KETEGANGAN antara Jong Java dan Jong Sumatranen Bond bukanlah ketegangan yang meletus di atas mimbar kongres. Ia adalah ketegangan yang mengendap di lorong-lorong pertemuan, di ruang-ruang rapat tertutup, dan di dalam surat-surat yang saling dikirimkan antar pengurus besar. Dua organisasi ini adalah raksasa dalam pergerakan pemuda: Jong Java, yang lahir pada 1915 sebagai Tri Koro Dharmo dan berganti nama pada 1918, telah menjadi organisasi pemuda terbesar dengan cabang-cabang di hampir seluruh Jawa. Sementara itu, Jong Sumatranen Bond, yang berdiri pada 1917, tumbuh dengan cepat dan mulai menunjukkan taringnya di panggung nasional.
Ketegangan ini menemukan wujudnya yang paling konkret dalam perdebatan tentang badan kontak—sebuah lembaga koordinasi yang akan menghubungkan organisasi-organisasi pemuda tanpa harus meleburkan identitas masing-masing. Dalam sebuah pertemuan pada 15 Agustus 1926, disepakati bahwa badan kontak hanyalah langkah awal; fusi yang sesungguhnya masih menjadi cita-cita yang belum tergenggam. Namun, perdebatan tentang siapa yang akan duduk di dalamnya, dan bagaimana suara akan didistribusikan, segera berubah menjadi pertarungan kepentingan.
Jong Java, sebagai organisasi tertua dan terbesar, mengajukan sebuah prinsip yang tampak mulia: badan yang akan dibentuk harus "berdiri atas kebangsaan dan netral terhadap agama". Prinsip ini terdengar inklusif. Namun, di baliknya tersimpan sebuah kalkulasi politik yang tidak bisa diabaikan. Jong Java tidak ingin badan kontak itu didominasi oleh organisasi berbasis agama seperti Jong Islamieten Bond. Dengan menetapkan prinsip "netral terhadap agama", Jong Java berharap dapat mempertahankan posisi sentralnya sebagai penentu arah pergerakan pemuda.
Namun, Jong Sumatranen Bond melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Ketika Jong Java mengusulkan agar Sekar Roekoen—organisasi pemuda Sunda—ikut serta dalam badan kontak, JSB menentangnya dengan keras. Alasannya sederhana namun tajam: hampir semua anggota Sekar Roekoen juga merupakan anggota Jong Java. Jika Sekar Roekoen duduk di badan kontak, maka Jong Java akan mendapatkan suara ekstra melalui perwakilan ganda. Dalam sebuah badan di mana setiap organisasi memiliki satu suara, kehadiran Sekar Roekoen berarti Jong Java berbicara dengan dua mulut.
Bagi JSB, ini bukanlah soal teknis semata. Ini adalah soal keadilan dan keseimbangan. Jong Sumatranen Bond, yang telah tumbuh menjadi kekuatan besar dengan tokoh-tokoh seperti Mohammad Yamin dan Mohammad Hatta, tidak ingin didikte oleh sebuah organisasi yang, meskipun lebih tua, tidak memiliki hak istimewa untuk mengendalikan arah pergerakan pemuda. Kecurigaan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa dalam Kongres Pemuda I pada 1926, federasi antara Jong Java dan Jong Sumatranen Bond telah gagal terbentuk—sebuah kegagalan yang meninggalkan luka dan saling curiga.
Kecurigaan JSB terhadap dominasi Jong Java bukanlah hal yang irasional. Dalam sebuah kongres di mana setiap organisasi datang dengan identitas, kepentingan, dan ambisi masing-masing, pertanyaan tentang siapa yang akan memimpin dan bagaimana suara akan didistribusikan adalah pertanyaan yang sangat sensitif. Jong Java, dengan usia dan ukurannya, merasa berhak memimpin. Jong Sumatranen Bond, dengan pertumbuhan dan ambisinya, merasa berhak untuk tidak dikuasai.
Puncak dari ketegangan ini adalah perdebatan tentang fusi versus federasi. Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), yang menjadi motor penggerak Kongres Pemuda II, menginginkan fusi total: peleburan seluruh organisasi kedaerahan menjadi satu wadah baru yang benar-benar Indonesia. Bagi PPPI, federasi—kerja sama longgar antarorganisasi—hanyalah "menutupi sementara perbedaan etnis dan agama". Namun, Mohammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond justru menentang fusi hingga Kongres Pemuda II berlangsung. Ia lebih memilih federasi di mana setiap perkumpulan pemuda bisa bergerak bebas tanpa aturan yang melekat.
Yamin mengungkapkan keraguannya dengan pertanyaan yang tajam: "Kalau kita mengadakan persatuan, apakah Jong Java yang sudah besar dan mempunyai berbagai kegiatan, seperti kesenian yang bercorak Jawa, akan mau menerima persatuan itu?". Pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia adalah cerminan dari kecurigaan yang mendalam: apakah Jong Java benar-benar bersedia melepaskan identitas kejawaannya, ataukah ia hanya ingin menyerap organisasi lain ke dalam kerangkanya sendiri?
Namun, di tengah semua ketegangan dan kecurigaan itu, ada sebuah momen yang mengubah segalanya. Pada 25–29 Desember 1928, hanya dua bulan setelah Sumpah Pemuda, Jong Java menggelar Kongres XI di Mataram, Yogyakarta. Di forum inilah pertanyaan yang selama ini menggantung akhirnya dijawab. Setelah diskusi panjang sebelum dan selama kongres, Jong Java memutuskan untuk menerima fusi. Keputusan itu diambil dengan 57 suara setuju melawan 21 suara menolak—sebuah keputusan yang oleh sejarawan Miert disebut sebagai "daad van zelfopoffering", tindakan pengorbanan diri. Jong Java, organisasi tertua dan terbesar, rela meleburkan identitasnya ke dalam sesuatu yang lebih besar: Indonesia Muda.
Keputusan ini bukanlah keputusan yang mudah. Ada yang menolak, ada yang menangis, ada yang merasa kehilangan. Namun, mayoritas anggota Jong Java memahami bahwa persatuan bangsa lebih penting daripada kejayaan organisasi. Keputusan Kongres Mataram ini kemudian disambut baik oleh PPPI, Jong Sumatranen Bond, dan Pemuda Indonesia. Jong Sumatranen Bond segera menyatakan akan ikut, diikuti oleh Pemuda Indonesia. Pada 25 Mei 1929, wakil-wakil dari ketiga organisasi itu bertemu di Gedung Indonesische Clubhuis di Jalan Kramat 106, Jakarta, untuk membentuk Komisi Besar Indonesia Muda. Koentjoro Poerbopranoto dari Jong Java duduk sebagai ketua, dengan Mohammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond sebagai wakil ketua.
Ketegangan antara Jong Java dan Jong Sumatranen Bond adalah ketegangan yang produktif. Ia bukan ketegangan yang memecah belah, melainkan ketegangan yang memaksa kedua belah pihak untuk mendefinisikan ulang apa yang mereka perjuangkan. Jong Java belajar bahwa menjadi besar berarti berani berkorban. Jong Sumatranen Bond belajar bahwa menjadi kuat berarti berani bekerja sama. Dan pada akhirnya, keduanya bertemu di titik yang sama: Indonesia.

















































































