Jong Java dan Kecurigaan terhadap Jong Sumatranen Bond

Jong Java, sebagai organisasi tertua, mengajukan prinsip badan yang akan dibentuk harus "berdiri atas kebangsaan dan netral terhadap agama
Rabu, 14 Oktober 2026 01:33 WIB Jurnalis - Ali Imron

KETEGANGAN antara Jong Java dan Jong Sumatranen Bond bukanlah ketegangan yang meletus di atas mimbar kongres. Ia adalah ketegangan yang mengendap di lorong-lorong pertemuan, di ruang-ruang rapat tertutup, dan di dalam surat-surat yang saling dikirimkan antar pengurus besar. Dua organisasi ini adalah raksasa dalam pergerakan pemuda: Jong Java, yang lahir pada 1915 sebagai Tri Koro Dharmo dan berganti nama pada 1918, telah menjadi organisasi pemuda terbesar dengan cabang-cabang di hampir seluruh Jawa. Sementara itu, Jong Sumatranen Bond, yang berdiri pada 1917, tumbuh dengan cepat dan mulai menunjukkan taringnya di panggung nasional.

Ketegangan ini menemukan wujudnya yang paling konkret dalam perdebatan tentang badan kontaksebuah lembaga koordinasi yang akan menghubungkan organisasi-organisasi pemuda tanpa harus meleburkan identitas masing-masing. Dalam sebuah pertemuan pada 15 Agustus 1926, disepakati bahwa badan kontak hanyalah langkah awal; fusi yang sesungguhnya masih menjadi cita-cita yang belum tergenggam. Namun, perdebatan tentang siapa yang akan duduk di dalamnya, dan bagaimana suara akan didistribusikan, segera berubah menjadi pertarungan kepentingan.

Jong Java, sebagai organisasi tertua dan terbesar, mengajukan sebuah prinsip yang tampak mulia: badan yang akan dibentuk harus berdiri atas kebangsaan dan netral terhadap agama. Prinsip ini terdengar inklusif. Namun, di baliknya tersimpan sebuah kalkulasi politik yang tidak bisa diabaikan. Jong Java tidak ingin badan kontak itu didominasi oleh organisasi berbasis agama seperti Jong Islamieten Bond. Dengan menetapkan prinsip netral terhadap agama, Jong Java berharap dapat mempertahankan posisi sentralnya sebagai penentu arah pergerakan pemuda.

Namun, Jong Sumatranen Bond melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Ketika Jong Java mengusulkan agar Sekar Roekoenorganisasi pemuda Sundaikut serta dalam badan kontak, JSB menentangnya dengan keras. Alasannya sederhana namun tajam: hampir semua anggota Sekar Roekoen juga merupakan anggota Jong Java. Jika Sekar Roekoen duduk di badan kontak, maka Jong Java akan mendapatkan suara ekstra melalui perwakilan ganda. Dalam sebuah badan di mana setiap organisasi memiliki satu suara, kehadiran Sekar Roekoen berarti Jong Java berbicara dengan dua mulut.

Bagi JSB, ini bukanlah soal teknis semata. Ini adalah soal keadilan dan keseimbangan. Jong Sumatranen Bond, yang telah tumbuh menjadi kekuatan besar dengan tokoh-tokoh seperti Mohammad Yamin dan Mohammad Hatta, tidak ingin didikte oleh sebuah organisasi yang, meskipun lebih tua, tidak memiliki hak istimewa untuk mengendalikan arah pergerakan pemuda. Kecurigaan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa dalam Kongres Pemuda I pada 1926, federasi antara Jong Java dan Jong Sumatranen Bond telah gagal terbentuksebuah kegagalan yang meninggalkan luka dan saling curiga.

Baca juga :