Pemadaman Bergilir: Alarm Kerentanan Ketahanan Energi Nasional

Oleh: Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Dr.Ir. Daniel Rohi,M.Eng.Sc,IPU.
Kamis, 25 Juni 2026 15:45 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Surabaya, Gesuri.Id - Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah beberapa waktu terakhir tidak boleh dipandang sekadar sebagai gangguan teknis yang bersifat sementara. Di balik padamnya lampu rumah tangga, terganggunya aktivitas usaha, layanan publik, dan kegiatan ekonomi, tersimpan persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu lemahnya manajemen risiko dan rapuhnya ketahanan energi nasional.

Dalam masyarakat modern, listrik telah menjadi kebutuhan dasar yang menentukan keberlangsungan hampir seluruh aktivitas kehidupan. Karena itu, setiap gangguan pasokan listrik dalam skala luas sesungguhnya merupakan alarm yang mengingatkan bahwa terdapat persoalan yang perlu dibenahi dalam tata kelola energi nasional.

Perlu dipahami bahwa pemadaman bergilir atau load shedding bukanlah praktik yang asing dalam sistem ketenagalistrikan modern. Metode ini lazim digunakan operator sistem di berbagai negara untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik ketika sistem menghadapi kondisi darurat. Sebagian beban pelanggan sengaja dilepas agar gangguan tidak berkembang menjadi blackout yang lebih luas. Dengan kata lain, load shedding merupakan instrumen penyelamatan sistem.

Karena itu, perhatian publik seharusnya tidak berhenti pada keputusan melakukan pemadaman bergilir, melainkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa sistem sampai memerlukan langkah tersebut? Sebab load shedding hanya dilakukan ketika pasokan daya yang tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan beban secara keseluruhan.

Berbagai penjelasan berkembang terkait penyebab pemadaman. Ada yang mengaitkannya dengan gangguan pembangkit, sementara penjelasan lain menyebut adanya kendala pasokan energi primer ke sejumlah pembangkit. Tanpa mendahului hasil investigasi resmi, yang jelas pemadaman bergilir menunjukkan adanya kondisi ketika pasokan daya yang tersedia tidak mencukupi untuk melayani seluruh kebutuhan sistem. Jika akar persoalannya berkaitan dengan pasokan energi primer, maka masalahnya tidak lagi semata-mata teknis, melainkan menyangkut perencanaan dan tata kelola energi.

Baca juga :