Ikuti Kami

Sumpah Pemuda dan Jalan Panjang Keadilan: Dari Mesuji untuk Indonesia

Oleh: Desta Ardiyanto, S.Pi., M.Ling, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten. Mesuji, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Mesuji.

Sumpah Pemuda dan Jalan Panjang Keadilan: Dari Mesuji untuk Indonesia
Desta Ardiyanto, S.Pi., M.Ling, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten. Mesuji, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Mesuji.

Jakarta, Gesuri.id - Setiap 28 Oktober, kita memperingati Sumpah Pemuda sebagai tonggak penting perjalanan bangsa Indonesia. Pada 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang menyadari bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun cita-cita bersama. Mereka menyatukan tekad tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Hari ini, hampir satu abad kemudian, semangat itu perlu kita maknai lebih jauh. Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana menjaga persatuan, tetapi bagaimana memastikan persatuan tersebut menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Bagi saya, Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan atau romantisme sejarah. Ia harus menjadi pengingat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan bangsanya sesuai tantangan zaman.

Tanggung jawab sejarah itu harus dimulai dari tempat kita berpijak. Di Kabupaten Mesuji, kita melihat potensi pertanian, perkebunan, dan sumber daya manusia yang sangat besar untuk menjadi kekuatan pembangunan. Namun, kita harus jujur melihat kenyataan bahwa kekayaan potensi tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan apabila tata kelola ekonomi belum sepenuhnya berpihak pada warga lokal. Masih ada pekerjaan besar untuk memastikan petani memperoleh penghidupan yang layak, UMKM berkembang, infrastruktur mendukung aktivitas ekonomi, dan generasi muda memiliki kesempatan membangun masa depan di daerahnya sendiri. Kita tidak boleh mengukur kemajuan hanya dari pembangunan fisik atau besarnya investasi. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah kehidupan masyarakat semakin baik, apakah kesempatan semakin terbuka, dan apakah hasil pembangunan dirasakan secara adil. Sebab, nasionalisme bukan hanya tentang seberapa lantang kita mengucapkan cinta tanah air, melainkan seberapa sungguh-sungguh kita memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat di tanah air sendiri.

Persoalan Mesuji sesungguhnya berkaitan erat dengan tantangan pembangunan Provinsi Lampung dan Indonesia secara keseluruhan. Lampung memiliki posisi strategis sebagai gerbang Sumatra serta potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan perdagangan. Tantangan kita adalah mengubah potensi tersebut menjadi nilai tambah yang dinikmati masyarakat luas. Petani, misalnya, tidak boleh terus-menerus terjebak pada posisi paling lemah sebagai penghasil bahan mentah, sementara nilai tambah terbesarnya justru dinikmati di luar daerah. Untuk memutus mata rantai ketimpangan itu, koperasi, UMKM, industri pengolahan di tingkat lokal, ekonomi kreatif, dan teknologi harus disatukan sebagai strategi memperkuat kedaulatan ekonomi rakyat. Pada saat yang sama, anak-anak muda perlu mendapatkan akses pendidikan, keterampilan, permodalan, dan kesempatan berusaha. Karena itu, pembangunan tidak bisa dikerjakan secara terpisah. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, dan masyarakat harus berjalan bersama agar pertumbuhan ekonomi benar-benar menjadi jalan menuju kesejahteraan.

Dalam membicarakan kesejahteraan rakyat, ada satu persoalan mendasar yang tidak boleh kita abaikan, yaitu keadilan agraria. Pengalaman saya dalam gerakan mahasiswa, termasuk ketika dipercaya menjadi Ketua DPC GMNI Bogor dan Presidium Pusat GMNI dengan tanggung jawab di bidang Komite Reforma Agraria, membentuk pandangan bahwa persoalan tanah tidak semata-mata menyangkut administrasi atau kepemilikan. Di dalamnya terdapat persoalan penghidupan, kepastian hukum, hubungan sosial, dan masa depan keluarga. Bagi petani, tanah merupakan sumber kehidupan yang menentukan kemampuan mereka menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membangun masa depan. Karena itu, reforma agraria tidak boleh berhenti pada penataan administrasi, tetapi harus menyentuh penyelesaian konflik secara adil, perlindungan hak konstitusional masyarakat, serta pembukaan akses terhadap sumber penghidupan. Di Mesuji dan berbagai wilayah Lampung, arus investasi serta pembangunan pertanian dan perkebunan tidak boleh meminggirkan ruang hidup warga; ia wajib berjalan di atas penghormatan terhadap hak yang sah dan kepentingan masyarakat. Bagi saya, pembangunan yang mengabaikan keadilan hanya akan menyisakan pertumbuhan tanpa pemerataan. Tanah air bukan sekadar wilayah yang kita banggakan, melainkan ruang hidup yang harus memberi kesempatan kepada rakyat untuk berdiri dengan bermartabat.

