Ikuti Kami

Pukul 23.00 di Kramat 106: Ketika Biola Itu Berbicara Tanpa Suara

Di tengah keheningan itu, seorang pemuda kurus berusia 25 tahun berdiri dari tempatnya. Namanya Wage Rudolf Supratman.

Pukul 23.00 di Kramat 106: Ketika Biola Itu Berbicara Tanpa Suara
Di tengah keheningan itu, seorang pemuda kurus berusia 25 tahun berdiri dari tempatnya. Namanya Wage Rudolf Supratman.

Malam itu, 28 Oktober 1928, jarum jam di Gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Batavia, telah melewati pukul 23.00. Rapat ketiga Kongres Pemuda II yang dimulai sejak pukul 17.30 telah mencapai puncaknya: Soegondo Djojopoespito baru saja membacakan Keputusan Pemuda, dan Raden Soerjadi telah memimpin pengucapan ikrar yang kini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Suasana ruangan masih hening, sisa-sisa khidmat dari kata-kata “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa” yang baru saja menggema.

Di tengah keheningan itu, seorang pemuda kurus berusia 25 tahun berdiri dari tempatnya. Namanya Wage Rudolf Supratman. Ia bukan pembicara, bukan ketua, bukan pula tokoh sentral dalam kepanitiaan. Ia adalah wartawan Sin Po yang juga seorang pemusik. Di tangannya, ia menggenggam sebuah biola—alat musik yang telah menemaninya sejak masa muda, ketika ia belajar bermain dari kakak iparnya, W.M. van Eldick, seorang serdadu Belanda. Dengan langkah tenang, ia berjalan ke depan, menghadap para peserta kongres yang telah lelah namun tetap terjaga.

Ia memberi hormat kepada panitia dan hadirin. Lalu, tanpa sepatah kata, ia mengangkat biola itu ke dagunya dan mulai menggesek senarnya.

Tidak ada syair. Tidak ada paduan suara. Hanya melodi—sebuah alunan yang belum pernah didengar publik sebelumnya, yang kelak akan dikenal oleh seluruh bangsa Indonesia sebagai “Indonesia Raya”.

Keputusan yang Lahir dari Ketakutan
Mengapa lagu itu dimainkan tanpa lirik? Jawabannya bukan terletak pada pilihan artistik, melainkan pada kalkulasi politik yang pahit. Sehari sebelumnya, Supratman telah menemui Soegondo dan meminta izin untuk memperdengarkan lagu ciptaannya dalam acara penutupan kongres. Soegondo dan rekan-rekannya “pada prinsipnya dapat menyetujui” permintaan itu. Namun, mereka menghadapi “kesulitan dengan pihak kolonial yang dengan ketatnya terus mengawasi kongres”.

Jika “Indonesia Raya” dinyanyikan lengkap dengan ketiga bait syairnya, “sudah pasti polisi kolonial akan melarangnya dan akan mengacaukan kongres”. Maka, sebagai jalan keluar, diputuskan bahwa lagu itu “tetap akan diperdengarkan dalam acara penutupan kongres, hanya saja tanpa menyanyikan syairnya”. Supratman “dapat memahami, dan bersedia untuk secara pribadi memperdengarkan INDONESIA RAYA dengan biola yang digeseknya sendiri”.

Keputusan ini juga melibatkan Van der Vlaas, wakil dari Kantor voor Inlandsche Zaken, yang “berkeberatan lagu Indonesia Raya dibawakan lengkap” dan hanya mengizinkan “lagunya saja tanpa syair”. Soegondo kemudian kembali kepada Supratman yang “masih menanti dengan wajah tegang”, dan setelah mendapat penjelasan, Supratman “berjanji hanya akan memperdengarkan lagu itu dengan biola dan tidak dengan syairnya”.

Dengan kata lain, malam itu, “Indonesia Raya” lahir di hadapan publik bukan sebagai nyanyian, melainkan sebagai instrumental—sebuah kompromi yang menyelamatkan kongres, tetapi juga menunda momen ketika lagu itu bisa dinyanyikan dengan penuh.

Suasana yang Berubah dalam Hitungan Detik
Ketika Supratman mulai menggesek biolanya, “suasana jadi hening”. Para peserta yang sebelumnya mungkin masih diliputi ketegangan perdebatan, atau kelelahan setelah berjam-jam rapat, tiba-tiba “terpukau sejenak dalam keharuan”. Alunan melodi itu—yang belum pernah mereka dengar, tetapi entah bagaimana terasa akrab—mengisi ruangan Indonesische Clubgebouw dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh pidato mana pun.

