Gencatan Senjata Saja Tak Cukup: Iran dan Misi Perdamaian Abadi Indonesia

Oleh: Lulusan Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga, pendiri Aliansi Pelajar Surabaya, dan kader PDI Perjuangan, Aryo Seno Bagaskoro.
Rabu, 15 April 2026 15:12 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Dunia dikejutkan dengan serangan bertubi-tubi koalisi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Suatu mimpi buruk yang telah diantisipasi bertahun-tahun lamanya setelah ketegangan antar-proksi dan adu hegemoni yang begitu panjang di antara dua peradaban yang begitu kontras.

Selama berminggu-minggu pasca serangan tersebut terjadi, seluruh dunia diajak untuk menahan napas panjang soal ancaman kenaikan harga minyak dan krisis ekonomi menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Di antara semua itu, military industrial complex yang dirancang menguntungkan kekuatan negara adikuasa tampaknya menjadi satu-satunya pihak yang paling diuntungkan. Hantu kolonialisme dan imperialisme yang selama ini dianggap bergentayangan, menemukan tubuh untuk dirasuki.

Prediksi eskalasi konflik yang dianggap akan segera menobatkan Amerika Serikat sebagai pemenang inti, ternyata terbukti meleset. Gugurnya pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak lantas menuntaskan semangat juang Iran. Perang berlarut-larut merugikan semua pihak.

Publik AS berduyun-duyun turun ke jalan dalam protes No Kings yang ditujukan pada Raja Trump di tengah desakan politik pemilu sela yang riskan bagi citra politik dalam negeri Trump dan partainya. Amerika Serikat akhirnya mengumumkan gencatan senjata, selang beberapa saat setelah Trump mengancam akan membombardir infrastruktur inti dan menghabisi peradaban Iran.

Gencatan senjata ini tentu saja sangat rentan. Beberapa waktu yang lalu, tiga prajurit perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berkebangsaan Indonesia gugur pasca serangan Israel di dekat Adchit Al Qusyar, Lebanon, yang diklaim berdekatan dengan posisi persembunyian pasukan Hizbullah. Indonesia berduka dan bersikap keras dalam forum PBB, mengecam serangan Israel. Namun, kita akan terus menerus dipaksa membayar harga yang terlalu mahal apabila percaya secara naif bahwa potensi tragedi ini tidak akan terjadi secara berulang. Waktu terus berjalan, Indonesia dituntut untuk mengambil sikap. Bukan sekadar sikap reaktif, tetapi sesuatu yang lebih sistemik dan mengakar.

Baca juga :