Dari Rumah Kos ke Panggung Sejarah: Indonesische Clubgebouw dan Pelajaran Perubahan bagi Gen Z

Rrumah di Kramat 106 justru menjadi salah satu saksi lahirnya gagasan kebangsaan yang melampaui sekat kedaerahan.
Selasa, 20 Oktober 2026 17:24 WIB Jurnalis - Kristin Tambunan

Jakarta, Gesuri.id - Sejarah besar tidak selalu lahir dari gedung megah, ruang rapat mewah, atau fasilitas serba lengkap. Terkadang, perubahan justru bermula dari tempat sederhana yang dipenuhi gagasan, keberanian, dan tekad untuk mewujudkan masa depan yang berbeda.

Itulah pelajaran penting dari Indonesische Clubgebouw, bangunan di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta, yang kini dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda. Di tempat inilah rapat penutup Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 berlangsung dan keputusan yang kelak dikenang sebagai Sumpah Pemuda dibacakan.

Sejarah bangunan dan perannya dalam kongres tersebut didokumentasikan oleh Museum Sumpah Pemuda di bawah Kementerian Kebudayaan. Sumber: Museum Sumpah Pemuda.

Bangunan yang dahulu dikenal sebagai rumah indekos itu bukanlah istana politik ataupun pusat kekuasaan kolonial. Tempat tersebut menjadi ruang pertemuan para pemuda dari berbagai organisasi yang memiliki latar belakang daerah, bahasa, dan budaya berbeda. Mereka datang membawa identitas masing-masing, tetapi berusaha menemukan tujuan bersama sebagai satu bangsa. Di tengah keterbatasan fasilitas, rumah di Kramat 106 justru menjadi salah satu saksi lahirnya gagasan kebangsaan yang melampaui sekat kedaerahan.

Menurut catatan sejarah Museum Sumpah Pemuda, gedung tersebut sebelumnya dikenal dengan nama Langen Siswo. Karena digunakan oleh sejumlah organisasi pemuda, pada 1927 bangunan itu diberi nama Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw, yang berarti gedung pertemuan. Tempat ini juga pernah digunakan sebagai sekretariat Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dan penerbitan majalah Indonesia Raja.

Baca juga :