Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi lll DPR RI Dapil Bali dari fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Parta, menegaskan menjaga marwah Bali bukan sekadar tanggung jawab simbolik, melainkan laku hidup sehari-hari yang dijalani masyarakat (krama) dengan ketulusan dan rasa jengah sebagai kekuatan moral.
Menjaga marwah Bali itu bukan sekadar slogan. Ini tentang ketulusan krama Bali dalam merawat adat, tradisi, dan nilai-nilai leluhur. Ada rasa jengah, rasa malu jika tidak ikut menjaga, yang menjadi kekuatan moral masyarakat Bali, ujar Parta dalam keterangannya dikutip dari media sosial miliknya, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, Bali dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekuatan budayanya yang hidup dan diwariskan lintas generasi. Konsep living culture menjadikan kebudayaan Bali tumbuh dari keseharian masyarakat, bukan sekadar ditampilkan dalam berbagai festival.
Ia menjelaskan bahwa budaya Bali berdiri di atas fondasi filosofi yang kuat seperti Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.
Mengatur jadwal, meluangkan waktu untuk ngayah, itu adalah bentuk perjuangan. Ini bukan hal mudah di tengah tekanan ekonomi dan perubahan zaman, tetapi krama Bali tetap melakukannya dengan penuh kesadaran, jelasnya.