ADA masa ketika menulis satu kalimat saja bisa menjadi tindakan politik.
Bukan karena kalimat itu berisi seruan perang. Bukan pula karena di dalamnya terdapat ancaman kepada penguasa. Tetapi karena sebuah gagasan yang ditulis dengan terang dapat membuat orang mulai membayangkan dunia yang berbeda.
Mohammad Tabrani hidup dalam masa seperti itu.
Pada dekade 1920-an, pemerintah kolonial Belanda tidak hanya berhadapan dengan gerakan yang terang-terangan menuntut kemerdekaan. Mereka juga berhadapan dengan anak-anak muda terpelajar yang mulai membangun kesadaran bahwa Hindia tidak harus selamanya dipandang sebagai kumpulan daerah yang terpisah.
Tabrani berada di antara anak-anak muda tersebut.