PADA malam 27 Oktober 1928, Lapangan Banteng bukanlah ruang publik yang tenang seperti saat ini. Di salah satu gedungnya, sebuah pertemuan digelar yang kelak menjadi fondasi bagi lahirnya Sumpah Pemuda, dipicu oleh kegelisahan dan tekad para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara.
Rapat pertama Kongres Pemuda II berlangsung pada Sabtu malam, 27 Oktober 1928, pukul 19.30 hingga 23.30 di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB) yang terletak di kawasan Waterloopleinnama lama dari Lapangan Banteng di Weltevreden, Batavia.
Pemilihan lokasi ini bukan tanpa maksud. Berbeda dengan Kongres Pemuda I yang digelar di gedung yang hanya mampu menampung sekitar 100 orang, gedung KJB dipilih karena kapasitasnya yang lebih besar. Rapat malam itu dihadiri oleh sekitar 500 hingga 750 pemuda dari berbagai organisasi, membludak melebihi kapasitas dan menjadi pemandangan yang jarang terjadi di Batavia saat itu.
Lebih dari itu, pemilihan Gedung KJB menyiratkan sebuah pesan ideologis yang kuat. Panitia kongres, menurut penuturan staf Museum Sumpah Pemuda, ingin menyampaikan bahwa semangat persatuan tidak hanya milik satu kelompok agama atau etnis tertentu. KJB sendiri adalah gedung milik Perhimpunan Pemuda Katolik, dan para pastor misionaris yang menaunginya, seperti Pastor Jan Van Rijckevorsel, dikenal memiliki simpati terhadap gerakan kemerdekaan pribumi. Sikap ini terlihat dari keberanian mereka mengizinkan penggunaan gedung untuk kongres yang membahas persatuan dan kebangsaan, di tengah larangan pemerintah kolonial terhadap pertemuan-pertemuan bersifat politik.
Malam itu dibuka oleh Soegondo Djojopoespito, ketua kongres dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Dalam sambutan pembukanya, Soegondo tidak berbicara tentang strategi organisasi atau angka-angka. Ia menyuarakan harapan yang sederhana namun mendalam: agar kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Ia juga menyerukan agar perpecahan di antara anak bangsa segera diakhiri.