Ikuti Kami

Dini Hari yang Menggetarkan, Ketika Tangisan Bayi Menghentikan Laju Sejarah

Botol susu Guntur tertinggal di dapur. Dalam kepanikan, Fatmawati lupa mengangkatnya dari tungku

Dini Hari yang Menggetarkan, Ketika Tangisan Bayi Menghentikan Laju Sejarah
Bayi Guntur Soekarnoputra sempat menangis saat diamankan ke Rengasdengklok

Dini hari masih pekat. Udara Jakarta lembap dan sunyi, seolah kota pun menahan napas. Di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, lampu minyak masih menyala di ruang tamu. Fatmawati, istri Soekarno, baru saja menyelesaikan sahur—sebab saat itu masih bulan Ramadhan. Di pangkuannya, Guntur Soekarnoputra, bayi mungil berusia sembilan bulan, terlelap dalam dekap ibunya.

Tak ada yang menyangka bahwa beberapa saat kemudian, ketenangan malam itu akan pecah. Dan tak seorang pun menduga bahwa perjalanan yang akan mengubah sejarah bangsa justru dihentikan oleh tangisan seorang bayi.

Sekitar pukul 04.00 dini hari, sekelompok pemuda bersenjata lengkap—dipimpin Sukarni, Wikana, dan Chaerul Saleh—tiba di kediaman Soekarno. Mereka adalah golongan muda yang gelisah. Kabar kekalahan Jepang dari Sekutu telah sampai ke telinga mereka, dan mereka mendesak agar proklamasi kemerdekaan segera dikumandangkan—tanpa campur tangan Jepang. Namun Soekarno dan Hatta dianggap terlalu lambat.

Maka mereka mengambil langkah radikal menculik kedua pemimpin bangsa itu.

Hatta dibawa terpisah, seorang diri. Sementara Soekarno, yang sedang ditemani istri dan bayinya, tidak bisa meninggalkan keluarganya. Fatmawati, yang baru saja melahirkan Guntur, menolak ditinggal. Maka dengan tergesa-gesa, tanpa persiapan matang, Soekarno, Fatmawati, dan Guntur yang masih terbungkus selimut bayi ikut serta dalam mobil Fiat hitam yang telah menunggu.

Botol susu Guntur tertinggal di dapur. Dalam kepanikan, Fatmawati lupa mengangkatnya dari tungku.

"Berhenti! Bayi Itu Menangis"
Mobil Fiat melaju kencang menembus gelap, meninggalkan Jakarta menuju Rengasdengklok, sebuah desa terpencil di Karawang yang dipilih karena hanya ada satu jalan masuk sehingga mudah diawasi. Para pemuda di dalam mobil tegang. Mereka membawa misi yang menentukan nasib bangsa. Senjata tergenggam. Pikiran dipenuhi strategi dan ketakutan akan kejaran tentara Jepang.

Namun tak lama setelah melewati daerah Bogor, ketegangan itu pecah oleh suara yang sama sekali tak terduga.

Guntur menangis.

Bukan tangis biasa. Bayi sembilan bulan itu menangis tiada henti, keras dan memilukan. Ia lapar. Ia ingin menyusu.

Fatmawati berusaha menenangkan, mengguncang-guncang bayi di pangkuannya, namun Guntur terus meronta. Susu botol yang biasa menjadi makanannya—setengah susu ibu, setengah susu kaleng—tertinggal di dapur rumah. Fatmawati hanya bisa menyusui sendiri.

Di dalam mobil yang penuh sesak, para pemuda saling berpandangan. Mereka adalah revolusioner yang siap mati demi kemerdekaan. Namun di hadapan mereka ada seorang bayi yang kelaparan.

Maka sejarah berhenti. Mobil Fiat itu menepi di pinggir jalan. Para pemuda bersenjata lengkap itu—yang beberapa jam sebelumnya dengan berani menculik dua pemimpin bangsa—kini hanya bisa menunggu dengan canggung di pinggir jalan, sementara Fatmawati menyusui Guntur di dalam mobil.

Truk Tua dan Perjalanan yang Goyah
Setelah Guntur kenyang dan tangisnya reda, rombongan melanjutkan perjalanan. Namun mobil Fiat yang mereka tumpangi harus diganti dengan truk tua yang biasa digunakan untuk mengangkut prajurit PETA (Pembela Tanah Air). Di dalam truk yang berguncang itu, Fatmawati berusaha menghibur Guntur yang kembali gelisah. Jalan menuju Rengasdengklok buruk, berlubang-lubang, dan bergoyang.