Persoalan-persoalan tersebut juga menjelaskan mengapa pemuda tidak boleh ditempatkan hanya sebagai penonton pembangunan. Perjalanan saya dalam gerakan mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan politik mengajarkan bahwa idealisme harus memiliki jalan untuk diwujudkan. Dalam pengalaman pengabdian sebagai Ketua DPP KNPI dan fungsionaris Pengurus Pusat GP Ansor, saya melihat besarnya energi generasi muda sekaligus pentingnya memberikan ruang yang nyata bagi mereka untuk berkontribusi. Pemuda tidak cukup hanya hadir dalam demonstrasi, diskusi, atau peringatan seremonial. Negara harus membuka ruang yang luas, dan pemuda harus berani tampil mengambil peran dalam penyusunan kebijakan, pengawasan anggaran, pengembangan ekonomi masyarakat, pendidikan politik, hingga penyelesaian persoalan nyata di lingkungannya. Kritik tetap diperlukan, tetapi kritik harus disertai gagasan dan keberanian menawarkan solusi. Kita membutuhkan pemuda yang kritis tanpa kehilangan kesantunan, berani tanpa gegabah, dan teguh pada prinsip tanpa merasa paling benar. Mereka bukan sekadar pelengkap kegiatan atau alat mobilisasi politik, melainkan kekuatan strategis yang harus diberi kesempatan untuk memimpin dan menciptakan perubahan.

Tentu, tantangan generasi muda hari ini berbeda dari tantangan yang dihadapi para pemuda pada 1928. Perkembangan teknologi, persaingan ekonomi global, perubahan dunia kerja, dan derasnya arus informasi menuntut generasi muda untuk terus belajar dan beradaptasi. Kita membutuhkan anak muda yang menguasai ilmu pengetahuan, mampu berpikir kritis, serta berani menciptakan inovasi. Namun, kemajuan tidak boleh membuat kita kehilangan kepekaan terhadap persoalan masyarakat. Kita boleh berbicara tentang ekonomi digital dan kecerdasan buatan, tetapi jangan melupakan petani yang membutuhkan teknologi tepat guna atau anak-anak yang masih berjuang mendapatkan pendidikan berkualitas. Pemuda yang maju bukanlah pemuda yang tercerabut dari akar sosialnya, melainkan mereka yang mampu berpikir global tanpa melupakan persoalan di kampung halamannya. Di sinilah pendidikan, penguasaan teknologi, penguatan karakter, dan pemerataan kesempatan harus berjalan beriringan. Kemajuan bangsa tidak cukup ditentukan oleh siapa yang paling cepat menguasai teknologi, tetapi juga oleh siapa yang mampu menggunakannya untuk memperbaiki kehidupan manusia.

Kemampuan membangun masa depan juga sangat bergantung pada kesanggupan kita merawat persatuan. Mesuji, Lampung, dan Indonesia merupakan ruang hidup bagi masyarakat dengan latar belakang budaya, tradisi, dan pandangan yang beragam. Perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk saling merendahkan. Dalam demokrasi, kita boleh berbeda partai, berbeda pendapat, dan berbeda cara memperjuangkan gagasan. Namun, perbedaan tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap sesama warga negara. Persatuan bukan berarti semua orang harus berpikir sama, melainkan kesediaan untuk tetap bekerja bersama demi kepentingan yang lebih besar. Bagi saya, semangat Sumpah Pemuda justru diuji ketika kita berhadapan dengan perbedaan yang nyata. Apakah kita memilih memperlebar pertentangan, atau mencari jalan untuk menyelesaikan persoalan bersama? Rakyat tidak membutuhkan pertengkaran politik tanpa ujung. Rakyat membutuhkan pendidikan yang lebih baik, pelayanan publik yang berkualitas, ekonomi yang kuat, dan pembangunan yang adil. Persatuan akan memiliki makna ketika masyarakat merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai kader PDI Perjuangan dan Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Mesuji, saya memandang politik harus menjadi jalan pengabdian, bukan sekadar sarana memperoleh kekuasaan. Pemikiran Bung Karno tentang persatuan nasional dan keberpihakan kepada rakyat kecil tetap relevan sebagai pengingat bahwa pembangunan harus diarahkan pada terwujudnya keadilan sosial. Dalam kerja di parlemen daerah, prinsip ideologis tersebut harus diterjemahkan melalui pembentukan peraturan daerah dan politik anggaran yang tajam menjawab kebutuhan masyarakat. Peraturan daerah tidak boleh berhenti sebagai dokumen hukum yang kaku di atas kertas, melainkan harus menjadi instrumen untuk memperbaiki tata kelola, memperkuat pelayanan publik, dan membuka kesempatan yang lebih adil bagi rakyat kecil. Namun, peraturan yang baik tidak akan berarti banyak tanpa pelaksanaan yang konsisten, pengawasan, dan partisipasi masyarakat. Karena itu, tanggung jawab politik tidak selesai ketika sebuah kebijakan disahkan. Ukurannya adalah sejauh mana kebijakan tersebut dijalankan dan memberikan manfaat nyata bagi rakyat. Jabatan adalah amanah, sedangkan keberhasilan pengabdian harus dinilai dari perubahan yang dirasakan masyarakat.

