadi salah satu titik penting pertemuan itu. Kongres tersebut mempertemukan berbagai organisasi pemuda dalam pembicaraan tentang pendidikan, kebangsaan, persatuan, dan masa depan Indonesia.

Pada akhirnya lahirlah tiga ikrar: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

Yang menarik, persatuan itu tidak lahir karena semua pemuda memiliki latar belakang yang sama.

Justru sebaliknya. Persatuan lahir karena mereka berbeda, lalu bersedia mencari titik temu.

Lebih dari sembilan dekade kemudian, situasinya berubah total. Gen Z tidak lagi membutuhkan kapal atau kereta untuk mempertemukan pemuda dari Ambon, Jawa, Sumatera, atau Sulawesi. Mereka cukup membuka telepon genggam.

Namun persoalannya tetap sama: bagaimana perbedaan kepentingan dapat diubah menjadi kekuatan kolektif?

Hari ini koalisi dapat terbentuk melalui media sosial. Komunitas lingkungan dapat bekerja bersama dengan mahasiswa. Anak muda dari berbagai daerah dapat mengawal kebijakan publik melalui petisi, riset, kampanye digital, diskusi, hingga advokasi.

Teknologinya berubah. Semangatnya tidak.

Pelajaran dari Jong Ambon adalah bahwa identitas bukan sesuatu yang harus dibuang untuk membangun persatuan. Identitas justru dapat menjadi kekuatan ketika ditempatkan dalam tujuan yang lebih besar.

Leimena dan kawan-kawannya menunjukkan bahwa menjadi Ambon tidak menghalangi seseorang menjadi Indonesia.

Begitu pula menjadi Jawa, Sumatera, Batak, Celebes, atau daerah mana pun.

Pada akhirnya, Indonesia tidak dibangun oleh mereka yang kehilangan identitasnya. Indonesia dibangun oleh mereka yang mampu membawa identitasnya masuk ke dalam rumah kebangsaan.

Dari situlah kebinekaan berhenti menjadi sekadar perbedaan. Ia berubah menjadi kekuatan.

 

Quote