Ikuti Kami

Di Balik Pintu Kramat 106: Tionghoa, Rumah Kos, dan Partitur yang Mengguncang Kolonial

Rumah itu bukan milik pemerintah kolonial, bukan milik organisasi pribumi mana pun. Ia adalah milik pedagang kasur keturunan Tionghoa

Di Balik Pintu Kramat 106: Tionghoa, Rumah Kos, dan Partitur yang Mengguncang Kolonial
Rumah itu bukan milik pemerintah kolonial, bukan milik organisasi pribumi mana pun. Ia adalah milik seorang pedagang kasur keturunan Tionghoa

NAMA Sie Kong Lian nyaris tidak pernah disebut dalam buku pelajaran sejarah. Fotonya bahkan tidak dimiliki oleh museum yang berdiri di atas tanah bekas rumahnya. Namun, pada malam 28 Oktober 1928, ketika 82 pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul untuk mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, pria Tionghoa pemilik rumah kos di Jalan Kramat Raya 106 itu adalah orang yang memungkinkan semuanya terjadi.

Rumah itu bukan milik pemerintah kolonial, bukan milik organisasi pribumi mana pun. Ia adalah milik seorang pedagang kasur keturunan Tionghoa yang menyewakan kamar-kamarnya kepada para pelajar dan mahasiswa sejak sekitar tahun 1920-an. Di kamar-kamar itu tinggal Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, Assaat, dan puluhan pemuda lain yang kelak menjadi tokoh bangsa. Pada tahun 1927, rumah itu mulai digunakan secara intensif oleh organisasi-organisasi pergerakan pemuda. Ketika panitia Kongres Pemuda II membutuhkan tempat untuk rapat ketiga—rapat yang paling menentukan—Sie Kong Lian tidak menutup pintunya.

Sejarawan Didi Kwartanada mencatat bahwa jasa Sie Kong Lian bahkan pernah diusulkan untuk mendapatkan penghargaan dari Presiden Sukarno pada tahun 1959, melalui Jo Masdani dari Minahasa, salah satu peserta Sumpah Pemuda. Usulan itu tidak pernah terwujud. Nama Sie Kong Lian tetap tenggelam, bahkan ejaannya pun sempat keliru selama puluhan tahun—tercatat sebagai “Sie Kong Liong” hingga keluarga memberikan ralat pada tahun 2018 bahwa nama yang benar adalah Sie Kong Lian.

Namun, di balik ketiadaan foto dan minimnya dokumentasi itu, ada satu fakta yang tak terbantahkan: tanpa rumahnya, Kongres Pemuda II tidak akan memiliki tempat untuk mencapai puncaknya.

Empat Pemuda yang Duduk di Barisan Peninjau
Di antara peserta kongres, hadir empat pemuda peranakan Tionghoa: Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djin Kwie. Mereka bukan sekadar hadir. Kwee Thiam Hong adalah anggota Jong Sumatranen Bond (JSB), organisasi pemuda Sumatera yang menjadi salah satu pilar kongres. Ia lahir di Palembang, seorang pelajar MULO yang aktif di kepanduan, dan dalam kongres itu ia datang sebagai peserta, bukan sekadar peninjau. Ketiga rekannya hadir sebagai peninjau, tetapi kehadiran mereka tetap menandai sesuatu yang penting: bahwa di ruang yang sedang merumuskan “bangsa Indonesia”, tidak semua yang hadir adalah “pribumi” dalam pengertian kolonial.

Dalam wawancara dengan Kompas pada 25 Oktober 1978, Kwee—yang kemudian berganti nama menjadi Daud Budiman—mengenang momen ketika W.R. Supratman memperdengarkan “Indonesia Raya” dengan biola. “Aduh, dengar lagu itu, hati ini bukan main dah,” katanya sambil memegang dada. Ia juga “merasa tidak melihat ada yang kurang senang dengan adanya pemuda etnis Tionghoa” di kongres itu. Dalam sebuah masa ketika garis etnis ditarik dengan tajam oleh politik kolonial, kesaksian itu adalah bukti kecil bahwa persatuan yang sedang dibangun memiliki ruang untuk mereka yang berbeda.

