PDI Perjuangan Lamongan Ingatkan Pembangunan PSN tentang Ancaman Banjir di Bengawan Jero

Bengawan Jero merupakan jantung perekonomian lamongan, bahkan menjadi lumbung pangan Nasional.
Kamis, 19 Februari 2026 21:57 WIB Jurnalis - Nurfahmi Budi Prasetyo

Lamongan, Gesuri.id - Siang itu, di sebuah kafe di kawasan suburb kota Lamongan, puluhan pemuda dari Forum Nasional Mahasiswa Lamongan (Fornasmala) berkumpul dalam forum diskusi bertema Sarasehan Sejarah dan Lingkungan

Diskursus ini diinisasi oleh Perkumpulan Studi dan Advokasi untuk Pembaruan Sosial (PSAPS) bersama Rumah Sejarah, membahas tentang Menyibak Nadi Peradaban Sungai: Sarasehan Akbar Prasejarah Jejak Prasasti Canggu 1358 M di Kawasan Bengawan Jero. Hadir juga dalam sarasehan tersebut, elemen masyarakat lain seperti pengurus karangtaruna kabupaten, juga perwakilan komunitas Bengawan Jero dan Bonorowo.

Nama Bengawan Jero mungkin tidak setenar Bengawan Solo, Istilah Bengawan Jero ini merujuk pada kawasan yang lebih kompleks yaitu Bonorowo yaitu kawasan dataran rendah berrawa-rawa yang terhubung dengan sungai di kawasan Bengawan Jero hingga bermuara ke kali mireng di sekitar leran Manyar. Kawasan Bonorowo ini semua berjumlah sekitar 12 Kecamatan di Lamongan, dari Babat, Sekaran, Maduran, Laren, Pucuk, Sukodadi, Karanggeneng Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, dan Glagah.

Dalam peta pengembangan kawasan aglomerasi bernama Gerbang Kertasusila, posisi Bonorowo memiliki peran serta posisi yang vital sebagai faktor utama penunjang kehidupan warga Lamongan dan sekitarnya.

Wakil Ketua Bidang Perekonomian Pendidikan PDI Perjuangan Kab. Lamongan, Supriyo mengatakan secara topografi, Bengawan Jero berada di ketinggian 0,5 - 1,5 mdpl, hal ini yang menyebabkan dataran di Bengawan Jero, kerap di genangi air yang cukup lama sebab air sulit mengalir keluar secara alami ke laut (gravitasi)

Baca juga :