Jakarta, Gesuri.id - Gubernur Bali Wayan Koster menjadi pembicara utama (keynote speaker) dalam 5th International Conference on Digital Humanities 2026 yang digelar di Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (18/7/2026). Dalam forum internasional yang diikuti peserta dari 13 negara tersebut, Koster memaparkan strategi pembangunan Bali berbasis budaya pada konferensi bertema “AI, Digital Ethics, and the Future of Geotourism.”
"Saya sangat bangga mendapat kehormatan hadir sebagai pembicara hari ini, karena yang mengundang adalah kampus yang sangat saya banggakan," ungkap Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng, itu.
Dalam sambutannya, Koster mengatakan kehadirannya di forum ilmiah tersebut tidak hanya sebagai pembicara utama, tetapi juga menjadi momen bernostalgia. Gubernur Bali dua periode itu merupakan alumni ITB angkatan 1981 dari Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), yang kini juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Alumni ITB Bali.
"Saya menyelesaikan kuliahnya secara efektif dalam waktu lima tahun, lulus ujian tesis pada Desember 1986, dan diwisuda pada April 1987," katanya.
Konferensi internasional tersebut turut menghadirkan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, sebagai keynote speaker. Kegiatan dibuka oleh Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, dan mempertemukan akademisi, peneliti, serta para pembuat kebijakan dari berbagai negara.
Dekan Sekolah Pascasarjana Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SPITM) ITB, Prof. Ir. Wahyu Srigutomo, S.Si., M.Si., Ph.D., menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi perkembangan teknologi masa depan.
"Kehadiran Bapak Gubernur Bali dan Bapak Sekda Jabar pada forum ini merupakan simbol bahwa perkembangan Artificial Intelligence, Digital Humanities, dan Geotourism memerlukan sinergi yang erat antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Kita berharap kolaborasi ini semakin berkembang," ucap Prof. Wahyu Srigutomo.
Ia menjelaskan, konferensi tahun ini terintegrasi dengan program baru Tech Culture Summer Course yang untuk pertama kalinya diselenggarakan SPITM ITB. Program tersebut memadukan teori dan praktik mengenai artificial intelligence, digital humanities, digital ethics, dan geografi, termasuk kegiatan lapangan ke kawasan Kawah Putih Ciwidey untuk melihat pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan geowisata.
Menurut Wahyu, program tersebut mendapat antusiasme tinggi dengan lebih dari 440 pendaftar dari 46 negara, sebelum akhirnya terpilih peserta dari 20 negara. Setiap peserta diwajibkan menyusun makalah ilmiah dengan pendampingan dosen dan mempresentasikannya dalam konferensi sebagai luaran utama program.
"Mahasiswa tersebut mengangkat kajian komparatif mengenai perbandingan Geowisata di Bali dan di Peru," terangnya saat menjelaskan salah satu presentasi dari peserta asal Kolombia.
Kehadiran Wayan Koster dalam forum internasional tersebut menjadi bukti bahwa model pembangunan Bali berbasis kebudayaan semakin mendapat perhatian di tingkat nasional maupun global. Pendekatan tersebut dinilai mampu menunjukkan bagaimana teknologi, etika digital, dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

















































