Dari sinilah kita perlu merefleksikan kembali makna Sumpah Pemuda bagi generasi sekarang. Sudahkah pemuda memperoleh ruang yang cukup untuk berkembang? Sudahkah petani mendapatkan kesempatan yang adil untuk meningkatkan kesejahteraan? Sudahkah pembangunan membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat di daerah? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan satu pihak, melainkan untuk mengingatkan bahwa pekerjaan membangun bangsa belum selesai. Pemerintah harus terus memperbaiki kinerja, dunia usaha perlu memperluas kesempatan, organisasi kepemudaan harus meningkatkan kualitas pengabdian, dan lembaga perwakilan harus menjaga kepercayaan rakyat. Di saat yang sama, kita sebagai kaum muda perlu terus merawat ketajaman pikiran dan ketekunan: menghidupkan kembali tradisi membaca, berdiskusi secara sehat, berorganisasi, bekerja keras, dan menghargai proses. Kita tidak boleh hanya fasih mengkritik dari kejauhan, tetapi enggan turun tangan terlibat dalam penyelesaian masalah. Kita juga tidak boleh hanya bermimpi besar, tetapi mengabaikan kerja-kerja kecil yang menjadi fondasi perubahan. Masa depan bangsa dibentuk oleh keberanian mengambil tanggung jawab, baik oleh mereka yang berada dalam kekuasaan maupun mereka yang mengabdi di tengah masyarakat.

Saya ingin Mesuji tumbuh sebagai daerah yang memberi harapan kepada generasi mudanya, Lampung berkembang dengan ekonomi yang semakin kuat dan merata, serta Indonesia maju tanpa meninggalkan rakyat kecil. Cita-cita itu tidak akan tercapai hanya melalui pidato atau kebijakan di atas kertas. Ia membutuhkan kerja bersama, tata kelola yang baik, keberanian memperbaiki kekurangan, dan komitmen untuk menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Perubahan bisa bermula dari petani muda yang mengembangkan cara bertani lebih baik, pelaku UMKM yang menciptakan lapangan kerja, guru yang mendidik dengan sepenuh hati, atau pemuda yang memilih mengabdikan ilmunya untuk kampung halaman. Tidak semua orang harus memulai perubahan dari jabatan besar. Yang terpenting adalah kesediaan mengambil peran sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing. Jika ruang-ruang pengabdian tersebut tumbuh dan saling terhubung, potensi daerah akan lebih mudah berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan sosial yang nyata.

Pada akhirnya, hampir satu abad setelah Sumpah Pemuda diikrarkan, tantangan kita bukan sekadar menjaga Indonesia tetap satu, tetapi memastikan persatuan itu menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat. Kita harus berani melawan ketidakadilan, memperluas kesempatan, menjaga keberagaman, dan memperkuat demokrasi yang berpihak pada kepentingan umum. Mencintai Indonesia berarti memperjuangkan agar rakyatnya hidup lebih bermartabat. Mencintai Mesuji berarti tidak berhenti membicarakan potensi daerah, tetapi ikut mencari jalan agar potensi tersebut menjadi kesejahteraan bersama. Dan menjadi pemuda berarti tidak menyerahkan seluruh pekerjaan masa depan kepada generasi berikutnya, sementara kita sendiri memilih diam hari ini. Kita mungkin tidak hidup pada masa para pemuda mengikrarkan sumpahnya pada 1928, tetapi kita hidup pada masa ketika semangat itu kembali dibutuhkan. Sumpah Pemuda bukan hanya tentang bagaimana Indonesia dilahirkan sebagai satu bangsa, melainkan juga tentang bagaimana kita memastikan Indonesia tetap layak diperjuangkan oleh generasi yang akan datang. Dari Mesuji untuk Lampung, dari Lampung untuk Indonesia, mari kita rawat persatuan, tegakkan keadilan, dan pastikan kemerdekaan semakin bermakna bagi seluruh rakyat.

Selamat Hari Sumpah Pemuda.
Berbeda dalam gagasan, bersatu dalam pengabdian, berpihak pada rakyat.

Quote