Ikuti Kami

Di Bawah Suara Soenario: Secarik Kertas yang Menyelamatkan Sebuah Kongres

Kongres itu telah melalui dua rapat panjang, perdebatan sengit tentang fusi, dan ketegangan dengan pengawas kolonial.

Di Bawah Suara Soenario: Secarik Kertas yang Menyelamatkan Sebuah Kongres
Kongres itu telah melalui dua rapat panjang, perdebatan sengit tentang fusi, dan ketegangan dengan pengawas kolonial.

MALAM itu, 28 Oktober 1928, di Gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106. Rapat ketiga Kongres Pemuda II telah berlangsung sejak sore. Di mimbar, Mr. Soenario—penasihat panitia dan tokoh yang telah membuka jalan perizinan kongres—tengah menyampaikan makalahnya yang berjudul “Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia”. Ia berbicara tentang pentingnya nasionalisme dan demokrasi, dan bahwa persatuan tidak cukup hanya di kalangan intelek; ia menganjurkan dukungan bagi gerakan kepanduan sebagai wadah pembinaan pemuda.

Suaranya mengisi ruangan. Namun, di barisan peserta, Mohammad Yamin—sekretaris kongres—tidak sepenuhnya menyimak. Ia sedang memikirkan sesuatu yang lain. Kongres itu telah melalui dua rapat panjang, perdebatan sengit tentang fusi, dan ketegangan dengan pengawas kolonial. Yamin “tidak ingin kongres berakhir tanpa hasil atau keputusan”. Maka, di tengah pidato Soenario yang sedang berlangsung, ia mulai menuliskan sesuatu di secarik kertas.

“Sebuah Formulasi yang Lebih Elegan”
Yamin selesai menulis. Ia melipat kertas itu, atau mungkin menyodorkannya begitu saja, kepada Soegondo Djojopoespito—ketua kongres yang duduk tak jauh darinya. Sambil berbisik, ia menyampaikan kalimat yang kini tercatat dalam berbagai buku sejarah: “Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie”—Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini.

Soegondo membaca kertas itu. Isinya adalah tiga butir kalimat yang merangkum seluruh perdebatan, seluruh keraguan, dan seluruh harapan yang telah mengisi kongres itu selama dua hari. Tanpa banyak bicara, Soegondo membubuhkan paraf setuju pada kertas tersebut. Kertas itu kemudian diedarkan kepada peserta lain untuk mendapatkan paraf persetujuan mereka.

Dalam hitungan menit, di bawah suara Soenario yang masih berbicara tentang kepanduan dan persatuan, sebuah rumusan yang kelak mengguncang sejarah telah disepakati. Yamin tidak berpidato untuk memperkenalkannya. Ia tidak naik ke mimbar. Ia hanya menulis, menyodorkan, dan membiarkan kertas itu berbicara sendiri.

Soenario tidak tahu—atau mungkin ia tahu, tetapi memilih untuk tidak menghentikan pidatonya—bahwa di tengah kalimat-kalimatnya tentang nasionalisme, sebuah teks baru sedang lahir. Ia adalah penasihat panitia, negosiator perizinan, dan pembicara yang mengisi sesi paling menentukan. Namun, dalam momen itu, perannya berubah menjadi latar: suaranya adalah selimut yang menutupi lahirnya sebuah rumusan, memberinya waktu, dan menjaganya agar tidak memancing reaksi sebelum waktunya.

Ironinya, Soenario-lah yang “meminta izin kongres kepada pemerintah kolonial” dan berhasil meloloskannya setelah “sempat dipersulit dengan berbagai macam alasan”. Ia adalah orang yang memastikan bahwa kongres itu boleh terjadi. Dan kini, di bawah pidatonya, kongres itu menemukan tujuannya.

Tiga Butir yang Mengubah Segalanya
Rumusan yang ditulis Yamin bukanlah rumusan yang lahir dari kevakuman. Ia adalah kompromi yang telah matang setelah melalui perdebatan panjang. Bahasa yang dipilih bukan “Bahasa Melayu” yang pernah Yamin bela mati-matian, melainkan “bahasa persatuan, bahasa Indonesia”—sebuah frasa yang mengakomodasi gagasan M. Tabrani dari Kongres Pemuda I. Yamin, yang pernah menentang fusi, kini menuliskan rumusan yang menegaskan persatuan dalam tiga dimensi: tanah air, bangsa, dan bahasa.

Isi rumusan itu, sebagaimana kemudian dibacakan oleh Soegondo, adalah:

Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Setelah paraf terkumpul, Soegondo membacakan rumusan itu di hadapan kongres. Yamin kemudian menjelaskannya secara panjang lebar. Malam itu, teks yang lahir di bawah suara Soenario resmi menjadi keputusan Kongres Pemuda II.

Sejarah sering mengingat pembicara—mereka yang berdiri di mimbar dan menggetarkan ruangan. Namun, malam itu, sebuah kertas kecil yang disodorkan dalam bisikan lebih menentukan daripada semua pidato yang menggelegar. Yamin, si perumus yang pernah ragu, menemukan momennya. Soegondo, si pemimpin tenang, memberikan parafnya. Dan Soenario, si penjaga pintu, tanpa sengaja menjadi selimut yang melindungi lahirnya sebuah ikrar.

Kongres itu tidak berakhir tanpa hasil. Ia berakhir dengan tiga butir kalimat yang ditulis di bawah suara seorang pembicara yang mungkin tidak menyadari bahwa sejarah sedang berlangsung di ujung pena Yamin.

Quote