Mereka tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 09.00 pagi. Sebuah rumah sederhana milik Djiauw Kie Siong, seorang petani keturunan Tionghoa, telah disiapkan sebagai tempat persembunyian. Keluarga Djiauw diminta mengosongkan rumah mereka dan pindah sementara karena takut tentara Jepang.

Fatmawati masuk sambil menggendong bayi mungilnya. Tatapannya penuh lelah, tapi matanya memancarkan keteguhan.

Kencing di Pangkuan Hatta
Di rumah Djiauw Kie Siong, suasana tegang. Para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan, sementara kedua tokoh tua bersikukuh bahwa proklamasi harus melalui PPKI dan dirumuskan dengan matang.

Namun di tengah perdebatan sengit itu, Guntur kembali menangis keras. Fatmawati bergegas ingin menyusuinya, tapi botol susu—yang sempat tertinggal di mobil Fiat dan kini entah di mana—tak kunjung ditemukan. Ia meminta para prajurit PETA untuk mencarikan botol susu.

Para tokoh yang ada di rumah itu bergantian menggendong Guntur agar berhenti menangis. Namun upaya itu sia-sia. Lalu giliran Mohammad Hatta yang turun tangan. Ia membawa Guntur ke halaman belakang dan memangkunya.

Dan di momen itulah—di tengah perdebatan tentang nasib bangsa—celana Hatta terasa hangat. Guntur telah mengompol di pangkuan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.

Hatta hanya bisa tersenyum. Namun ada masalah: Hatta tidak membawa celana ganti. Ia terpaksa tetap mengenakan celana basah itu sembari menunggu bekas kencing Guntur mengering—dan karena itu, ia tidak bisa melaksanakan salat. Sejarah besar sedang dirumuskan, tetapi di sudut rumah petani itu, seorang proklamator harus rela celananya basah oleh air seni bayi.

Pulang ke Jakarta
Sore harinya, Achmad Soebardjo tiba untuk menjemput Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Kesepakatan telah dicapai proklamasi akan dibacakan keesokan harian, 17 Agustus 1945.

Perjalanan pulang kembali diwarnai tangisan Guntur. Fatmawati berusaha menghibur bayinya di tengah truk yang berguncang. Namun kali ini, tak ada lagi persinggahan. Sejarah tidak bisa dihentikan dua kali.

Malam harinya, setiba di Jakarta, Soekarno langsung bekerja keras merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Fatmawati, yang kelelahan, merawat Guntur di sudut ruangan. Bayi itu akhirnya tertidur—mungkin lelah setelah seharian menjadi pusat perhatian dalam salah satu momen paling genting dalam sejarah bangsa.

Keesokan paginya, 17 Agustus 1945, pukul 10.00, Soekarno membacakan teks Proklamasi di halaman rumah Pegangsaan Timur No. 56. Guntur mungkin ada di sana, dalam gendongan ibunya, menyaksikan—tanpa mengerti—saat ayahnya menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Kisah penculikan Rengasdengklok selalu diceritakan sebagai drama politik: pertarungan antara golongan muda dan tua, desakan revolusi, ketegangan menjelang proklamasi. Namun di balik narasi besar itu, ada detail kecil yang membuat sejarah terasa hidup: seorang bayi yang menangis lapar, dan para pemuda bersenjata yang terpaksa berhenti di pinggir jalan.

Bayi itu bernama Guntur Soekarnoputra. Ia tidak tahu bahwa tangisnya menghentikan laju mobil yang membawa nasib bangsa. Ia tidak tahu bahwa ia mengompol di pangkuan Mohammad Hatta. Ia hanya seorang bayi yang lapar, yang ingin menyusu, dan yang—tanpa disadari—menjadi bagian dari sejarah.

Karena sejarah, pada akhirnya, tidak hanya dibangun oleh pidato-pidato besar dan pertempuran heroik. Ia juga dibangun oleh tangisan bayi di tengah malam, oleh susu yang tertinggal di dapur, dan oleh celana basah seorang proklamator yang hanya bisa tersenyum.

Dan itulah yang membuat sejarah itu nyata. Manusiawi. Dan abadi.

Quote