Ikuti Kami

Jong-Jong Pemuda, Jalan Menuju Indonesia

Jong Celebes menjadi salah satu ruang anak muda asal Sulawesi membangun persaudaraan.

Jong-Jong Pemuda, Jalan Menuju Indonesia
Sumpah Pemuda. Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan

SEBELUM ada Indonesia sebagai sebuah negara, sudah ada anak-anak muda yang belajar membayangkannya.

Pada dekade 1920-an, mereka datang dari latar yang berbeda. Ada Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Minahasa, Sekar Rukun, hingga Perhimpunan Pemuda lainnya. Mereka membawa nama daerah, bahasa, kebudayaan, dan pengalaman masing-masing. Namun, justru dari keragaman itulah gagasan tentang Indonesia perlahan menemukan bentuknya.

Jong Celebes menjadi salah satu ruang anak muda asal Sulawesi membangun persaudaraan. Organisasi ini berdiri pada 25 April 1919. Di antara tokoh yang tercatat terkait dengannya adalah R.C.L. Senduk, A. Mononutu, A. Magdalena Waworuntu, Hadidjah, Mokoginta, dan Sam Ratulangi.

Yang menarik, Jong Celebes tidak berhenti sebagai perkumpulan berdasarkan asal daerah. R.C.L. Senduk kemudian duduk sebagai Pembantu III dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II. Posisi itu menunjukkan bahwa identitas kedaerahan mulai ditempatkan dalam agenda yang lebih besar: persatuan Indonesia.

Dari Maluku datang Jong Ambon. L. Tamaela dan J. Kayadu dikenal sebagai tokoh pendirinya, sementara Johannes Leimena kemudian menjadi salah satu tokoh penting yang membawa Jong Ambon ke dalam arus pergerakan kebangsaan.

Leimena bahkan menjadi Pembantu IV dalam Kongres Pemuda II. Sebelumnya, Jong Ambon ikut dalam persiapan Kongres Pemuda I melalui Vereeniging Ambonsche Studenten. Artinya, proses menuju Sumpah Pemuda bukan pertemuan yang muncul tiba-tiba pada 28 Oktober 1928.

Begitu pula dengan organisasi pemuda dari Sumatera. Mohammad Yamin, yang berada di Jong Sumatranen Bond, tidak hanya membawa identitas Sumatera. Ia menjadi sekretaris panitia Kongres Pemuda II dan ikut merumuskan gagasan persatuan yang kemudian menemukan bentuknya dalam Sumpah Pemuda.

Di sinilah letak pelajaran terbesarnya.

Mereka tidak diminta melupakan daerah asal. Mereka justru belajar menempatkan identitas daerah sebagai bagian dari rumah yang lebih besar.

Perdebatan tentang persatuan pun bukan perkara sederhana. Pada Kongres Pemuda I 1926, misalnya, Mohammad Yamin mendorong bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, sementara gagasan persatuan organisasi pemuda juga terus didorong. Proses itu memperlihatkan bahwa persatuan Indonesia dibangun melalui perdebatan, bukan melalui keseragaman.

Dari Kalimantan, ceritanya sedikit berbeda dan justru menarik.

Ada catatan tentang kehadiran pemuda Kalimantan dalam Kongres Pemuda II, antara lain Masri dan George Obos. Namun, sejumlah peneliti mempertanyakan apakah mereka hadir sebagai wakil organisasi bernama Jong Borneo atau sebagai pribadi. Karena itu, sejarah Jong Borneo perlu ditempatkan secara hati-hati, bukan dipaksakan menjadi fakta yang sudah sepenuhnya final.

Tetapi apa pun perdebatan arsipnya, satu hal penting tetap terlihat: pemuda dari berbagai penjuru Nusantara mulai mencari ruang perjumpaan.

Puncaknya terjadi pada Kongres Pemuda II.

Panitia kongres sendiri mencerminkan semangat itu. Soegondo Djojopoespito dari PPPI menjadi ketua, Djoko Marsaid dari Jong Java menjadi wakil ketua, Mohammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond menjadi sekretaris, Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks Bond menjadi bendahara, sementara Senduk dari Jong Celebes dan Leimena dari Jong Ambon ikut berada dalam kepanitiaan.

Mereka datang dengan nama organisasi berbeda.

Tetapi pada akhirnya, mereka memilih menyebut diri sebagai bagian dari satu bangsa.

Sumpah Pemuda bukan sekadar tiga kalimat yang dihafalkan setiap Oktober. Ia adalah hasil perjalanan panjang anak-anak muda yang berani mempertemukan perbedaan, berdebat tentang masa depan, dan perlahan mengurangi ego kedaerahan.

Beberapa tahun kemudian, semangat fusi itu semakin nyata. Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes dan organisasi pemuda lainnya akhirnya bergerak menuju Indonesia Muda. Jong Java bahkan secara resmi membubarkan diri demi fusi tersebut.

Mereka memahami sesuatu yang sederhana tetapi besar: daerah adalah identitas, tetapi Indonesia adalah tujuan bersama.

Hari ini, Gen Z menghadapi dunia yang berbeda. Mereka tidak lagi bertemu hanya di gedung organisasi atau ruang kongres. Mereka bertemu melalui media sosial, komunitas digital, kampus, forum publik, hingga gerakan sosial lintas daerah.

Tetapi tantangannya serupa: bagaimana perbedaan kepentingan tidak berubah menjadi sekat?

Anak muda 1920-an memberi jawabannya melalui organisasi. Mereka membangun jembatan sebelum berbicara tentang persatuan.

Maka, di tengah zaman ketika perbedaan mudah menjadi pertengkaran, warisan Jong-Jong itu terasa kembali relevan.

Indonesia tidak dibangun oleh anak muda yang semuanya sama.

Indonesia dibangun oleh anak muda yang berbeda, tetapi bersedia menemukan tujuan yang sama.

Dan mungkin, itulah makna paling dalam dari Sumpah Pemuda: bukan menanggalkan identitas, melainkan menanggalkan ego agar kebinekaan menjadi kekuatan bersama.

 

Quote