Pukul 23.00 di Kramat 106: Ketika Biola Itu Berbicara Tanpa Suara

Di tengah keheningan itu, seorang pemuda kurus berusia 25 tahun berdiri dari tempatnya. Namanya Wage Rudolf Supratman.
Selasa, 20 Oktober 2026 03:35 WIB Jurnalis - Ali Imron

Malam itu, 28 Oktober 1928, jarum jam di Gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Batavia, telah melewati pukul 23.00. Rapat ketiga Kongres Pemuda II yang dimulai sejak pukul 17.30 telah mencapai puncaknya: Soegondo Djojopoespito baru saja membacakan Keputusan Pemuda, dan Raden Soerjadi telah memimpin pengucapan ikrar yang kini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Suasana ruangan masih hening, sisa-sisa khidmat dari kata-kata satu nusa, satu bangsa, satu bahasa yang baru saja menggema.

Di tengah keheningan itu, seorang pemuda kurus berusia 25 tahun berdiri dari tempatnya. Namanya Wage Rudolf Supratman. Ia bukan pembicara, bukan ketua, bukan pula tokoh sentral dalam kepanitiaan. Ia adalah wartawan Sin Po yang juga seorang pemusik. Di tangannya, ia menggenggam sebuah biolaalat musik yang telah menemaninya sejak masa muda, ketika ia belajar bermain dari kakak iparnya, W.M. van Eldick, seorang serdadu Belanda. Dengan langkah tenang, ia berjalan ke depan, menghadap para peserta kongres yang telah lelah namun tetap terjaga.

Ia memberi hormat kepada panitia dan hadirin. Lalu, tanpa sepatah kata, ia mengangkat biola itu ke dagunya dan mulai menggesek senarnya.

Tidak ada syair. Tidak ada paduan suara. Hanya melodisebuah alunan yang belum pernah didengar publik sebelumnya, yang kelak akan dikenal oleh seluruh bangsa Indonesia sebagai Indonesia Raya.

Keputusan yang Lahir dari Ketakutan
Mengapa lagu itu dimainkan tanpa lirik? Jawabannya bukan terletak pada pilihan artistik, melainkan pada kalkulasi politik yang pahit. Sehari sebelumnya, Supratman telah menemui Soegondo dan meminta izin untuk memperdengarkan lagu ciptaannya dalam acara penutupan kongres. Soegondo dan rekan-rekannya pada prinsipnya dapat menyetujui permintaan itu. Namun, mereka menghadapi kesulitan dengan pihak kolonial yang dengan ketatnya terus mengawasi kongres.

Baca juga :