Sin Po: Ketika Surat Kabar Bumiputra Menolak, Koran Tionghoa Mencetak
Namun, kontribusi Tionghoa tidak berhenti di ruang kongres. Ia berlanjut ke halaman cetak, ke partitur yang menyebarkan “Indonesia Raya” ke seluruh penjuru Hindia Belanda.

Setelah kongres berakhir, W.R. Supratman berusaha menerbitkan lirik dan notasi lagu “Indonesia Raya”. Ia menawarkannya kepada beberapa surat kabar Indonesia, tetapi ditolak. Dalam situasi itu, ia beralih ke Sin Po—surat kabar berbahasa Melayu-Tionghoa yang telah lama menjadi tempatnya bekerja sebagai koresponden. Ia memainkan lagu itu di hadapan Ang Yan Goan, direktur Sin Po. Setelah mendengarnya, Ang Yan Goan menyetujui untuk memuatnya.

Pada 10 November 1928—kurang dari dua minggu setelah kongres—Sin Po edisi mingguan menerbitkan syair dan notasi “Indonesia Raya” secara lengkap. Di bawah judul “Indonesia”, tercetak keterangan: “Rantjangan dari salah satoe lagoe kabangsahan Indonesia jang telah dinjanjiken dalem rapat dari pemoeda-pemoeda Indonesia tanggal 28 October j.l. (jang laloe) di Indonesisch Clubgebouw di Kramat”—sebuah kalimat yang menghubungkan partitur itu secara langsung dengan malam di Kramat 106.

Sin Po tidak hanya mencetak. Atas permintaan Supratman, surat kabar itu juga menjual partitur dalam bentuk lepas, sehingga lagu itu dapat disebarkan secara luas. Tindakan itu melanggar aturan pemerintah kolonial Belanda, yang sejak awal telah melarang penyebaran lagu tersebut. Kwee Kek Beng, pemimpin redaksi Sin Po, menulis kemudian: “Bukan cuma kebetulan bahwa lagu kebangsaan Indonesia Raya... dimuat pertama kali bersama notnya dalam weekblad Sin Po”. Kalimat itu bukan sekadar catatan sejarah; ia adalah pengakuan bahwa pers Tionghoa memainkan peran yang tidak dimainkan oleh pers bumiputra pada saat itu.

Epilog: Yang Tidak Difoto, tetapi Menopang Segalanya
Pada tahun 1973, rumah di Kramat 106 itu diresmikan sebagai Museum Sumpah Pemuda. Di dalamnya tersimpan biola Supratman, foto-foto para pemuda, dan relief yang menceritakan lahirnya ikrar. Namun, foto Sie Kong Lian tidak ada di sana. Namanya pun baru dikoreksi dari “Liong” menjadi “Lian” pada tahun 2018, setelah cucu dan cicitnya aktif mencari informasi tentang kakek mereka.

Sejarawan Hendra Kurniawan dari Universitas Sanata Dharma menyebut keterbatasan dokumentasi ini sebagai “ironi sejarah”: seorang tokoh yang rumahnya menjadi tempat lahirnya Sumpah Pemuda, tetapi wajahnya tidak pernah tercatat. Namun, ia juga menegaskan bahwa fakta ini justru “menambah keberagaman dan bahwa nasionalisme kita dibentuk karena multikulturalisme”.

Malam itu, di bawah atap rumah Sie Kong Lian, empat pemuda Tionghoa duduk di antara para peserta. Dua minggu kemudian, sebuah surat kabar Tionghoa mencetak partitur yang membuat lagu itu dapat dinyanyikan oleh seluruh bangsa. Tidak ada satu pun dari mereka yang berdiri di mimbar utama. Tetapi tanpa rumah yang mereka tempati, tanpa surat kabar yang mereka isi, dan tanpa keberanian untuk tetap hadir di tengah masyarakat yang sedang belajar menjadi satu—ikrar itu mungkin tidak akan pernah sampai ke tangan kita.

 

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote