Kertas Remuk di Tempat Sampah, Perjalanan Panjang Naskah Proklamasi yang Hampir Hilang

Sayuti Melik meremas-remas naskah bersejarah itu. Ia menggumpalkannya seperti kertas bekas, lalu membuangnya ke tempat sampah
Senin, 17 Agustus 2026 02:21 WIB Jurnalis - Ali Imron

LAMPU minyak di ruang makan rumah Laksamana Tadashi Maeda masih menyala. Di atas meja, secarik kertas bergaris dengan tulisan tangan Soekarno yang cepat dan tegas masih basah oleh tinta. Itulah naskah Proklamasibuah perdebatan sengit antara golongan tua dan muda yang berlangsung sejak malam 16 Agustus.

Namun tak lama kemudian, kertas itu akan diremas, dibuang ke tempat sampah, dan nyaris lenyap ditelan sejarah. Untunglah, ada sepasang mata seorang wartawan yang melihat, dan sepasang tangan yang memungutnya.

Dari Tangan ke Mesin Ketik Lahirnya Dua Versi
Proses perumusan naskah Proklamasi selesai pada pukul 04.00 WIB, 17 Agustus 1945. Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo telah menyepakati redaksi. Soekarno kemudian menuliskannya dengan tangan di selembar kertas.

Namun ada satu masalah: naskah tulisan tangan itu dianggap kurang rapi untuk dibacakan di depan umum. Soekarno pun meminta Sayuti Melikseorang pemuda yang hadir sebagai saksiuntuk mengetik ulang naskah tersebut.

Sayuti Melik duduk di depan mesin ketik. Jari-jarinya menekan tuts satu per satu. Namun ia tidak sekadar menyalin. Sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan keguruan, ia melakukan beberapa perubahan redaksional yang telah disepakati bersama:

Baca juga :