R. Soeharto, seorang pemuda yang tinggal di gedung itu dan menyaksikan langsung peristiwa tersebut, mengenang bahwa “petugas-petugas PID (Politieke Inlichtingen Dienst) yang juga hadir dan biasanya sangat mengganggu rapat-rapat pemuda dengan tegoran-tegorannya, tampak diam”. Ia menambahkan: “mungkin karena tidak dapat menangkap dengan cepat maknanya, mungkin juga karena ikut terharu”. Bahkan aparat kolonial yang tugasnya mengawasi dan meredam setiap benih nasionalisme tidak mampu berbuat apa-apa ketika melodi itu mengalun. Mereka mungkin tidak memahami liriknya—karena liriknya tidak dinyanyikan—tetapi mereka merasakan sesuatu yang tidak bisa mereka catat dalam laporan.

Ketika gesekan terakhir biola memudar, “suara hening itu mendadak dipecahkan gegap-gempita tepuk tangan dan sorak-sorai segenap hadirin”. Suasana haru berubah menjadi ledakan kegembiraan. “Seolah-olah hendak meledaklah dada para patriot kita waktu itu karena irama INDONESIA RAYA yang bagaikan irama sakti”. Supratman sendiri “dengan senyum-senyum dan mata berkaca-kaca menerima ucapan selamat dan pelukan para hadirin”.

Setelah Biola Berhenti: Dari Instrumental Menjadi Lagu Kebangsaan
Momen itu tidak berakhir ketika Supratman menurunkan biolanya. “Saat itu juga, panitia dan semua peserta kongres sepakat untuk menetapkan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan”. Keputusan itu bukanlah keputusan formal yang tercatat dalam agenda kongres—Sumpah Pemuda tetap menjadi keputusan utama—tetapi ia adalah konsekuensi moral dari apa yang baru saja terjadi. Para pemuda itu mendengar sesuatu yang membuat mereka percaya bahwa bangsa ini layak memiliki sebuah lagu.

Namun, perjalanan “Indonesia Raya” setelah malam itu tidaklah mudah. Pada Mei 1929, lagu itu “untuk pertama kalinya dibawakan dengan iringan band lengkap saat Kongres PNI yang kedua”. Ketika lagu itu semakin sering dinyanyikan dan liriknya mulai dikenal, Belanda merasa terusik dan “melarang untuk menyanyikan lagu tersebut pada tahun 1930”. Larangan itu memicu protes dari berbagai pihak, hingga Dewan Rakyat (Volksraad) turun tangan dan menghapuskan larangan tersebut—dengan catatan “menghilangkan bagian ‘merdeka, merdeka’”.

Lirik lagu itu sendiri baru dipublikasikan secara luas “tepatnya pada 10 November 1928” dalam koran Tionghoa Sin Po edisi mingguan. Publikasi ini memungkinkan lagu itu menyebar ke seluruh penjuru Hindia Belanda, jauh melampaui ruangan Kramat 106 tempat ia pertama kali diperdengarkan.

Biola yang digunakan Supratman malam itu kini tersimpan di Museum Sumpah Pemuda. Ia “tidak dipamerkan bersama koleksi museum lainnya” karena alasan keamanan—nilainya “tidak terukur” sebagai saksi sejarah. Biola itu adalah buatan Nicolaus Amateus Fecit, terbuat dari tiga jenis kayu: cyprus (jati Belanda) untuk papan depan, maple Italia untuk papan samping, belakang, leher, dan kepala, serta eboni Afrika Selatan untuk bagian senar holder dan penggulung senar. Selama bertahun-tahun, biola itu dirawat oleh Idris Sardi, maestro biola Indonesia, yang datang sebulan sekali untuk membersihkannya dengan minyak kayu putih.

Pada pukul 23.00, 28 Oktober 1928, biola itu berbicara tanpa suara. Ia tidak menyanyikan kata “merdeka”. Ia tidak menantang polisi kolonial dengan lirik yang berbahaya. Ia hanya mengalunkan sebuah melodi—dan melodi itu cukup untuk membuat seorang Soegondo menahan napas, seorang Soeharto terharu, dan puluhan aparat PID terdiam. “Indonesia Raya” lahir malam itu bukan sebagai teks, melainkan sebagai getaran senar—dan getaran itulah yang, untuk pertama kalinya, membuat sebuah bangsa mendengar dirinya sendiri.

Quote