Jakarta, Gesuri.id - Dalam dua Bulan ini saya sudah menghadiri tiga acara lomba Layang-layang Masceti Kite Festival, Rareangon Kite Festival dan tadi pagi Dwi Tunggal Kite Festival, di Padanggalak, Denpasar, Minggu depan katannya juga akan ada lagi Pelangi Kite Festival.
Bali selama ini dikenal dunia sebagai pulau dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Kita memiliki tari, gamelan, pura, subak, hingga berbagai tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Namun ada satu warisan budaya yang belum mendapatkan perhatian sebesar potensinya, yaitu tradisi melayangan.
Padahal, Bali memiliki komunitas pelayang yang sangat besar. Hampir setiap banjar memiliki sekaa layangan. Kita memiliki layangan Janggan yang ikonik dengan ekor mencapai ratusan meter, Bebean yang anggun, Pecukan yang menantang, hingga tradisi Rare Angon yang menjadi bagian dari kearifan budaya Bali.
Festival layangan Bali bahkan telah dikenal hingga mancanegara. Namun, semua kekayaan ini masih berkembang secara musiman dan tersebar di berbagai lokasi.
Saya ingin mengajak berdiskusi Perlukah Bali memiliki sebuah kawasan permanen yang didedikasikan khusus sebagai pusat kebudayaan layangan, sebagaimana dilakukan Malaysia melalui Bukit Layang-Layang di Pasir Gudang, Johor.