Jakarta, Gesuri.id - Dari konteks etimologi diksi Marhaenisme berasal dari sosok salah seorang petani miskin bernama Marhaen yang berdomisili di Jawa Barat, diperkirakan pertemuan Sang Proklamator dengan Marhaen terjadi sekitar Tahun 1923 Versi informasi lainnya, nama petani yang dijumpai Bung Karno tersebut di daerah sekitar Bandung, Jawa Barat adalah Mang Aen.
Singkatnya, pada pertemuan bersejarah itulah kemudian menjadi inspirasi permenungan atau diyakini sebagai bentuk kontemplasi seorang bapak proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia, dalam menatap kenyataan pahit menimpa negerinya dan sekaligus merasakan hentakan api pemantik opitimisme perjuangan untuk cita-cita kolosal pembebasan bagi masa depan bangsanya, serta harapan tegaknya keadilan pada pergaulan tatanan global.
Dari kesinambungan dialektika pemikiran yang mungkin juga muncul di dalam benak sang Proklamator bahwa, seorang Aen atau Marhaen adalah figur anak bangsa yang memiliki tekad besar dan komitmen tanggung jawab yang kokoh, walaupun kerasnya kehidupan akibat tekanan penindasan yang mencengkram, tapi karena energi semangat kemandirian dan martabat kehormatannya, Marhaen mampu bertahan tanpa sedikit pun kehilangan nilai kearifan identitasnya yang merupakan ciri kekuatan karakter manusia Nusantara.
Sebuah nama yang memiliki konotasi tentang makna perjuangan untuk menuntut harga sebuah pembebasan (emansipasi), itulah Marhaen. Bung Karno telah mengabadikan Marhaen sebagai simbol kebangkitan dan perlawanaan atas segala bentuk penindasan dan arogansi kekuasaan yang buta empati terhadap rasa keadilan dan kemanusiaan. Dan dari kacamata filosofis, diksi Marhaen ekuivalen dengan istilah proletar dalam karya monumental seorang Karl Marx, serta dapat dipastikan pemaknaannya sinonim dengan kosa kata mustadhafin dalam terminologi suci spiritualitas islam.
Dari semua perjalanan itu, juga ada catatan respon toxic dari polusi sinisme di era rezim Orde Baru, pada saat itu diterbitkanlah buku Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai, Kol. (Inf.) Soegiarso Soerojo, salah seorang perwira intelijen pada masa itu mencoba mengingkari ada petani yang memiliki nama Marhaen dan melakukan klaim dengan wacana tandingannya, memaparkan nama tersebut berasal dari akronim Marx-Hegel-Engels. Hal ini sangat jelas telah mengonfirmasi begitu kentalnya upaya glorifikasi wajah militeristik rezim Orde Baru.