Ikuti Kami

Perlukah Bali Memiliki Kawasan Khusus Layang-Layang Bertaraf Dunia

Oleh: I Nyoman Parta Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.

Perlukah Bali Memiliki Kawasan Khusus Layang-Layang Bertaraf Dunia
I Nyoman Parta Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.

Jakarta, Gesuri.id - Dalam dua Bulan ini saya sudah menghadiri tiga acara lomba Layang-layang  Masceti Kite Festival,  Rareangon Kite Festival dan tadi pagi Dwi Tunggal Kite Festival, di Padanggalak, Denpasar, Minggu depan katannya juga akan ada lagi Pelangi Kite Festival.

Bali selama ini dikenal dunia sebagai pulau dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Kita memiliki tari, gamelan, pura, subak, hingga berbagai tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Namun ada satu warisan budaya yang belum mendapatkan perhatian sebesar potensinya, yaitu tradisi melayangan.

Padahal, Bali memiliki komunitas pelayang yang sangat besar. Hampir setiap banjar memiliki sekaa layangan. Kita memiliki layangan Janggan yang ikonik dengan ekor mencapai ratusan meter, Bebean yang anggun, Pecukan yang menantang, hingga tradisi Rare Angon yang menjadi bagian dari kearifan budaya Bali.

Festival layangan Bali bahkan telah dikenal hingga mancanegara. Namun, semua kekayaan ini masih berkembang secara musiman dan tersebar di berbagai lokasi.

Saya ingin mengajak berdiskusi Perlukah Bali memiliki sebuah kawasan permanen yang didedikasikan khusus sebagai pusat kebudayaan layangan, sebagaimana dilakukan Malaysia melalui Bukit Layang-Layang di Pasir Gudang, Johor. 

Kawasan tersebut bukan sekadar lapangan untuk menerbangkan layangan, tetapi telah berkembang menjadi pusat aktivitas layang-layang nasional dan internasional.

Setiap tahun kawasan ini menjadi tuan rumah Pasir Gudang World Kite Festival, salah satu festival layang-layang terbesar di dunia yang telah berlangsung sejak 1995 dan masuk dalam kalender pariwisata Malaysia.

Yang menarik, pemerintah Johor tidak berhenti pada penyediaan lahan terbuka. Mereka membangun sebuah ekosistem. Di kawasan tersebut terdapat museum layang-layang, ruang pameran, bazar, workshop, arena demonstrasi layangan tradisional maupun modern, fasilitas bagi peserta internasional, hingga ruang publik yang aktif sepanjang tahun.

Artinya, layangan tidak lagi dipandang sebagai kegiatan musiman, tetapi telah menjadi destinasi wisata budaya sekaligus penggerak ekonomi daerah.

Menurut saya, Bali justru memiliki modal budaya yang jauh lebih kuat. Kita memiliki sejarah, filosofi, bentuk layangan yang unik, komunitas Rare Angon yang hidup, serta festival yang telah menjadi identitas masyarakat Bali. Yang belum kita miliki adalah sebuah pusat yang mampu menyatukan seluruh potensi tersebut dalam satu kawasan yang terintegrasi.

Karena itu, saya mengusulkan agar Bali membangun *Bali Kite Cultural Park* atau Taman Budaya Layangan Bali. Kawasan ini bukan sekadar tempat bermain layangan, melainkan pusat pelestarian budaya, pendidikan, penelitian, ekonomi kreatif, dan pariwisata.

Di dalamnya dapat dibangun arena layangan yang dapat digunakan sepanjang tahun, museum layangan Bali, pusat pelatihan dan workshop, sentra UMKM layangan, ruang edukasi bagi pelajar, pusat dokumentasi dan riset, serta arena penyelenggaraan festival internasional.

Keberadaan kawasan seperti ini akan memberikan manfaat yang jauh lebih luas kenapa?. Pertama, tradisi melayangan akan lebih terjaga karena memiliki pusat aktivitas yang hidup sepanjang tahun.

Kedua, kawasan ini akan menjadi laboratorium budaya bagi generasi muda untuk mempelajari sejarah, filosofi, teknik pembuatan, hingga nilai-nilai gotong royong yang melekat dalam tradisi Rare Angon. Ketiga, Bali akan memiliki destinasi wisata budaya baru yang dapat dikunjungi kapan saja, tidak hanya saat musim festival.

Dari sisi ekonomi, dampaknya akan Kawasan ini akan menghidupkan para pengrajin bambu, pembuat layangan, pelukis, penjahit, pelaku UMKM, fotografer, pemandu wisata, penyelenggara acara, hingga sektor perhotelan dan kuliner. Workshop bagi wisatawan, pameran, bazar, museum, dan festival akan menciptakan aktivitas ekonomi sepanjang tahun. Dengan demikian, manfaat tradisi melayangan tidak hanya dirasakan oleh komunitas pelayang, tetapi juga oleh masyarakat luas.

Lebih jauh lagi, dengan posisi Bali sebagai darerah kunjungan wisata , Bali berpeluang menjadi pusat layang-layang dunia. Jika Pasir Gudang mampu membangun reputasi internasional dengan tradisi yang relatif lebih sederhana, harusnya Bali memiliki peluang yang lebih besar karena kekayaan budaya kita jauh lebih beragam.

Tradisi layangan Bali bukan hanya soal teknik menerbangkan layangan, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, spiritualitas, seni rupa, musik tradisional, hingga semangat kebersamaan yang tidak dimiliki banyak daerah lain di dunia.

Saya percaya bahwa budaya akan memiliki masa depan yang kuat apabila mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Karena itu, pembangunan kawasan khusus layang-layang bukan semata proyek infrastruktur, melainkan investasi budaya, investasi ekonomi, dan investasi bagi generasi mendatang. Bagaimana pendapat Semeton?

 

Sumber: baliberkarya.com

 

Quote