Dini Hari yang Menggetarkan, Ketika Tangisan Bayi Menghentikan Laju Sejarah

Botol susu Guntur tertinggal di dapur. Dalam kepanikan, Fatmawati lupa mengangkatnya dari tungku
Senin, 17 Agustus 2026 02:18 WIB Jurnalis - Ali Imron

Dini hari masih pekat. Udara Jakarta lembap dan sunyi, seolah kota pun menahan napas. Di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, lampu minyak masih menyala di ruang tamu. Fatmawati, istri Soekarno, baru saja menyelesaikan sahursebab saat itu masih bulan Ramadhan. Di pangkuannya, Guntur Soekarnoputra, bayi mungil berusia sembilan bulan, terlelap dalam dekap ibunya.

Tak ada yang menyangka bahwa beberapa saat kemudian, ketenangan malam itu akan pecah. Dan tak seorang pun menduga bahwa perjalanan yang akan mengubah sejarah bangsa justru dihentikan oleh tangisan seorang bayi.

Sekitar pukul 04.00 dini hari, sekelompok pemuda bersenjata lengkapdipimpin Sukarni, Wikana, dan Chaerul Salehtiba di kediaman Soekarno. Mereka adalah golongan muda yang gelisah. Kabar kekalahan Jepang dari Sekutu telah sampai ke telinga mereka, dan mereka mendesak agar proklamasi kemerdekaan segera dikumandangkantanpa campur tangan Jepang. Namun Soekarno dan Hatta dianggap terlalu lambat.

Maka mereka mengambil langkah radikal menculik kedua pemimpin bangsa itu.

Hatta dibawa terpisah, seorang diri. Sementara Soekarno, yang sedang ditemani istri dan bayinya, tidak bisa meninggalkan keluarganya. Fatmawati, yang baru saja melahirkan Guntur, menolak ditinggal. Maka dengan tergesa-gesa, tanpa persiapan matang, Soekarno, Fatmawati, dan Guntur yang masih terbungkus selimut bayi ikut serta dalam mobil Fiat hitam yang telah menunggu.

Baca juga :