Ikuti Kami

Mohammad Tabrani, Anak Muda yang Berani Memberi Nama pada Sebuah Bangsa

Dari Mohammad Tabrani, kita belajar bahwa sejarah tidak selalu dimulai dari orang yang paling berkuasa.

Mohammad Tabrani, Anak Muda yang Berani Memberi Nama pada Sebuah Bangsa
M Tabrani, penggagas pertama Bahasa Indonesia - Foto: Instagram/@Museumsumpahpemuda)

ADA masa ketika Indonesia belum sepenuhnya menjadi sebuah gagasan yang disepakati. Nama daerah masih lebih akrab disebut. Organisasi pemuda berdiri membawa identitas kesukuan: Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, dan berbagai perkumpulan lainnya.

Di tengah suasana itulah seorang anak muda bernama Mohammad Tabrani mengajukan sebuah gagasan yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat jauh ke depan: Bahasa Indonesia.

Tabrani bukan tokoh yang menunggu sejarah menjadi matang. Ia justru ikut membentuknya.

Lahir di Pamekasan, Madura, pada 10 Oktober 1904, Tabrani tumbuh sebagai jurnalis. Pada 1925, ia memimpin harian Hindia Baroe, surat kabar yang kemudian menjadi ruang penting bagi gagasan kebangsaan. Bahkan sebelum Kongres Pemuda I berlangsung, istilah “Bahasa Indonesia” telah ia gunakan dalam tulisannya pada awal 1926. Kompas

Bayangkan keberanian itu.

Pada saat pemerintah kolonial masih menguasai hampir seluruh ruang kehidupan politik, seorang pemuda berusia sekitar 21 tahun berbicara tentang sebuah bangsa yang bahkan secara politik belum berdiri. Ia bukan sekadar membicarakan bahasa. Ia sedang membicarakan identitas.

Bagi Tabrani, bahasa tidak cukup hanya menjadi alat komunikasi. Bahasa harus menjadi pengikat bagi anak-anak Indonesia yang datang dari latar suku, daerah, dan budaya berbeda. Ia melihat persoalan yang mungkin luput dari banyak orang: bagaimana mungkin persatuan dibangun jika tidak ada satu bahasa yang dapat menjadi jembatan bersama?

Kegelisahan itu kemudian dibawa ke ruang yang lebih besar.

Pada Kongres Pemuda I, 30 April–2 Mei 1926, Tabrani dipercaya menjadi ketua. Kongres tersebut mempertemukan berbagai organisasi pemuda yang sebelumnya masih kuat membawa identitas kedaerahan. Tujuannya adalah memperkuat kerja sama dan kesadaran kebangsaan. Emodul

Di forum inilah keberanian intelektual Tabrani terlihat paling jelas.

Ketika muncul gagasan agar bahasa persatuan menggunakan bahasa Melayu, Tabrani tidak sekadar mengikuti arus. Ia berbeda pendapat dengan Mohammad Yamin. Menurut Tabrani, jika tanah air dan bangsa disebut Indonesia, maka bahasa persatuannya pun semestinya bernama Bahasa Indonesia. Kompas

Perdebatan itu tidak langsung menghasilkan keputusan final. Justru di situlah pentingnya Tabrani dalam sejarah.

Ia bersedia mempertahankan gagasannya, meskipun gagasan tersebut belum menjadi konsensus. Badan Bahasa Kementerian Pendidikan bahkan mencatat bahwa usul Tabrani mengenai nama Bahasa Indonesia disepakati untuk dibahas lebih lanjut pada kongres berikutnya. Balaibahasa Papua

Dua tahun kemudian, gagasan itu menemukan momentum historisnya.

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda dan menyatakan bahasa persatuan mereka sebagai Bahasa Indonesia. Dengan demikian, gagasan yang pernah diperjuangkan Tabrani pada Kongres Pemuda I menjadi bagian penting dari fondasi identitas kebangsaan Indonesia. Kompas

Namun, sejarah Tabrani sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar siapa yang pertama menyebut nama Bahasa Indonesia.

Ia menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali bermula dari keberanian mengucapkan sesuatu yang belum populer.

Tabrani masih sangat muda ketika menyampaikan gagasannya. Ia juga hidup dalam situasi kolonial, ketika ruang politik bagi kaum pribumi sangat terbatas. Tetapi keterbatasan zaman tidak membuatnya berhenti berpikir. Ia menggunakan ruang yang dimilikinya—organisasi pemuda, kongres, dan terutama pers—untuk menyebarkan gagasan.

Di sinilah relevansinya bagi Gen Z hari ini.

Ruang perjuangan telah berubah. Tidak lagi hanya ruang rapat, surat kabar, atau gedung kongres. Kini gagasan dapat lahir dari kampus, komunitas, media sosial, kanal digital, hingga ruang politik.

Tetapi tantangannya tetap serupa: berani mempunyai gagasan, berani menyampaikannya, dan berani mempertanggungjawabkannya.

Tabrani mengajarkan bahwa anak muda tidak harus menunggu menjadi tua untuk ikut menentukan arah bangsa. Usia muda bukan alasan untuk diam. Justru pada masa muda, keberanian mempertanyakan sesuatu dan menawarkan gagasan baru dapat menjadi energi perubahan.

Bahasa Indonesia yang kini kita gunakan setiap hari pernah menjadi sebuah gagasan yang harus diperjuangkan.

Dari seorang pemuda bernama Mohammad Tabrani, kita belajar bahwa sejarah tidak selalu dimulai dari orang yang paling berkuasa. Kadang-kadang, sejarah dimulai dari seorang anak muda yang berani mengatakan: kita membutuhkan sesuatu yang baru.

Sumber:

  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen; Kompas.id; Jurnal PERIODE Universitas Negeri Jakarta; Balai Bahasa Provinsi Maluku; dan autobiografi Mohammad Tabrani Anak Nakal Banyak Akal.
  • Vol. 3 No. 2 (2021): PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah - MOHAMMAD TABRANI SOEJOWITIRJTO: PERAN DALAM KONGRES PEMUDA 1925-1928  https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/periode/article/view/46828?utm_source=chatgpt.com 

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote